Jumat, November 20, 2009

Nasionalisme dalam Novel


Nasionalisme dalam Novel Negeri Van Oranje

:yons achmad


Nasionalisme (paham kebangsaan) bisa diartikan secara umum dengan rasa cinta tanah air. Dalam kurikulum pendidikan kita, paham kebangsaan tersebut sering diajarkan melalui pelajaran (mata kuliah) kewarganegaraan. Lazimnya dalam proses pembelajaran, oleh guru (dosen), sering dipaparkan tentang sejarah tokoh-tokoh nasional yang telah berjuang mewujudkan Indonesia merdeka. Dari tokoh-tokoh tersebut kita belajar tentang nasionalisme. Begitulah proses penanaman nilai nasionalisme berlangsung lewat pendidikan formal kita. Proses yang saya kira dengan metode terlampau klasik dan miskin kreatifitas.


Lantas, bagaimana jadinya kalau nasionalisme itu diajarkan melalui media novel? Tentu saja ini menarik. Dalam novel berjudul Negeri Van Oranje karya Wakyuningrat dkk, selain kita bisa menikmati petualangan kisahnya, tak luput nilai tentang nasionalisme juga bisa kita dapatkan. Nilai ini muncul (sengaja dimunculkan para penulisnya) melalui dialog (diskusi) tokoh-tokoh dalam novel ini. Saya kira fenomena semacam ini sayang kalau kita lewatkan begitu saja.


Saya menemukan pendedahan nilai ini mulai dari Bab “Indische Vereeninging”. Berawal dari salah satu tokoh perempuan dalam novel ini yaitu Lintang dengan keterlibatannya dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda. Organisasi ini terbentuk setelah melewati proses yang cukup panjang. Sejarah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda dimulai sejak Oktober 1908, ketika R. Soetan Cansanjangan Soripada atas dukungan J.H Abendanon membentuk sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Indische Vereeniging.


Namun, barulah pada saat Bung Hatta terlibat pada 1922 bersama Sutan Syahrir, Sutomo, Ali Sastroamindjoyo dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya, mereka mengubah nama perkumpulan itu. Indonesische Vereniging menjelma menjadi Perhimpunan Indonesia. Selanjutnya, perkembangan organisasi tersebut mengalami dinamisasi. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) tercetus di Delft untuk pertama kalinya pada 1953. Namun, organisasi ini jalan di tempat. Pada tahun 1970, perhimpunan ini dihidupkan kembali di Amsterdam namun masih terseok-seok. Baru pada tahun 2004 PPI Belanda kembali terbentuk dan bertahan hingga hari ini.


Pemunculan isu nasionalisme yang mula-mula dari keterlibatan Lintang dalam kepengurusan PPI mendapatkan tanggapan beragam dari teman-temannya. Tak terkecuali juga kritikan yang menganggap organisasi tersebut hanya buang-buang waktu saja. Sampai berujung pada debat soal kontribusi (peran) mahasiswa yang sudah lulus S2 setelah berhasil menempuh studinya. Pulang, atau bekerja di luar negeri. Nah, pada Bab ini “Voor Indonesie (Untuk Indonesia), diskusi mengenai nasionalisme menguat. Soal sumbangsih apa yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia setelah sekian lama merantau, belajar di negeri orang.


Misalnya dalam sebuah adegan seminar (pertemuan PPI). Bang Acil, salah satu orang Indonesia di Belanda yang diangap sesepuh mengecam para mahasiswa yang memilih untuk menyumbangkan isi kepala dan pengetahuannya di luar negeri. Namun, pandangan yang dinilai terlampau normatif ini banyak ditentang. Misalnya oleh Banjar, salah satu tokoh yang berperan sebagai mahasiswa Manajemen Pemasaran. Argumennya yang lumayan bernas mematahkan logika Bang Acil. Ia mencontohkan negara India. Banyak mahasiswa India alumnus luar negeri yang tak langsung kembali ke negaranya. Mereka bekerja mengembangkan ilmu pengetahuan atau membangun bisnis di luar India. Setelah mereka sukses bermukim dan bekerja di luar nasionalisme mereka tak luntur.


Para mahasiswa India yang sukses bekerja di luar negeri tersebut ternyata mereka kembali untuk menginvestasikan uang dan teknologi yang dikuasainya di berbagai kota di India. Hasilnya, transfer teknologi berjalan dengan tingkat yang sangat mengagumkan, industri mereka garap, jutaan kesempatan kerja dibuka, ekspor meningkat, devisa mengalir. Kata-kata Banjar terus mengalir, sampai ditutup dengan pertanyaan, “Apa itu tidak dihitung sebagai bentuk sumbangsih bagi tanah air? Saya kini balik bertanya, apakah pembangunan di India bisa secepat sekarang, tanpa sokongan putra-putrinya yang berjuang di luar negeri?”


Membaca novel ini, walaupun oleh Penerbit Bentang dikategorikan novel bergenre populer namun tak melulu berisi soal remeh-temeh. Lihat saja paparan diatas, ternyata mengandung muatan (nilai) yang agak berat juga. Soal nasionalisme, walaupun isu yang cukup berat tapi saya kira masih perlu dan memang perlu dan selalu terus untuk diangkat. Memang tak perlu kita memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam kasus diatas. Justru, adegan dalam cerita tersebut seolah mempertanyakan kembali kepada pembaca mengenai kontribusi apa yang sudah kita berikan kepada bangsa ini?.


Dengan demikian, saya kira novel ini perlu diapresiasi. Setidaknya, oleh komunitas-komunitas sastra, gerakan mahasiswa atau aktivis pers kampus dimana perlu mendiskusikan lebih lanjut mengenai isi novel ini. Tentu beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Terutama dalam soal nasionalisme. Apalagi seperti yang diungkapkan Prof Sartono Kartodirdjo dalam sebuah artikel yang berjudul “Kebangkitan Nasional dan Nasionalisme Indonesia” bahwa nasionalisme pertama-tama adalah muda setidaknya bisa sebagai pemantik dalam mempertanyakan kembali identitas diri, khususnya kaum muda tentang eksistensinya. Serta, menggugah semangat generasi muda dalam peran strategisnya memajukan bangsa. Apa boleh buat, harapannya begitu. []

Rabu, November 11, 2009

(Resensi) Negeri Van Oranje


Mahasiswa di Belanda Punya Cerita
:yons achmad

Judul : Negeri Van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang, 2009
Tebal : 477 Halaman


Saya selalu tertarik dengan novel yang diangkat dari pengalaman pribadi penulisnya. Seperti novel ini. Sebuah kisah petualangan lima mahasiswa Indonesia (Lintang, Banjar, Wicak, Daus dan Geri) dimana mereka sedang meraih mimpinya mengejar studi S2 di Belanda. Novel ini telah mencuri perhatian dan mengundang rasa penasaran saya. Ditambah lagi best seller pula. Siapa yang tak tergoda untuk segera mengetahui isinya.

Ternyata isinya tak mengecewakan. Selain seru, tak berlebihan kalau boleh dibilang novel ini begitu mengasyikkan alias tidak membosankan. Gaya penulisannya mengalir dan tidak berbelit-belit, ditambah catatan kaki yang tentu saja bisa memperjelas istilah-istilah asing. Di dalamnya kita bisa membaca kisah unik, seru dan heboh tentang lima sekawan itu. Kita juga bisa mendapatkan informasi menarik mengenai kehidupan di negeri kincir angin tersebut.

Tidak hanya itu, suasana dan segala hal tentang aktifitas kampus di Belanda juga tergambar dengan jelas. Dilengkapi pula dengan beragam tip dan trik, seperti kiat mencari pondokan atau tempat kost yang murah meriah, belanja cerdas, mencari kerja paruh waktu, mengisi waktu luang atau liburan, cara hemat berkeliling Eropa, tip mahasiswa teladan ala Daus, hingga beberapa kiat merokok di Belanda yang mungkin berguna bagi Anda.. Menarik bukan?

Kisah Lintang, Banjar, Daus, Geri dan Wicak diawali dengan pertemuan tak sengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Dilanjutkan dengan acara masak bareng kelima sahabat yang kemudian menamakan diri sebagai geng “Aagaban”. Masing-masing anggota geng ”Aagaban” juga memiliki cerita unik. Pengalaman pilu Lintang yang merasa senang karena diundang pesta yang berarti ia akan makan enak dan gratis, tapi harus dongkol karena ternyata makanan yang dimakan harus ia bayar. Cerita Wicak dan Daus yang ingin berbaik hati menolong mahasiswa baru di Belanda mencarikan pondokan, tapi berakhir dengan ngerjain orang tersebut.

Kisah yang paling seru adalah tentang setangkai kembang yang dikirim salah satu oknum anggota geng “Aagaban” kepada Lintang. Ya, Wicak, Daus, Banjar selain menjalin persahabatan ternyata diam-diam ingin menjalin cinta dengan Lintang. Ironisnya, ternyata diam-diam Lintang malah naksir dengan Geri. Namun, ada satu rahasia tentang Geri yang belum diketahui Lintang, yang nantinya akan membuat Lintang sangat kaget. Apakah rahasia itu?

Meskipun dikemas dengan gaya populer, namun novel ini tetap memiliki kekayaan wacana dan pemikiran tentang idealisme anak muda, misalnya tentang bagaimana setelah lulus studi, bekerja di Belanda atau pulang membangun tanah air tercinta. Bagi peminat sejarah, novel ini juga menyajikan sejarah beberapa kota dan kampus di sana.

Kisah lima sahabat itu diakhiri dengan petualangan mereka mengunjungi beberapa kota di Eropa yang akan membuat Anda terkesima. Hingga akhirnya mereka harus berpisah karena aktifitas pekerjaan masing-masing. Sampai beberapa tahun kemudian mereka dipertemukan kembali dalam acara pernikahan Lintang dengan salah satu anggota “Aagaban”. Siapa dia? Baca saja novel ini sampai tuntas. Selamat membaca! []

Selasa, Oktober 27, 2009

Manusia Setengah Malaikat


Manusia Setengah Malaikat

:yons achmad


Tidak ada kebahagiaan

dalam memiliki atau mendapatkan,

kebahagiaan hanya ada dalam memberi


Henry Drummond (1851-1860)

Pujangga Kanada



Kau pernah menjumpai manusia setengah malaikat? Apa, belum? Saya pernah, bahkan berkali-kali. Mungkin, kau masih sedikit terbingung maksudnya apa. Begini. Malaikat, seperti yang kita mengerti, dia makluk yang boleh dikata serba baik. Segala ciri kebaikan melekat padanya. Jika malaikat semacam ini, makluk yang disebut iblis adalah kebalikannya. Segala keburukan dilekatkan padanya. Sementara, manusia berada di tengah-tengahnya.


Ia bisa baik, bisa buruk. Manusia setengah malaikat, ia hanya gambaran untuk memudahkan pendefinisian saja. Ia, bagi saya adalah manusia biasa, dengan beragam profesi yang dimilikinya, tapi dia, pada suatu ketika, tanpa kita sangka menjadi penolong bagi permasalahan hidup kita. Dan, diam-diam ketika kita mempunyai sesuatu yang berharga, kita akan begitu rela memberikan kepadanya.


Dia ada di mana-mana. Kau mungkin pernah menonton reality show di televisi bertajuk “Tolong”. Kira-kira gambarannya semacam itu. Di sana (walaupun mungkin ada rekayasa tayangan), kita bisa menyaksikan bagaimana orang-orang, para manusia setengah malaikat memperlihatkan ketulusan suci. Seperti salju di gunung, hatinya selalu bersih, putih. Sebuah laku kebajikan tanpa pamrih sedikitpun. Tak pernah membayangkan akan menerima imbalan setelah melakukan sebuah kebajikan tertentu.


Lantas, bagaimana nasib kita? Mungkin kita pernah ditolong oleh manusia setengah malaikat itu. Manusia yang datang pada saat yang tepat. Dikala kita dirundung sedih, ketika nasib terasa malang, dia datang. Dengan uluran hati yang tulus, dengan uluran tangan yang ringan membantu menyelesaikan permasalahan kita. Atau, sekedar mau menerima curahan hati kita yang tak semua orang mau mendengarnya. Dan, itu sudah cukup membuat kita lega setelah meluahkan segala beban yang ada.


Ketika kita mendapati makluk yang demikian, tentu kita merasa sangat senang. Seolah, dia adalah makluk yang sengaja diutus Tuhan. Makluk yang sengaja diturunkan untuk menolong kita. Meringankan beban kita, memberi jalan keluar atas beragam kesusahan dan problem yang melanda kita. Sementara, kita diam-diam menjadikannya benar-benar pahlawan dalam kehidupan kita yang hanya sepotong ini. Kita benar-benar berhutang budi kepadanya.


Manusia setengah malaikat. Tak usah jauh-jauh, kadang, ternyata ia bukan orang lain. Dia bisa jadi kedua orang tua kita, saudara-saudara kandung kita, orang-orang terdekat kita. Singkatnya dia adalah orang yang dengan susah payah mencoba menyayangi kita, tapi kita kadang melupakannya. Ya, orang-orang yang selalu menolong kita, sebegitu seringnya hingga tak kita sadari betapa begitu besar jasanya bagi kehidupan kita.


Jika mau jujur, sebenarnya manusia setengah malaikat itu nyata adanya. Dan dia itu begitu dekat dengan kita. Jangan melihat mereka dengan mata, tapi dengan hati kita. Jika kita sudah mengingat nama-nama mereka, manusia setengah malaikat itu, alangkah bijaknya kita cepat-cepat membalas kebaikannya. Jika belum sempat, setidaknya sebuah ucapan terimakasih yang paling tulus kita berikan dari lubuh terdalam hati kita.


Jika sudah, yang perlu kita pikir sama-sama, kapan kita bisa menjadi manusia setengah malaikat untuk orang lain? Ah, betapa malunya ya dengan prestasi kebaikan kita.


Rumah Kelana, 27 Oktober 2009/ 23.52.

Kamis, Oktober 15, 2009

(Resensi) Perahu Kertas

Dee : Cinta, Impian dan Kejujuran


Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, 2009
Tebal : 444 hal.
Harga : Rp.69,000,-


Di musim paceklik yang terus mengendus, puji Tuhan, bersyukur masih bisa membeli sebuah novel. Kali ini karya Dewi “Dee” Lestari yang berjudul Perahu Kertas. Tak rugi saya mengeluarkan sekian rupiah untuk bisa membaca buku ini. Bagi saya, novel itu semacam pelipur kepenatan dan kebosanan. Dan, novel Dee ini, setelah saya membaca tuntas, bisa membuat saya tersenyum, merenung dan tentu saja memaksa diri belajar kembali tentang rasa kehidupan yang sekian lama terjalani. Saya suka novel ini.


Novel ini, bergenre populer, khas gaya tutur anak muda perkotaan, terutama nampak dalam dialog-dialog di dalamnya. Begitu juga kisah seputar kuliah, buku dan pesta ada dalam cerita. Agak berbeda misalnya dengan “Filosofi Kopi” yang cenderung serius, naratif dan jarang melibatkan kelucuan serta kekoyolan. Entahlah, mungkin ini semacam terobosan untuk lebih dekat dengan pembaca. Orang Indonesia, khususnya anak-anak muda itu sudah bersyukur mau membaca, tak bijak membebani pembaca dengan hal-hal yang berat. Mungkin, itu alasannya. Mungkin.


Jujur, diawal cerita saya agak kebingungan dengan nama-nama khususnya nama Kugy dan Keenan. Nama yang asing bagi saya bahkan sempat bingung membedakan perempuan atau lelakikah, entahlah mungkin saya yang diawal kurang teliti membacanya. Selanjutnya, banyak tokoh di dalamnya seperti Eko, Noni, Wanda, Ojos, Pak Wayan, Adri, Lena, Remi, Luhde, Bimo dll. Sulit, untuk menceritakan kembali kisah mereka. Setelah saya timbang dan pikir, rasanya kok fokusnya Dee ingin menonjolkan kisah Kugy dan Keenan. Begitu yang saya tangkap. Dari kisah keduanya, saya membaui ada sekira tiga hal yang ingin disampaikan Dee, tentang Cinta, Impian dan Kejujuran. Ini menurut bacaan saya. Maaf kalau salah.


Cinta : Ya. Novel ini berkisah tentang cinta yang dipendam oleh Kugy dan Keenan. Keduanya teman satu kampus di Bandung. Bagai langit dan sumur. Begitu kata Dee untuk menggambarkan keduanya. Mereka saling mengangumi satu sama lain. Namun, keduanya sama-sama tak mampu untuk mengungkapkannya. Dan, keadaanpun rupanya tak memungkinkan.


Impian : Kugy, adalah cewek berantakan yang ngebet pingin jadi juru dongeng. Sementara Keenan sangait bercita-cita menjadi seorang seniman, seorang pelukis. Impian tak mulus. Kugy harus melewati hidup dengan realistis menjadi seorang copy writer, sementara Keenan malah harus berbalik arah cukup dratis, bekerja mengurusi perusahaan trading milik ayahnya. Namun, mereka selalu yakin dengan mimpinya. Tak ada yang lebih indah selain keduanya saling mendukung. Dan, begitulah Dee meramu ceritanya dengan apik di dalamnya. Seolah berkata “Jangan Takut Bermimpi”

Kejujuran : Inilah akhir cerita yang mengharu biru. Keduanya (Kugy dan Keenan) sempat berpisah sekian lama. Kugy, sudah punya kekasih bernama Remi, bos di kantornya. Sementara, Keenan juga sudah punya kekasih gadis Bali, Luhde namanya. Cerita begitu rumit. Namun, akhirnya Remi sadar bahwa hati Kugy hanya untuk Keenan, sementara Luhde juga sama, walau rasa cinta itu ada, hati Keenan hanya untuk Kugy. Ini kejujuran pertama. Kejujuran kedua, ketika Kugy dan Keenan jujur membuka hati, melepas ego masing-masing, jujur keduanya saling mencintai.


Kisah yang dipenuhi gelak tawa, kekonyolan, ke-egoan, persahabatan dan tangis ini sungguh begitu manusiawi. Dan, siapapun pasti tersentuh ketika membacanya. Wajar, Dee memang tak main-main menggarap novel ini, butuh sekira 11 tahun mewujudkannya, dan yang pasti ia menulis dengan hati. Hasilnya tentu akan sampai ke hati pula. Jika ditanya apa komentar saya selanjutnya, dengan singkat mungkin saya akan berkata “Novel ini perlu diangkat ke layar lebar, itu saja”. (yons achmad)

Selasa, September 29, 2009

Ziarah "Cinta" Lebaran


Ziarah "Cinta" Lebaran

Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

(Rumi, penyair sufistik)

Lebaran 2009, saya mengawali dengan berziarah.

Pada sebuah pemakaman, seorang ibu bercerita,
tentang anaknya yang telah meninggal dunia.

Saya, dengan khusuk mendengarnya.
Kira-kira, seperti ini kisahnya...

Anaknya tutup usia pada umur yang masih cukup muda, 19 tahun. Doddy Makoto namanya. Sekira beberapa tahun silam. Baru saja lulus SMA. Rasanya, mana ada seorang ibu yang tak sedih dan berduka pertamakali mendengar kabar anaknya telah meninggal. Kesedihan itu nampak ketika saya mendengar tuturna, walau kemudian saya menyadari pelan-pelan sejatinya wajah keikhlasan yang diperlihatkannya.

Kematian itu karena sebuah kecelakaan motor. Waktu itu anaknya membonceng motor temannya pada kecepatan tinggi, 110 km/jam. Cukup kencang memang. Lalu tiba-tiba motor menabrak pohon. Dan terlempar ke jalan. Anaknya masuk rumah sakit sebentar dan dinyatakan meninggal. Sementara temannya yang di depan hanya luka, tak sampai kehilangan nyawa. Kejadian tersebut tentu membuat terkejut seluruh anggota keluargannya pada waktu itu.

Tak ada tanda-tanda berarti sebelum kejadian itu...

Hanya, sang ibu bercerita ada sedikit yang beda. Anak lelakinya itu, beberapa hari sebelum meninggal begitu dekat dengan sang ibu. Ia juga tiba-tiba berpesan rada aneh, justru kepada ibunya. Katanya “Mah, jangan marahin adek-adek ya kasihan”. Sederhana memang, tapi itulah kata-kata terakhir yang dikenang sang ibu. Selain itu, sebuah pesan kecil, kalau bisa tembok rumah segera dicat. Katanya biar kalau teman-temannya datang nggak malu-maluin. Maklum, adek-adeknya, karena masih anak kecil sering corat-coret tembok.

Begitulah. Saya tak tahu. Mungkin ini yang sering disebut orang dengan firasat. Sebuah peristiwa yang kadang dialami oleh mereka yang akan ditinggalkan orang tercinta disekitarnya. Entahlah, saya hanya sekedar mengikuti cerita itu. Setelahnya, saya dan beberapa anak sang ibu tersebut mendekat ke makam. Mulai berdoa, semua terdiam, menunduk, memohon doa agar almarhum mendapat kebahagiaan di alam sana. Lalu sama-sama menabur bunga di atas makam itu.

Bagi saya, ini sebuah pengalaman religius tersendiri. Sengaja ziarah ke sebuah makam, jujur seingat saya belum pernah melakukan. Bahkan untuk khusuk mendoakan orang yang telah meninggal, kayaknya juga belum pernah. Dan pengalaman ini tentu saja membuat diri semakin ingat bahwa kematian itu kadang datang tiba-tiba. Menjadi sebuah momentum berkomtemplasi, menjadi bahan perenuangan agar semakin sadar untuk memanfaatkan umur sebaik mungkin. Tentu dengan amal-amal baik yang menyertai sebagai bekal kembali.

Sementara, dari pertemuan dengan sang ibu tadi, walau sementara, saya juga mesti belajar tentang arti ketabahan, keikhlasan dan tentu saja kesabaran. Bagaimana tidak, sang ibu tadi, sependek yang saya tahu, sampai kini telah berhasil membesarkan ke-enam anaknya seorang diri. Ya, seorang diri. Suaminya, entahlah, saya belum berkesempatan mendengar kabarnya.

Salah satu anaknya, kebetulan sahabat baik saya. Dia seorang muallaf walau telah memakai jilbab (gaul sih), gadis pecinta buku, perempuan mengasyikkan dan enak diajak ngobrol dan tentu saja dia itu lucu. Walau Soal selera semuanya memang berbeda. Contoh kecil saya suka merah, dia suka biru, saya anti cabe, dia sangat suka makanan pedas, dia begitu suka duren, saya nggak doyan sama sekali, dia slowr rock, saya punk rock, saya ingin jadi novelis, dia ngebet banget jadi artis. Yang terakhir ini, setiap saya tanya kembali selalu kukuh. Jadi artis. Buset dah. Tapi saya tahu dia hanya becanda. Ho..ho.

Semoga sifat-sifat baik sang ibu tadi menurun kepada anak-anaknya. Termasuk menurun pada anak gadisnya yang satu itu.

Setelah beberapa lama, dan matahari mulai genit dengan sinar panasnya, kami pun meninggalkan pemakaman di bilangan Jakarta Selatan itu. Pelan, kami meninggalkan rumah terakhir manusia itu. Iseng saya kembali menoleh ke belakang.

Barisan pohon-pohon dan dedaunan ikut menggoda, seolah berkata “Kawan, semoga sang ibu itu kelak menjadi ibumu juga”....

Teringat Novel Sang Al-Chemist karya Paulo Coelho, penulis idola saya

“Ketika kamu punya keinginan baik, maka seluruh alam raya akan bersatu padu mendukungmu”

Dan, saya hanya bisa tersenyum...

Rumah Kelana, akhir September 2009