Mental Creativepreneur

Mental Creativepreneur
Oleh
Yons Achmad*

Semalam saya tak sengaja dengerin radio bisnis Pass Fm 92,4. Ada cerita tentang sales “gila”. Dia nawarin barang, baru tawaran ke 18 dibeli konsumen. Saat pertama kali nawarin barang ke orang diusir sama pembantu rumah, kedua, pintu dibanting pemilik rumah, ketiga dilepasin anjing penjaga, kedelapan belas baru dibeli. Fiuhhh.

Anda percaya cerita itu? Saya kira percaya atau tidak bukan masalah penting. Yang patut direnungkan adalah pesan moralnya. Menjual alias jual beli mungkin satu jalan untuk mendapatkan kesejahteraan, penghidupan yang layak. Namun menjual. Aha. Pertama kali mendengar kata itu mungkin kita sudah eneg duluan. Saya juga begitu dulu sebelum terjuan ke dunia bisnis. Sekarang, pelan-pelan saya akrab dengan kata itu. Ya menjual.

Ia bisa dijadikan ladang penghasilan.

Lalu. Jualan apa yang asyik? Tentu jualan sesuatu yang kita suka, kita bisa dan tentu saja berpotensi digemari dan dibutuhkan publik. Di era bisnis kreatif sekarang ini apapun bisa kita jual, asalkan punya sesuatu yang sebut saja dengan istilah mental cerativeprenuer. Mental para pebisnis kreatif. Mental creativepreneur ini konkritnya mental seorang pebisnis kreatif yang dengan ide-ide kreatifnya bisa menjual karya yang dibuatnya. Baik sendiri maupun secara tim. Gaya banget ya sok bikin definisi he he. Jelasnya begini:

1. Mempunyai ide bisnis kreatif

Ide bisnis adalah modal utama. Sekarang ini, modal uang memang perlu tapi tanpa ide uang akan habis bukan untuk aktivitas produksi tapi konsumsi. Mirip saat saya dulu kerja kantoran. Uang gajian tak lain tak bukan untuk dikonsumsi. Tiap bulan selalu begitu. Habis melulu. Memang, kudunya ditabung terus investasi. Nah, itu baru bagus. Teorinya begitu. Tapi rencana tinggal rencana, uang amblas terus.

Terus. Pas keluar kerja kantoran saya mikir. Lama banget sih mikirnya mau bisnis apa. Akhirnya bikin lembaga Komunikata (konsultan media). Gagal total. Terus ganti brand dengan Kanetwork Indonesia biar lebih nampak berkesan corporate. Inilah ide bisnis saya sampai sekarang

2. Menguangkan ide bisnis kreatif

Lalu saya mikir gimana cara menguangkan ide. Saya nawarin ke berbagai perusahaan kalau-kalau mereka butuh dibikinkan majalah, ngisi training, workshop dll. Hasilnya lumayan. Hanya saja, disini saya dan tim masih belum maksimal dalam pemasaran. Saya baca buku Tung Desem Waringan kalau tak salah judulnya “Marketing Revolution” . Disitu dia bilang inti bisnis adalah PENAWARAN, bukan kantor yang megah. Aha. Cocok, apalagi usaha jasa. Saya praktekkan, bener juga. Mirip sales “gila” diatas. Yah, 10 penawaran, minimal 1-2 dapet cukup, syukur lebih.

3. Menjual produk kreatif

Terakhir, jual produk. Kalau yang 1 & 2 tadi sifatnya mengandalkan kemampuan profesionalitas, skill, ide dan bergantung pada banyak sedikitnya klien. Maka, langkah selanjutnya adalah buat produk.

Saya, siapkan produk semacam kaos, PIN, CD, buku/modul workshop untuk dijual. Jadi misalnya ada pameran, bazar, kopdar, pelatihan/workshop barang-barang itu ikut dijual. Kalau lagi tak ada event, barang-barang itu nampang di toko online.

Saya tak tahu apa langkah saya dan tim ini akan sukses atau tidak. Tapi saya yakin ada hasilnya. Pelan2 udah kelihatan sih. Yang penting terus bergerak dan berusaha. Kini, saya belum berani mempublikasikan tulisan ini ke berbagai media. Cukup nampang di blog saya dulu. Kalau ada saran demi kebaikan boleh dech. Di tunggu bos :) Traktir belakangan :-). Omong2 gimana bisnismu kawans?


*Penulis lepas. CEO Kanetwork Indonesia

0 Response to "Mental Creativepreneur"