Senin, Juni 15, 2009

Pecinta Agung

Pecinta Agung
~yons achmad~

Tidak dicintai orang lain
memang menyedihkan,
namun lebih menyedihkan lagi
kalau tidak bisa mencintai orang lain."
Miguel de Unamuno (1864-1936),
penulis Spanyol

Cinta. Ia seperti bunga. Membutuhkan waktu, membutuhkan proses untuk menjadi mekar. Ia memang cuma satu kata, cinta. Namun, darinya bisa lahir ribuan sajak, ribuan cerpen, ribuan novel, ribuan sinetron, ribuan film. Dari sekian karya itu, banyak yang memuji dengan sepenuh jiwa, ada yang mengumpatnya dengan sumpah serapah, ada juga yang diam-diam mengiyakan namun nampak malu untuk mengekspresikannya.

Sebab urusan cinta di Indonesia belum selesai. Begitu kata sastrawan Kurnia Efendi melalui catatan harian onlinenya lewat sepanjangbraga. Karena itulah, saya kira tak ada salahnya untuk menggali kembali, mencoba merenung kembali tentang makna cinta. Kali ini, saya akan mengejanya dalam dimensi sufistik.

Hal demikian sengaja saya jadikan untuk pijakan. Atas alasan apa? Saya merasakan banyak sekali orang sekarang yang stress, bimbang, gelisah, berlaku amarah, pemungut kebencian yang akut. Corak manusia yang lebih dekat dengan iblis daripada serupa malaikat. Dan, mungkin saja saya juga termasuk di dalammnya. Atas alasan ini pulalah saya berusaha menggoreskan kata-kata ini. Agar tak melulu menjadi manusia semacam itu.

Pecinta Agung. Demikian saya menyebutnya.

Siapakah dia?

Jalalludin Rumi pernah mengatakan "Di mana pun engkau berada, apa pun kondisimu, berusahalah menjadi pecinta,". Saya kira, apa yang dikatakan Rumi itu bukan tanpa dasar. Selaras dengan kitab suci.

Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya.
(QS. al- Ma'idah: 45)
Katakanlah (Hai Muhammad),
"Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah Aku,
niscaya Allah akan mencintai kalian."
(QS. Ali Imran: 31).
Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Dia cintai dan mereka pun cinta kepada-Nya.
(QS al-Ma'idah: 54)
“Dan orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah”. (QS. al-Baqarah: 165)

Memang, cinta versi sufistik sering diolok-olok. Cinta yang terlalu berorientasi kepada hari kemudian, kehidupan akhirat. Meninggalkan kehidupan dunia, lari dari realitas kehidupan, tak mau turut campur dalam kenyataan kehidupan. Padahal tidak demikian pengertiannya.

Pecinta Agung. Mereka adalah orang biasa, seperti kita semua. Manusia yang selalu diliputi kerinduan, kasih sayang. Kepada sesama, begitu juga kepada Yang Maha Atas semua. Yang pasti, mereka terlibat dalam kehidupan. Yang membedakan, ia senantiasa menjaga kebersihan hati, seperti kata Ghozali “Hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih.” Atau Kata Syeh Abdul Qadir Al-Jailany “Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidak sabaran. Beristiqomahlah dengan berharap kepadanya; bekerja samalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam”. Petuah yang mungkin terlalu biasa. Namun, teramat susah melaksanakannya. Pecinta Agung, dialah yang mencoba bersusah payah melakukannya.

Pecinta Agung. Makna kehidupan baginya adalah cinta. Cinta langit dan cinta bumi sekaligus. Ia membawa pesan-pesan kedamaian. Pecinta Agung, serupa benih-benih kecil yang terjatuh dalam tanah. Menjadi tanaman, melahirkan bunga-bunga, menghasilkan buah. Dan pada akhirnya mewarnai kehidupan. Bahkan Pecinta Agung adalah kehidupan itu sendiri.

Selasa, Oktober 21, 2008

Guru Tangguh Itu

Beliau kini sedang berjuang melawan stroke...

Seorang dokter memvonis harapan hidupnya tinggal 10%. Ngeri saya mendengar kabar itu. Namun, mukjizat datang. Tuhan ternyata masih sayang. Entahlah. Mungkin karena ada kobaran semangat dan perjuangan yang menggelora sehingga beliau masih hidup hingga kini. Bahkan, setelah menjalani terapi pengobatan alternatif, kini beliau sudah mulai bisa berjalan. Ingatannya yang dulu hilang sama sekali kini sudah mulai pulih. Bahkan sudah bisa berbicara dengan lancar. Sungguh ini sebuah keajaiban. Saya salut dengan semangatnya.

Guru itu, Pak Hamzah namanya.

Syukur kepada Allah, lebaran ini saya berkesempatan bersilaturahmi ke rumahnya yang sejuk, Kampung Sawangan, Magelang. Saya senang karena beliau tak lupa. Meski sudah cukup lama saya tak bertemu. Saya sendiri sekira 12 tahun yang lalu pernah menjadi muridnya di SMP N 1 Sawangan. Saya bangga mempunyai guru yang punya semangat smacam itu.

Yang membuat saya girang lagi,

beliau ingin belajar menjadi penulis.

Wah, tambah semangat saya mendengarkan kisahnya.

Niat itu diutarakannya dengan mata berkaca-kaca...

Beliau sadar barangkali sudah tidak bisa berkiprah optimal lagi dalam dunia pendidikan dengan kondisi fisik yang dialaminya sekarang ini. Dengan fisik yang lemah. Soal karir pendidikan, jabatan terakhirnya menjadi Kepala Sekolah SMP 19 Purworejo, dulunya dikenal dengan SMP Mbener. Beliau mengatakan rela kalau harus pensiun dini mengingat kondisinya yang belum memungkinkan pulih. Walaupun begitu, masih punya keinginan untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman seputar pendidikan yang telah dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Salah satunya dengan media tulisan seperti yang impikannya.

Pak Hamzah sendiri memang guru tangguh...

Lahir dari keluarga sederhana dan (mohon maaf) sebelah kakinya kurang sempurna, jadi kalau berjalan harus berjinjit-jinjit. Namun, tetap percaya diri, tak mau kalah dengan teman-teman sebayanya. Baik itu soal karir yang akhirnya mengantarkannya menjadi seorang guru, maupun soal cinta yang akhirnya bisa mempersunting perempuan normal cantik dan lembut, seorang guru juga bernama Ibu Purwanti.

Saya masih ingat, saat jadi muridnya dulu, saya sering melihat beliau tetap lincah ketika bermain bola voli. Begitu juga aktif menjadi pembina Pramuka dimana ekskul tersebut mensyaratkan menjadi orang yang gesit, trampil dan lincah, apalagi ketika sedang mengadakan sebuah acara perkemahan dengan full acara. Beliau setia membersamai saya dan teman-teman yang dulu aktif disana waktu itu.

Semangat itu tak surut. Sejak mendapat tugas jadi Kepala Sekolah, beliau harus bolak balik tiap hari dari rumahnya di Magelang ke sekolahnya di Purworejo. Tentu untuk mengemban amanahnya sebagai pendidik. Disana capaian keberhasilan pelan-pelan didapatkan. Mulai dari prestasi akademik siswa yang meningkat, begitu juga sering menjuarai perlombaan, sarana prasarana seperti peralatan komputer mulai tersedia sampai memperjuangkan peningkatan pangkat karir seorang guru yang 9 tahun tak naik-naik. Begitulah perjuangan panjang yang sebenarnya masih terlalu minim ruang ini untuk menceritakannya.

Hingga pada sebuah kesempatan, beliau berkesempatan menghadiri acara pelatihan Sekolah Standar Nasional / Internasional di Bogor. Disana pemikiran pendidikannya rupanya terkuras, sayang kondisi fisiknya tak memungkinkan, terlalu capek. Hingga, stroke pun menyerangnya. Hingga saat ini.

Saya, sebagai muridnya tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa menceritakan kisah ini kepada Anda semua. Setelahnya, alangkah bahagia bila ada kirimkan sepatah dua patah kata, komentar, atau tanggapan atas tulisan singkat karena secepatnya akan saya kirimkan kepada beliau. Agar beliau terhibur setelah membacanya, bisa sedikit membuatnya tersenyum hingga berharap agar kondisinya lekas kembali pulih seperti semula. Amien. Tetap tegar Pak !. (yon’s)