Sabtu, April 05, 2014

Kucing Kiriman Tuhan



Kucing Kiriman Tuhan
:Yons Achmad*

Si Cengkie. Begitu kami menyebutnya. Kucing yang datang ke rumah kontrakan kami. Datang begitu saja. Tinggal begitu saja. Kami tak tega menolaknya. Perutnya buncit, seperti sedang hamil. Itu sebabnya “perikehewanan” kami tersentuh. Ya sudah, kami biarkan kucing kecil itu tinggal bersama kami. Barangkali itu memang kucing kiriman Tuhan. Barangkali.

Untuk apa? Siapa tahu untuk menguji kehidupan kami. Ah terlalu berlebihan ya.

Tidak juga sih. Barangkali, cerita tentang kucing itu hal yang biasa saja. Toh, banyak juga keluarga yang memelihara kucing. Memberinya makan setiap hari dan memperlakukannnya dengan sepenuh cinta. Nah, kehadiran  Si Cengkie, dalam keluarga kami setidaknya juga menyisakan sedikit cerita.

Namanya juga kucing, dia tentu tidak sama dengan makhluk yang namanya manusia. Dibilangin sesuatu bisa mendengar. Komunikasinya melalui bahasa. Tapi bagaimana dengan kucing? Bagaimana kita sebagai manusia menyatakan suka atau tidak suka, bagaimana bilangin ini itu pada si kucing? Tentu ini sebuah masalah tersendiri.

Dan, dengan sendirinya, kami belajar tentang apa itu arti kesabaran

Misalnya, saat kami enak-enakkan tidur, tiba-tiba Si Cengkie mendusel di kasur kami.  Terang saja, kami sering marah ketika kucing kami melakukan tindakan itu. Tapi, apa perilaku si kucing? Dia nggak pergi, dia malah ngeliatin kita. Dengan mata yang memelas. Akhirnya, kami tidak tegas mengusirnya.

Begitu juga kalau misalnya istri saya sedang masak. Si Kucing suka menganggu, ngusilin.  Yang membuatnya kesal. Tapi, lagi-lagi muka memelas, dengan tatapan sayu mata sang kucing bikin istri saya luluh.

Sebenarnya, istri saya takut dengan semacam “Penyakit” dari sang kucing yang berbahaya bagi kandungan seorang perempuan yang sedang hamil (Walau istri saya sebenarnya belum hamil). Entah apa tepatnya saya kurang tahu.  Istri saya yang orang kesehatan yang lebih tahu. Itu yang membuat kami hati-hati.

Tapi, akhirnya, biarlah Si Cengki hidup bersama kami.  Sama-sama hidup di rumah kontrakan kami. Kami makan, dia juga makan sama seperti yang kami makan. Yang kami harapkan, semua akan baik-baik saja. Toh, darinya kami juga bisa belajar tentang kesabaran. Yang tentu saja sifat demikian sangat berguna bagi kehidupan kami sekarang, juga masa depan.

Slipi. Sabtu 5 April 2014 pukul 03.15

*Penulislepas, tinggal di Jakarta

Senin, Maret 31, 2014

Rumah Cinta Pertama



Rumah Cinta Pertama
:Yons Achmad*

Suatu saat dalam sejarah cinta
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu
Yang kita punya

(Anis Matta)

Setelah berumah tangga, kau mungkin akan teringat, saat pertamakali menempati rumah pertama. Entah itu rumah sendiri, atau rumah kontakan. Begitulah. Kita akan selalu mengingatnya. Kita akan selalu mengenangnya. Barangkali, akan teringat kembali cerita duka yang pernah kita alami dulu. Namun, sesudahnya, kita akan dipenuhi senyum.

Seperti pasangan dalam ikatan pernikahan, saya juga mengalami. Sebuah cerita yang rada menyedihkan. Layaknya pengantin baru, tentunya menginginkan tempat tinggal sendiri, lepas dari orang tua. Sekecil apapun tempat tinggal yang kita diami nantinya, alangkah nikmatnya kalau sudah pisah dari orang tua. Ini adalah wujud kemandirian dalam berumah tangga. Dengan gagah, kami berdua pun mendeklarasikannya. Ya, kami akan tinggal sendiri, tidak tergantung pada orang tua.

Tapi, mencari tempat tinggal gampang-gampang susah. Sewaktu bujangan barangkali kita cukup tinggal di kamar kos. Ukuran 3x3 Meter sudah cukup untuk tempat tinggal, untuk tidur sekaligus untuk makan. Ketika sudah berumah tangga, tentu saja tidak demikian, kita perlu memikirkan kamar yang cukup dan nyaman untuk berdua, ada ruang tamu walau kecil, juga tentu saja mesti ada dapur dan kamar mandi.

Setelah  mencari kesana-kemari, akhirnya ketemulah sebuah rumah petakan.

Ada tiga petakan ruangan. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, dapur dan kamar mandi. Harga sewanya Rp 1 juta/bulan.  Listrik dan kebersihan serta iuran RT bayar sendiri. Rumah petakan itu baru saja dibangun. Lumayan bagus. Lokasinya, di sekitar Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.  Ya sudah. Bismillah, kami tempati rumah itu.

Tapi ternyata. Ya Tuhan. Banjir bandang Jakarta melanda. Kontrakan kamipun kebanjiran. Air tingginya sampai satu lutut. Mantab cinta. Hanya gelengan kepala menyaksikan pemandangan itu. Memang, sang empunya kontrakan sudah bilang,  tempat itu bakalan kena Banjir kalau pas musimnya. Tapi kecil saja. Dipikir-pikir, kalau kecil tak masalah. Eh, nyatanya, banjirnya setinggi itu. Alamaak.

Baiklah. Hanya sehari saja menempati rumah kontrakan itu. Lalu: Bergegas pindahan.

Istri manyun, tentu saja. Awalnya, dia memang tak setuju menempati rumah itu. Tapi karena saya sudah pusing cari-cari tidak ada, ya terpaksa tempati kontrakan itu. Selanjutnya, sebuah rumah kami tempati. Di daerah Slipi, Jakarta Barat. Belakang Rumah Sakit Harapan Kita. Ini atas rekomendasi istri.

Terhitung nyaman. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Kami sewa seharga Rp 1,5 juta. Belum termasuk listrik, air dan iuran lain-lain.  Tentu saja, bagi pasangan muda, harga itu terlalu mahal. Tapi apa boleh buat, belum menemukan rumah yang cocok lagi selain itu. Nah, boleh dibilang, itulah rumah pertama cinta.

Disitulah kami tidur, beristirahat, memasak, mandi dan juga, bagi saya, itulah tempat yang nyaman untuk berkarya, membaca dan menulis. Termasuk menuliskan cerita ini.  Tapi, tentu saja kami tak akan selamanya di sini. Doa kecil kepada Tuhan, agar kelak kami bisa menempati rumah sendiri. Entah bagaimana caranya, yang penting kami  terus menabung untuk cita-cita ini. Agar, kelak, ketika sudah punya anak, bisa benar-benar bisa menempati rumah jerih payah sendiri.  Begitulah kami bermimpi. Begitulah kami selalu dan selalu terus bermimpi.

Senin: 31 Maret 2014 pukul 03.28.

*Penulislepas, tinggal di Jakarta

Jumat, Maret 28, 2014

Si Obong Hanya Ingin Sekolah Saja


Si Obong Hanya Ingin Sekolah Saja
Oleh
Yons Achmad*

Ketika manusia punya keinginan
Tapi Allah tidak meridhoi maka itu tak akan terjadi,
Begitu sebaliknya,
Betapapun kita tak menginginkan sebuah peristiwa terjadi
Kalau Allah menghendaki, maka peristiwa itu tak bisa kita hindari…

Sahabat saya yang insyallah bahagia hidupnya…

Saya akan ceritakan seorang bocah berumur 10 tahunan, panggilan sehari-harinya Si Obong, begitu kakek dan neneknya menyebutnya. Sebenarnya, cerita tentang Si Obong ini bukan cerita yang saya dapatkan sendiri. Tapi, ini sebuah cerita yang dikisahkan oleh istri saya.

“Hey itu Si Obong” Katanya sedikit berteriak ketika melihat Si Obong sedang berjalan, pada sebuah jalan diantara Rumah Sakit Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Ya, waktu itu, saya kebetulan sedang mengantar istri menuju tempat kerjanya. “Siapa dia Dek” Kata saya. “Nanti kuceritakan Mas”. Yah, waktu tak cukup, dia keburu masuk kerja. Baiklah, saya sabar menunggu ceritanya.

Sepulang kerja, sebelum tidur dia bercerita tentang Si Obong itu..

Dia, anak yang dilahirkan karena “Kecelakaan”. Saat itu ibunya masih berumur belasan tahun. Karena hamil, minta dinikahi oleh yang menghamili itu. Terjadilah pernikahan, walau sebenarnya tak benar-benar ada rasa cinta, ada rasa sayang dalam rumah tangga itu. Beberapa bulan kemudian, lahirlah Si Obong, orok yang tak dikehendaki datangnya. Sempat hidup dan bisa berjalan. Sayang, ketika dia sedang lucu-lucunya, ayahnya meninggal. Dia pun hidup hanya dengan ibunya saja.

Sayangnya lagi, ibunya juga tak menghendaki kehadirannya. Entahlah, mungkin karena tekanan hidupnya atau apa, Si Obong diperlakukan semena-mena. Setidaknya, menurut cerita neneknya, sudah tiga kali anak itu mau dibunuh sama ibunya, mulai dari dilempar, mau ditabrakin mobil, sampai yang ketiga, sang nenek tak menceritakannya, tapi, mengetahui cucunya mau dibunuh sendiri oleh ibunya, dia pun menyelamatkannya. Dibawa lari dari ibunya. Sementara ibunya membiarkannya saja.  Tak memedulikannya. Dan kini, dia sudah menikah lagi dengan lelaki lain.

Nasib kini membawa Si Obong tinggal bersama kakek dan neneknya. Tidak punya rumah, hanya menumpang hidup pada emperan rumah seseorang di jalan itu. Bersama dengan gerobak setianya. Gerobak tempat memungut barang-barang bekas, botol minuman, kardus dll. Yang kalau pagi sampai siang untuk menyimpan barang-barang semacam itu dan dijual pada sore harinya. Sementara, malam untuk tidur. Soal mandi, mereka membayar Rp 3000 sekali mandi di sebuah pemandian umum. Begitu, gaya hidup tiga orang manusia itu.

Satu yang pasti, Si Obong, hanya punya satu keinginan saja, dia hanya ingin sekolah. Walau berat, kakek dan neneknya menyetujuinya. Tentu, dia banting tulang menyekolahkan cucunya itu dengan hasil jerih payahnya memulung barang-barang bekas. Begitulah cerita Si Obong. Hidup barangkali memang berat. Tapi tak ada kamus untuk mengaduh dan mengeluh. Hari ini kita belajar  dari  sepenggal  kisah kehidupan mereka.

*Penulislepas, tinggal di Jakarta.
http://penakayu.blogspot.com

Rumah Sahabat: 28 Maret 2014/ 05.29 Wib.


Selasa, Maret 11, 2014

Perasaan Setelah Menikah



Perasaan Setelah Menikah
:Yons Achmad*

Sebuah senja, saya sedang bekerja. Menulis press release  di Dunkin Donuts Gramedia Matraman, untuk SOGA Institute, lembaga yang akan mengadakan acara “Meet the Politician”. Kebetulan, saya disewa untuk menjadi publisisnya. Satu halaman informasi untuk wartawan itu rampung saya tulis. Tepat selesai saya bekerja, sebuah pesan WhatsApp nongol. Seseorang mengirimkan puisi Sapardi Djoko Damono (SDD).

Singkat saja, bunyinya begini:

 Aku mencintaimu,
itu sebabnya aku tak pernah
selesai mendoakan keselamatanmu

Itu ciri khas puisi SDD, selain romantis, puitis, juga punya nilai spiritual yang dalam. Saya suka puisi-puisi semacam itu. Tapi, bagaimana kalau yang mengirim puisi itu orang yang sangat kau sayangi?

Tentu, perasaannya sungguh berbeda. Apalagi, selain kekasih, dia juga seorang istri. Amboiii. Memang, barangkali dia memungut puisi itu entah darimana, dan mengirimkan begitu saja, tanpa perasaan apa-apa. Atau barangali hanya iseng saja. Tapi, bagi saya yang sedang dihajar perasaan cinta, kiriman puisi itu saya maknai dengan cara yang berbeda.

Setidaknya, menjadi bahan perenungan. Apalagi malam ini, saat saya menuliskan cerita kecil ini, dia lagi sibuk bekerja. Menemani pasien di sebuah rumah sakit yang setiap hari ada saja. Tak pernah ada habisnya. Alamaaak.  Laris bener itu rumah sakit. Hasilnya, saya di rumah sendiri, benar-benar mati gaya.

Baiklah, daripada nonton TV yang acaranya tidak bermutu (bermutu sih, tapi bermutu buruk), lebih baik saya bercerita tentang perasaan setelah menikah. Ya, memang, usia pernikahan kami belum lama. Tapi, saya sudah ditimpa perasaan yang berbeda setelah menikmati pernikahan walau masih muda ini.

Satu yang paling menyolok adalah ketenangan. Ya, perasaan saya lebih tenang setelah menikah. Walau sikap yang meledak-ledak, spontan, tanpa kompromi itu masih sering muncul, tapi setidaknya berkurang sedikit demi sedikit. Saya selalu yakin, dengan ketenangan batin, segala mimpi-mimpi, begitu juga pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk, pelan-pelan akan mudah terselesaikan. Ketenangan setelah menikah, barangkali memang anugerah Tuhan yang pantas disyukuri. Tak mudah perasaan ini didapatkan. Apalagi bagi yang hidup di Jakarta, kota yang semrawut ini. Itu perasaan saya. Sederhana. Tapi, bagi saya sungguh berharga.

Ah, saya lantas iseng kirim pesan ke “pacar” saya “Say, apa perasaanmu setelah menikah”. Pasti nggak dibales. Saya berprasangka buruk. Maklum, kalau sudah bekerja dia benar-benar sibuk. Eh, kali ini dibalasnya.

Ternyata, jawabnya agak sama “Aku lebih tentrem, adem, totally Loving”. Ah baiklah saya akan segera kirim cerita ini untuknya. Oh ya, bagi teman-teman yang belum menikah, menikahlah. Siap atau tidak pokoknya menikah sajalah. Punya uang atau tidak menikah sajalah. Allah yang akan membantumu langsung, itu janjiNya.  Setelahnya, kau akan punya perasaan yang berbeda, seperti yang kami rasakan malam ini. Sensasi ketenangan yang berbeda.  Percayalah.

Rumah Senja: Slipi 11 Maret 2014/ 00.39

*Penikmat Teh

Selasa, Februari 11, 2014

Seri Pernikahan (2) Curhat Ibu Mertua



Sopiah. Begitu namanya. Perempuan kelahiran Pati Jawa Tengah. Umur 18 sudah menikah dengan Sukatno Hendro suaminya (dulu 25 tahun). Yang kemudian mereka berdua menjadi mertua saya.  Beberapa hari setelah menikah, tepatnya tanggal 6 Februari 2014 mereka berkunjung ke kontrakan kami yang sederhana.  Merayakan hari lahir istri saya yang ke 25.  Membawa satu nampan nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Dan cerita pun mengalir deras.

Tapi sebelumnya saya ingin cerita. Saya bertemu dengan ibu mertua pertamakali sekira  sekian bulan yang lalu. Waktu itu menemani anaknya sedang jadi panitia seminar relawan kemanusiaan yang diadakan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Tepatnya di kampus MIPA Universitas Indonesia (UI). Di sebuah mushola kecil yang sempit, sebelum sholat maghrib kami ketemu. Saya mencium tanganya.  Itulah pertamakali saya menatap wajahnya. Karena mushola kecil, penuh, maka saya mengusulkan sholat di sebuah tempat. Ya, Resto Mang Engking sekitaran danau UI. Memang sih, boleh dibilang ini modus mendekatinya. Di tempat itulah saya “menembak” untuk menikahi anaknya. Kaget. Agak ragu awalnya, tapi berkat kesungguhan pada hari-hari berikutnya, akhirnya berhasil juga menikahi anaknya.

Lalu, apa curhat ibu mertua? Dia bercerita. Sewaktu dilamar suaminya, sang suami hanya sendirian saja, tanpa siapa-siapa, dengan sandal jepit yang ditentengnya. Tentu saja, dengan begitu saja kita sudah tahu bahwa seseorang yang menikahinya itu lelaki yang sederhana. Tapi, rupanya, dia hanya melihat kesungguhan saja. Banyak orang yang bilang mencintainya, tapi tak berani datang menemui orang tuanya. Sementara, lelaki dengan sandal jepit itu berani. Cukup sudah, simple, diapun menerima lamaran lelaki itu.

Ternyata, di kontrakan kami itulah cerita penerimaan lamaran saya terungkap.  Saat saya “menembak” anaknya dan saya cerita kalau memang belum punya apa-apa, dia teringat suaminya yang dulu. Makanya, dia tidak menganggap remeh saya. Justru membesarkan hati, kalau niatnya tulus pasti Allah  akan memberikan rejeki. Ibu mertualah yang setiap saat menyakinkan ayah mertua saya untuk memberikan kesempatan kepada saya berusaha. Meyakinkan dan terus meyakinkan sampai suaminya luluh dan ikhlas menerima kehadiran saya. Tentu saja, mendengar ceritanya saya agak terharu.

Dan, dari curhat ibu mertua pula saya tahu, dialah yang dulu menyuruh anaknya untuk datang ke sebuah acara kepenulisan di Bali “ Dateng aja Fi, siapa tahu disana dapet jodoh”. Alamak, ternyata kemudian doanya dikabulkan Allah. Dia kemudian menasehati kami untuk saling setia dan saling mendukung. Usia pernikahan 1-5 tahun adalah saat-saat yang rawan. Baik itu rawan konflik soal keuangan, maupun soal “momongan”. Soal kegalauan kalau misalnya belum dikarunia seorang anak. Satu pesannya, jangan pernah lupa berdoa dan selalu setia. Agak lama ibu mertua saya bercerita. Kami pun kembali menyantap menu nasi kuning masakannya. Dan, itulah momentum yang sangat jarang terjadi sebelumnya. Satu keluarganya berkumpul jadi satu, plus menantu tentu saja.  Makan bersama. Oh. Sebuah malam yang sempurna, yang tak pernah akan saya lupa (Yons Achmad)