Senin, Februari 13, 2012

Republic Of Tea

Republic Of Tea
oleh
Yons Achmad

Suatu ketika, secara tak sengaja, Ziegler bertemu dengan Bill di sebuah pesawat. Ziegler adalah pengusaha pakaian yang sedang bangrut dan karenanya juga mendapat tambahan derita mengerikan yaitu diceraikan oleh istrinya. Pada saat itulah ia bertemu dengan Bill yang sedang mencari kehidupan yang bisa dicintainya dalam bisnis. Keduanya lalu mengobrol tentang apa kira-kira yang bisa mengubah hidup mereka.

Tiba-tiba Ziegler ingat tentang dirinya yang terinspirasi Zen, tentang bagaimana teh bisa menciptakan pikiran yang berbeda-beda. Menceritakan bagaimana jika ada sebuah toko teh. Ada peralatan lengkap minum teh, campuran teh untuk anak-anak dan air untuk teh dari sumber air di Sungai Yangtze serta bayangan-bayangan indah lainnya. Bill langsung tertarik. Boleh juga. Pikirnya.

Bill mulai mencari tahu tentang teh, bagaimana mengenali teh Darjeeling kualitas prima, memahami mekanisme pasar teh, jalan-jalan ke swalayan hanya untuk mencari teh tak luput juga mengobrol dengan para pedagang teh. Singkatnya, dia kumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang teh. Tapi, Zigler hanya geleng-geleng kepala. Ziegler merasa bahwa Bill lebih tertarik membicarakan rencana bisnisnya daripada memulai bisnisnya.

Akhirnya mereka memulai bisnisnya tahun 1992. Entah berhasil atau tidak bisnis ini, saya tidak tahu. Yang saya tahun, mereka juga menerbitkan buku dengan judul sama dengan perusahaannya ”The Republic of Tea”, buku ini adalah kumpulan dari obrolan, pembicaraan dan korespondesi mereka yang dikumpulkan oleh Patricia, istri Bill. Buku ini masuk dalam 100 buku bisnis terbaik sepanjang masa. Versi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Ufuk, dan cerita diatas saya dapatkan juga melalui buku ini. Spirit dari buku ini, banyak memang ide-ide baru seputar kewirausahaan. Tapi satu-satunya indikator yang bisa Anda percaya adalah suara hati Anda.

Jadi, sekarang, jika mau berbisnis dengarkan suara hati, temukan sebuah bisnis yang benar-benar dicintai. Lalu, ide bisnis jangan terlalu banyak dibicarakan, tapi langsung dimulai. Itu saja dan keberhasilan akan menanti.

Rabu, Februari 08, 2012

Saya, Buku dan Secangkir Teh

Saya, Buku dan Secangkir Teh
Oleh
Yons Achmad*


Ada banyak hal yang membuat kita bahagia
Punya waktu membaca buku dan
Bisa menikmati secangkir teh
Itu sudah cukup untuk mensyukuri hidup...


Sudah 10 tahun saya mencoba menulis sebuah buku, tepatnya novel, tapi tak pernah kesampaiaan. Untuk buku, memang 1-2 bulan ini saya bisa merampungkannya (mungkin). Tapi untuk novel. Ah. Bagi saya, menulis novel itu beraaaat sekali. Entahlah, saya sudah mencoba memulai, tapi belum berhasil juga. Rasanya malah saya diteror tokoh-tokoh yang saya ciptakan sendiri. Ada yang sudah selesai, tapi saya memilih membakarnya. Karena saya menulis novel itu khusus untuk orang yang saya cintai, tapi ia begitu saja pergi. Jujur saya berulangkali katakan, saya benar-benar kesal dengan anak itu. Tapi, saya tak pernah menyesal bisa mencintainya. Walau dengan sederhana.

Di tahun ini, saya akan mengubur masa lalu dan memulai sesuatu yang baru. Termasuk menjalin teman baru. Saya tidak bisa hidup tanpa seorang teman. Mungkin, saya bisa dengan sombong mengaku bisa hidup sendirian, tapi semua itu omong kosong. Teman, seorang teman, bagi saya itu cukup. Agak nampak konyol memang, ketika semua orang sudah menikah dan di nikahi, saya masih belum beranjak dari memikirkan seorang teman. Tapi ya begitulah. Apa boleh buat. Hidup saya rasanya memang berjalan cukup pelan.

Sebelum menulis ini, saya mengirim pesan kepada seorang teman. Apakah bersedia membantuku untuk mewujudkan keinginan kecilku membuat sebuah novel. Ia menyanggupinya. Saya girang. Ia, bagi saya adalah seseorang, yang entah bagaimana saya nyaman untuk berkomunikasi dengannya. Ya, saya memang keterlaluan, sebab ia juga punya banyak persoalan. Tapi, ya bagaimana lagi, Tuhan telah menakdirkan saya untuk berani mengirim pesan padanya. Selama ini, ia telah banyak membantu saya, tapi jujur saya memang belum bisa membalas kebaikan-kebaikannya. Begitulah, saya memang keterlaluan.

***

Tahun ini, saya selalu berusaha untuk bangun pagi-pagi. Walau tak selalu berhasil. Mulai bekerja dan berkarya. Bukan apa-apa. Saya rasanya sudah semakin senja saja. Saya sudah banyak mengidap penyakit. Yang salah satunya masih menghinggapi hingga saat ini. Kadang, percaya atau tidak pada malam-malam tertentu tubuh saya rasanya melayang. Kalau sudah begitu, saya spontan ucap “Ashadualailahailalloh, wa ashaduanamuhamadarosululloh”. Nafas saya tersengal-sengal seperti sedang dicabut nyawanya. Tapi, beberapa detik kemudian saya sadar, ternyata saya masih hidup.

Entahlah, barangkali itu peringatan Yang Maha Cinta, untuk saya benar memaknai hidup. Ini yang membuat saya berpikir berulangkali untuk tak melakukan hal kotor, kadang menjadi tak punya nyali untuk berbuat maksiat yang berat. Walau tak selalu berhasil. Itu sebabnya, saya ingin cepat sekali menyelesaikan urusan-urusan, sebab saya tak tahu kapan bakal mati, dan rasa-rasanya memang sudah dekat sekali.

***

Setiap pagi, menyesap secangkir teh hijau menjadi rutinitas yang konon atas ijinNya bisa mengobati penyakit-penyakit. Setidaknya saya percaya itu. Dan secangkir teh telah saya biarkan mengiringi mimpi-mimpi saya. Tahun ini, selain bisnis, seperti yang saya sampaikan diatas, kepingin sekali bisa membuat novel. Bukan untuk dijual, hanya untuk teman-teman dekat saja. Setidaknya, novel itu untuk mengenang juga, teman-teman dekat yang selama ini hadir dalam kehidupan saya. Yang sempat saya kenal, tak sengaja saya sakiti, atau ya sekedar membuktikan kepada diri sendiri eh ternyata bisa menjadi penulis juga. Saya ingat Benjamin Franklin berkata:

Bila kau tak ingin dilupakan, tulislah buku.

Atau berbuatlah sesuatu yang layak ditulis dalam buku

Untuk pilihan kedua mustahil. Sebab saya terlalu brengsek dan tidak layak ditulis dalam buku. Tapi, sebenarnya saya juga tak ingin nama terabadikan karena menulis buku. Justru, saya ingin mengabadikan teman-teman saya, yang mereka sungguh berarti dalam kehidupan saya hingga saat ini.

Begitulah, kisahnya baru saja dimulai, jadi kau mau membantuku kan menulis novel?

*Penulis. Vegetarian. Tinggal di @senjakarta

Senin, Februari 06, 2012

One Day

One Day
Oleh
Yons Achmad*

Terkadang…
Kita mencari seseorang yang benar-benar kita cintai
Padahal sejak lama ia bahkan ada di dekat kita.

04 Februari 2012: Saya bangun pagi sekali...

Bukan karena apa-apa. Hanya tuntutan pekerjaan semata. Pukul 03.30 saya sudah mulai bekerja, menulis biografi untuk klien, target 10 halaman yang harus disetor jam 07.00. sayang, saya hanya kuat menulis 9 halaman saja. Tak jadi soal. Setelah selesai, saya langsung print dan antarkan ke rumah klien di bilangan Tebet. Setelah urusan selesai, saya langsung menuju Toko Buku Leksika Kali Bata City.


Ya, mempersiapkan event bedah buku The Paradise Journeys karya teman saya Muthia Esfand & Akbar Tri Kurniawan. Event ini saya persiapakan selama 3 minggu. Ini adalah event pertama yang saya gelar, dibantu dengan 2 orang rekan tim lain di Kanetmedia. Kursi yang disediakan pihak toko buku sejumlah 25. Alhamdulillah, semua terisi penuh, bahkan beberapa diantaranya harus berdiri. Singkat kata, event tersebut boleh dibilang sukses. Walau tetap harus ada perbaikan ke depan.

Dalam acara tersebut saya juga mengundang beberapa teman sewaktu SMA dulu yang kebetulan bekerja di Jakarta. Bertemulah kembali kita setelah lebih dari 10 tahun lebih. Dan, setelah ngobrol-ngobrol tentang pekerjaan, karir dan cinta meluncurlah kita ke bioskop sekitar Setiabudi. Kita menonton film ”One Day”






















Film genre romantis tapi sebenarnya kisah tragis. Teman-teman saya sampai sesunggukan nangis nonton film itu. Memang sebuah film percintaan yang boleh dibilang seronok untuk ukuran adat ketimuran. Film ini berangkat dari sebuah novel, walaupun saya belum membacanya, saya kok yakin bahwa novelnya pasti lebih bagus dari film ini sendiri.

Sebuah kisah tentang Emma dan Dex, dua orang sahabat. Saat mereka lulus sekolah, terpaksa berpisah untuk sebuah karir mereka masing-masing. Emma, ingin mengubah dunia dengan menjadi penulis puisi dan novel. Namun, tenyata tak mudah, harus berkali-kali gagal, untuk menghidupi diri ia menjadi pelayan restoran. Sementara Dex sukses berkarir menjadi presenter televisi. Sayangnya, dia banyak mabuk dan main perempuan. Dalam perjalanan, Dek menikah dan punya anak sementara Emma juga sudah punya pacar seorang guru piano. Tapi, masalah hati siapa yang tahu.

Emma akhirnya bisa menerbitkan novel, sementara Dex malah kacau balau, karirnya ambruk, disaat terpuruk begitu malah diceraikan istrinya. Lalu, dengan sedikit keberanian dia menemui kembali Emma. Singkat cerita, akhirnya mereka menikah juga. Sayang disaat asmara mulai muncul, dari kisah dua sahabat menjadi cinta, Emma harus meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dex terpukul dan kembali ke orangtuanya. Ayahnya menasehati Dex untuk tetap tegar, seperti juga dirinya yang kehilangan istri tercintanya. Film ditutup dengan Dex yang mengajak jalan anaknya mendaki sebuah bukit, sebuah perjalanan yang juga pernah dilakukan bersama Emma. Dex dengan anaknya, memulai sebuah kehidupan baru. Setelah rasa kehilangan benar-benar disadarinya. Ya, menyadari bahwa seseorang kadang menjadi begitu berarti setelah mereka pergi. Begitu ceritanya.


Sehabis menonton film itu, kami berlima berjalan kaki menuju Pasar Festival. Kami ngobrol, mendiskusikan film tersebut. Agak gila memang. Ya, sampai jam empat pagi.

Penulis. CEO Kanetmedia.com

Minggu, Januari 29, 2012

Saya dan Media





Saya dan Media
Oleh
Yons Achmad*

Yeach. Akhirnya di awal tahun 2012 bisa mendirikan media, resolusi pertama tercapai. Dan ini memang cita-cita saya. Saya memang menekuni bidang media sejak kuliah dulu. Berawal dari eksperimen membuat selebaran gelap ditujukan untuk kritik jurusan yang hasilnya bikin heboh, setidaknya, untuk beberapa saat lamanya. Lalu membuat media-media alternatif semacam buletin cetak untuk konsumsi seputar fakultas, lalu dua tahun bekerja part time mengurus konten pemberitaan website universitas.

Tahun 2007 sebuah perusahaan di Jakarta menawari diri untuk bekerja sebagai konsultan media. Selama 1,5 tahun saya bekerja memunculkan majalah-majalah perusahaan maupun sekolah-sekolah. Lalu, saya keluar dan bekerja sebagai pemimpin redaksi Majalah Islam Tatsqif. Sayang, hanya sempat bekerja beberapa edisi dan majalah itupun almarhum alias gulung tikar. Sejak itu, saya menjadi pengangguran. Itulah masa-masa sulit saya. Hanya mengandalkan honor bekerja sebagai penulis lepas yang hasilnya tak seberapa.

Singkat cerita, tahun 2011 saya senang karena perusahaan konsultan media yang kemudian saya dirikan mulai menghasilkan. Di bawah bendera Kanetmedia, saya dan tim bergerak membangun dan mengembangkan media-media untuk perusahaan, lembaga, instansi pemerintah, sekolah, maupun media-media personal dalam bentuk website (personal blog berbayar).

Akhir tahun 2011 saya mulai berpikir. Kayaknya kurang afdhol kalau sebuah perusahaan konsultan media belum mencoba membuat dan mengelola media sendiri. Memang, konsultan media kerjaan utamanya membangun dan mengelola media untuk pihak lain. Tapi, tentu tak haram membuat media sendiri. Setelah diskusi dan perenungan beberapa hari, akhirnya keputusan diambil.

Saya tetap bekerja dengan tim lewat payung Kanetmedia, tetapi, secara personal saya juga memimpin sebuah media online, Majalah Islam Online Wasathon.com (Referensi Wawasan Islam). Media ini saya dirikan bersama seorang dokter spesialis pada sebuah rumah sakit pemerintah. Sang dokter penyandang dana awal dan menduduki pemimpin umum media, sementara saya sebagai pemimpin redaksi dengan beberapa tim: 2 staff redaksi, 1 sosial media & marketing serta 1 IT. Struktur yang ramping memang, tapi kami akan mencoba bekerja maksimal dengan SDM yang ada.

Wasthon.com adalah media online. Dalam pengembangan media ini, kami terinspirasi oleh buku berjudul “Wikinomics” karya Don Tapscott dan Anthony D Williams yang memberikan empat prinsip: Keterbukaan, peering, berbagi dan bertindak global. Tentu dengan kata kunci yang mesti dipegang yaitu kami tak sekedar menyajikan informasi, tetapi mengajak khalayak untuk berpartisipasi, sehingga media terasakan bersama. Dikembangkan bersama. Model dan langkah konkritnya sedang kami persiapkan.

Layaknya sebuah media, selain soal keredaksian, yang penting juga bagaimana model bisnisnya, bagaimana media ini bisa mendanai operasional perjalanan perusahaan sehingga tetap bisa berjalan dengan kesejahteraan para pengelolanya. Tentu semua ini tetap kami pikirkan. Agar para pengelola juga mendapatkan apresiasi yang layak atas pekerjaan profesional mereka.

Bismilah. Wasathon.com akan menemani pembaca. Dan partisipasi teman-teman semuanya selalu kami nantikan. Kritikan, saran, tentu akan dengan senang hati kami terima dan akan segera kami praktekkan sehingga terus ada perubahan dan perbaikan menuju proses yang lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya selamat membaca: kami nantikan umpan baliknya. Seperti kata pepatah: Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Begitulah adanya kami saat ini :-)

Halim Perdana Kusuma: 29 Januari 2012

*CEO Kanetmedia.com. Pemimpin Redaksi Wasathon.com