Selasa, Desember 22, 2009

(Resensi) Facebook, Jalan Menuju Surga

Facebook, Jalan Menuju Surga

:yons achmad*


Judul Buku : Facebook : Sebelah Surga, Sebelah Neraka

Penulis : Yanuardi Syukur

Penerbit : Diva Press, Jogjakarta

Cetakan : I 2009

Tebal : 179 Halaman


Apa manfaat facebook buat Anda? Saya kira semua pemakai akan dengan cepat menjawabnya. Tapi ketika muncul pertanyaan, apakah dengan facebook Anda memberikan manfaat bagi orang lain? Saya kira, jawaban tak semudah dan secepat pertanyaan pertama. Buku inilah yang akan memberikan semacam panduan singkat bagaimana bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan aktivitas facebook-ing yang kita lakukan.


Buku ini diawali dengan pemaparan mengenai pernak-pernik facebook. Mulai dari paparan sejarah tentang facebook, langkah-langkah mudah membuat acount di facebook, sampai memahami aplikasi-aplikasi di dalamnya. Saya kira bab ini sudah banyak orang yang memahaminya. Nah, yang menarik soal pembahasan mengenai facebook baru muncul di halaman 103 dan seterusnya. Penulis memaparkan sebuah pembahasan mengenai “Dakwah Lewat Facebook”.


Seperti dalam pengertian agama, dakwah sendiri sering diartikan bagaimana mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan. Ajakan secara konvensional, seperti yang kita pahami sering melalui ceramah-ceramah agama, maupun khotbah-khotbah yang dilakukan juru agama di masjid-masjid. Seiring perkembangan teknologi komunikasi yang tak terbendung lagi, maka aktivitas syiar pun berkembang sesuai jaman. Saat ini, melalui apa yang disebut jejaring media, facebook adalah salah satunya.


Kata kunci dalam buku ini sebenarnya terletak pada sikap. Yaitu bagaimana sikap kita bagaimana benar-benar menggunakan semacara maksimal fitur-fitur yang ada dalam facebook untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. Baik melalui aplikasi status, note, video, event dll.


Dalam buku ini, kita juga diingatkan untuk berfacebook secara beradab. Mulai dari tak menghina atau memfitnah orang, mengurangi status yang isinya hanya berkeluh kesah saja sampai mengingatkan kita itu saling nasehat menasehati dalam kebaikan. Sederhana memang, tapi kadang kita lupa untuk menerapkannya dalam praktek. Kesimpulannya, jika Anda bisa melakukan hal yang demikian, maka facebook bisa mengantarkan Anda menuju surga. Kalau tidak, ya sudah pasti sebaliknya. Semua tergantung sikap kita. []


*Penikmat buku dan senja

http://penamuda.multiply.com

Kamis, Desember 17, 2009

(Resensi) The Joshua Files : Invisible City


Teori Konspirasi Kiamat 2012

:yons achmad*


Judul Buku : The Joshua Files : Invisible City

Penulis : M.G Harris

Penterjemah : Nina

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : I 2009

Tebal : 381 Halaman


Anda percaya kiamat terjadi tahun 2012? Saya kira masing-masing dari kita mempunyai jawaban yang berbeda. Kalau saya tidak percaya. Tapi, bagaimana jika ramalan kiamat 2012 itu didedahkan dalam sebuah karya sastra (novel). Ini yang menarik. Sebab, karya sastra walaupun bisa ditulis dengan data-data atau fakta temuan sebuah penelitian, tetap saja ia adalah sebuah karya fiksi. Sebuah karya di mana imajinasi dirayakan secara suka-suka oleh penulis.


Pada titik inilah M.G Harris mengemas isu seksi ramalan kiamat secara cantik dalam sebuah kisah. Seperti kita sering baca atau dengar lewat media, tragedi kiamat yang bakal terjadi pada tahun 2012 kelak, berasal dari ramalan kalender suku Maya di Meksiko. Satu pertanyaan besar, benarkah ramalan tersebut? Alih-alih menjawabnya, sang penulis justru mengajak pembaca lewat novel ini masuk ke dalam dunia teori konspirasi. Sebuah dunia di mana imajinasi mendapatkan tempat di dalamnya.


Mengenai suku Maya kuno sendiri, konon dikenal sebagai suku yang mempunyai teknologi tinggi. Piramid-piramid serta berbagai kota batunya menyebar dari Meksiko hingga ke Guatemala, Belize, dan Honduras. Mereka mencapai puncak kejayaan peradaban kira-kira pada 900 Masehi. Lalu peradaban mereka menghilang secara misterius. Kota-kota besar mereka tinggalkan dan kembali ke hutan. Kalender “Perhitungan Panjang” mereka berakhir pada tanggal 22 Desember 2012.


Kisah dalam novel ini, dimulai dengan awal yang menyentak. Tentang kematian misterius arkeolog Meksiko secara tidak wajar. Anaknya, Josh Garcia tidak terima begitu saja penjelasan kepolisian mengenai kematian ayahnya yang disebutkan sebagai kecelakaan. Melalui sebuah blog “The Joshua Files”, anak berusia 13 tahun penggemar oleh raga beladiri Capoeira ini menuliskan catatan-catatan untuk mencari kebenaran di balik kematian ayahnya. Dan petualangan pun berlangsung.


Teori konspirasi muncul dalam sebuah pertanyaan, kenapa para arkeolog Maya selalu tewas ketika meneliti “kitab” ramalah kiamat itu? Seperti juga dialami ayah Josh. Di situ, disebutkan, sebenarnya ada orang yang entah siapa memanfaatkan kebohongan ini untuk kepentingan sendiri, bisnis salah satunya. Apalagi, “kitab” tersebut yaitu Codex Ix, juga selalu menghilang, tak ada yang menemukan. Setiap kali ada peneliti yang coba-coba mencari tahu, hasilnya selalu tewas.


Entah bagaimana sebenarnya ramalan tentang kiamat itu. Namun, beberapa kalangan di komunitas new age tidak setuju. 22/12/2012 menurut mereka adalah tanggal kelahiran kembali, fajar era kesadaran yang baru. Penelitian boleh sibuk mencari kebenaran sebagai laku akademis. Tapi, pada titik ini, saya menemukan rahasia kreatifitas. Jika, ada yang mengatakan ada kalangan yang memanfaatkan isu ramalan kiamat ini, M.G Harris sendiri melakukannya. Dia membuat produk berupa novel dan menjualnya, begitu juga misalnya pembuat film 2012. Kreatif bukan? Sementara, masyarakat umum hanya bisa mengkonsumsinya (seperti saya).


Tapi, sekedar intermezo soal ramalan kiamat ini, sebenarnya yang paling menyenangkan adalah bagi mereka kalangan “Spiritualis Sufistik”. Mereka tak terlalu ambil pusing dengan ramalan kiamat tersebut, kapan kiamat terjadi tak jadi soal, yang terpenting adalah laku kebajikan terus selalu dikerjakan, tambahan bagi mereka yang muslim, tidak menyekutukanNya. Begitulah kira-kira.


Jadi, bagi Anda penikmat karya sastra, terutama novel, kalau ada waktu luang, baca buku ini, walaupun bergenre novel remaja, lumayan menarik juga, terutama bagi penggemar teori konspirasi dan penyuka sejarah. Selamat membaca. []


*Penikmat buku.

Rabu, Desember 09, 2009

(Resensi) Nagara Krtagama


Catatan Harian Mpu Prapanca
:yons achmad”

Judul Buku : Nagara Krtagama : Masa Keemasan Majapahit
Penyusun : I Ketut Riana
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 483 halaman
Harga : Rp 89.000

Sebuah catatan harian yang dasyat. Membaca karya Mpu Prapanca ini, membawa saya terbang ke duna masa lalu, masa kejayaan Majapahit waktu itu. Era abad ke-14, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Sosok yang dianggap sebagai titisan Bhatara Hyang Giri Natha (Bhatara Siwa) di mana bertugas menenteramkan dan menyejahterakan rakyat Nusantara. Jujur, selama ini, saya memang mendapatkan informasi tentang kerajaan Majapahit tapi tidak mendapatkan detail ceritanya. Lewat buku ini, saya memperolehnya. Lagi-lagi saya terkesima bagaimana catatan harian menjadi fenomenal, bisa menjadi sejarah tersendiri seperti buku ini. Warisan leluhur yang kelak bisa menjadi pembelajaran masyarakat setelahnya.

Catatan yang dibuat Mpu Prapanca memang tak sekedar catatan harian biasa. Catatan ini dikemas dalam sebuah karya sastra berbentuk Kakawin. Kata kakawin sendiri diartikan sebagai “Nyanyian”, bentuk dasarnya adalah kawi “penyair, pengarang”, mendapat pengulangan suku pertama /ka-/ yang dalam istilah afiksasi bahasa Bali disebut dwipurwa “pengulangan suku pertama”, serta mendapat sufiks {-n/-n} menjadi kakawin “nyanyian”. Kata kawi berarti : “pujangga, penyair ; mahir dalam menggubah puisi, dan kata kakawin bermakna syair ; karya puisi dalam metrum India. Begitu kata pembukaan dalam buku ini.

Sebenarnya, judul asli catatan ini bukan Nagara Krtagama, tapi Desa Warnnana (gambaran mengenai desa-desa). Namun entah mengapa, sampai saat ini kita lebih akrab dengan sebutan Nagara Krtagama. Mungkin perlu diadakan penelitian yang lebih seksama agar diketahui secara terang benderang alasannya sampai dikenal dengan nama Nagara Krtagama.

Catatan ini sendiri menggambarkan kemegahan dan keagungan kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan Nusantara terbesar yang sejak 700 tahun silam. Dimana kerajaan ini sudah dikenal hingga ke Pulau Madagaskar di Samudera Hindia, di lepas pantai timur Afrika.

Ingin tahu bagaimana gambaran kejayaan itu? Bayangkan saja gambaran Mpu Prapanca berikut: Dikisahkan istana sangat mengagumkan bertembok batu bata merah kukuh dan tinggi, di sana tempat para petugas terus menerus berganti-ganti menjaga keamanan balairung istana. Disebelah utara gapura cemerlang menakjubkan dengan pintu besi berukir indah. Balai Agung Manguntur dan Balai Witana di tengah, di depan istana berbetuk segi empat amat luas dengan bangunan ruang terbuka di tengah-tengah. Banyak perumahan-Wisma Para Menteri, para pejabat negeri sebagai tempat Para Patih, Demung, ketika berkumpul untuk bermusyawarah.

Di timur laut wisma Gajah Mada Sang Patih Majapahit, menteri pemberani, bijaksana, lihai serta bakti pada raja dan negara. Fasih dan ahli berbicara, tutur katanya manis, tenang dan usahanya tak pernah menyimpang. Ibarat bulan matahari istana Majapahit indah tiada taranya, perumahan-perumahan bersinar indah tertata mengelompok amat rapi, bagai cahanya bintang kerajaan bagi yang lain terutama Daha, negeri-negeri di Nusantara semua tunduk dan berlindung pada Majapahit.


Alamaaak. Saya terhanyut dengan gambaran Mpu Prapanca yang detail ini. Kutipan diatas sebenarnya hanya nukilan yang saya comot acak sebagai contoh saja. Gambaran tersebut yang pada akhirnya dijadikan pedoman untuk menyusun denah Istana Majapahit. Tapi, yang menarik perhatian adalah mengenai rumah Patih Gajah Mada. Meski kebesaran Gajah Mada sedemikian rupa, ternyata rumahnya berada di luar komplek istana. Nah, saya kira fakta ini perlu dijadikan penelitian tersendiri, kenapa bisa demikian?

Mengenai Mpu Prapanca sendiri, sebenarnya Ia bukan nama sebenarnya, ia adalah nama pena. Seperti dalam catatannya; Demikian pula yang bergelar Prapanca, ikut pesiar mengiringi Baginda Raja, tak lain Sang Kawi putra Sang Pujangga gembira dibarengi ketika mengarang keindahan (hal 119). Mpu Prapanca sendiri kalau membaca kitab ini, dia tak selalu nyaman mengikuti Baginda Raja. Dalam kisahnya : Maka tiba di Pancuran Mungkur hari masih pagi karena cepat jalannya kereta seraya beristirahat, perjalanan Sang Pujangga-Prapanca menyimpang serta mampir di Sawungan mengunjungi keluarga akrab, ketika matahari telah tinggi berangkat pula mengikuti jejak perjalanan Baginda Raja (hal 129). Entahlah, apa yang sebenarnya ingin dikatakannya. Mungkin dia hanya ingin mencari suasana lain.

Kitab ini sebenarnya bukan kitab puji-pujian semata yang selalu dibuat oleh kalangan pujangga istana. Kitab ini konon memang tidak populer pada zamannya. Menurut pengakuan Mpu Prapanca, kitab ini dibuat dengan ketulusan, bukan paksaan Baginda Raja. Pembuatannyapun tidak dilingkungan istana, tapi di sebuah dusun. Perasaan bernama Prapanca sangat tertarik melihat para pujangga besar di istana, maka beliau ikut menggubah pujian untuk Baginda Raja tetapi jauh kemungkinan karangan itu tersebar di lingkungan istana (negeri). Begitu pengakuan Prapanca.

Tapi, satu hal yang membuat saya terkesan dan tersentuh. Ya, pada sebuah kisah di mana semua orang senang tapi Mpu Prapanca begitu sedih. Kisahnya : Tersebutlah Baginda Raja memberikan hadiah pada masyarakat umum, semua para kawi/pujangga ikut pula diberikan hadiah, semua rakyat bergembira serta memuji-muji. Adapapun pujangga dengan julukan Prapanca saja yang berduka dan sedih tiada henti karena Sang Pujangga Upapati Budha Marpanji Kertayasa meninggal dunia. Niatku datang bertemu Dia dalam keadaan sehat....beliau meninggal ketika aku datang, maka sangat menyedihkan serta kecewa.

Saya kira inilah sisi kemanusiaan Mpu Prapanca sebagai pengarang yang cukup menyentuh perasaan. Membuat saya ingin lebih mengenalnya setelah membaca buku ini. Kesan saya begitu. Nah, bagi siapapun (Sejarawan, Dosen, mahasiswa, masyarakat umum), buku ini bisa dijadikan semacam pengantar untuk mengetahui sejarah kejayaan Majapahit dan mengenal sosok Mpu Prapanca lebih dekat. Saya sendiri cukup terkesima dengan buku ini dan tiba-tiba jadi tertarik untuk membaca buku-buku sejarah yang lain. []

*Penikmat Buku

Sabtu, Desember 05, 2009

Dewi “Dee” Lestari Buka-Bukaan !!!

Dewi “Dee” Lestari Buka-Bukaan !!!
:yons achmad*

Pernah membaca karya Dewi “Dee” Lestari? Saya membaca beberapa karyanya. Dan saya merasakan memang ada pesona tersendiri. Dee selalu menawarkan sisi lain dari sebuah dunia, dia kemas dalam karya sastra yang saya kira cukup elok. Tak heran karya-karya sastranya digemari banyak orang, bukunya meledak menjadi best seller.

Saya penasaran apa sebenernya rahasianya? Lalu saya melakukan riset kecil-kecilan mendalami proses kreatif kepenulisan Dee. Membaca karya-karyanya, menekuni note (catatan-catatan) lewat blog atau situs jejaring sosialnya, maupun hasil wawancaranya di berbagai media. Dan, memang sosok Dee dan karyanya menarik untuk diketahui publik. Terutama tentu bagi mereka yang ingin berkecimpung dalam dunia kepengarangan. Atau setidaknya sebagai pembelajaran dan pencerahan seputar proses kreatif kepenulisan.

Satu pembelajaran terbesar adalah kesabaran...

Saya menangkap rahasia itu. Cita-cita Dee untuk bisa menulis buku ketika Ia berusia 9 tahun. Ingin tahu berapa lama cita-cita itu tercapai? Sangat panjang, perlu waktu 16 tahun sampai buku pertamanya terbit. Apa yang dilakukan Dee kecil waktu itu. Ia sudah membiasakan diri dengan menulis. Ia melakukannya pada sebuah buku tulis bersampul foto artis Dian Pisesha dengan pulpen bermerek Le Pen bertinta biru. Dalam buku itu dihasilkan sebuah cerita berjudu’ Rumahku Indah Sekali”. Menapak usia SMP, mulai rajin menulis buku harian sampai bertumpuk-tumpuk. Sampai disini, tesis Hernowo sang mentor kepenulisan itu benar bahwa efek menulis catatan harian memang dasyat bagi karir kepenulisan kelak.

Mengenai kebiasaan sewaktu kecil, Dee juga memperlihatkan tanda-tanda “aneh” yang sering dimiliki para pengarang hebat pada umumnya. Pengamat yang detail. Sewaktu kecil, ia suka kelereng. Bukan untuk dimainkan, tapi diamati. Ia menghabiskan waktu yang panjang hanya untuk mengamati sebola kelereng di terang lampu. Serasa ada galaksi ajaib di dalam bola itu. Kilau yang dipantulkan kaca dalam kelereng seolah membentuk labirin dan bintang-bintang, dan Dee terlongo-longo dipukau keindahannya. Dia juga kecanduan mengamati langit. Mencari bentuk dan wajah di awan, menghayati warna-warni senja sampai dada sesak oleh haru. Sebuah kebiasaan yang terus berlanjut hingga dewasa: mengamati angkasa hingga menunggu ia “berbicara”.

Itulah pengalaman personal Dee. Saya kira, kebiasaan swaktu kecilnya itu berpengaruh terhadap karya-karyanya. Kedetailan. Ia mencoba menggambarkan tokoh dan suasana secara detail. Harapannya mungkin berusaha menampakkan sesuatu secara kuat. Baik latar maupun tokoh-tokohnya. Dalam sebuah proses kreatif penulisan novel, saya kira usaha semacam ini perlu. Apa jadinya kalau pembaca tak berkesan sama sekali pada penggambaran suasana, maupun tak terkesan sama sekali dengan tokoh yang dimunculkan. Tentu, novel itu akan terasa hambar.

Selanjutnya adalah kedisiplinan...

Dalam sebuah wawancara di Majalah Kampus Uhamka Ia memberikan penjelasan seputar itu. Meluangkan waktu khusus untuk menulis tanpa diganggu itu sangat perlu. Kalau bisa ada disiplin yang jadi tolok ukur, bisa dari durasi waktu bekerja atau banyaknya halaman per hari. Dee juga mengatakan, sediakan Kamus Besar Bahasa. Begitu resepnya.

Saya yakin apa yang dikatakan Dee itu bukan omong kosong belaka. Misalnya untuk mendisiplinkan diri menulis, khusus meluangkan waktu menulis, ia rela untuk kost. Ia memilih yang dekat dengan lingkungan mahasiswa karena proyek kepenulisannya berkaitan dengan pergaulan mahasiswa. Hasilnya, 55 hari Ia selesai menulis novel terbarunya yang berjudul “Perahu Kertas” terbitan Bentang Pustaka. Kisah yang bercerita tentang proses pertemuan dua manusia, Keenan dan Kugy. Yang satu penulis, yang satu lagi pelukis. Saya suka novel ini. Dasyat. Omong-omong, kau sudah membacanya?

Rabu, November 25, 2009

Rahasia Penulis Cerita Anak

Rahasia Penulis Cerita Anak
:yons achmad*

Bagaimana menulis cerita anak? Jawabnya mungkin gampang-gampang susah. Mengenai teknisnya mungkin bisa dipelajari dan dilatih terus menerus. Tapi, yang kadang susah saya kira menemukan ide ceritanya. Menulis cerita anak mengharuskan kita menyelami dunia anak-anak, menulis yang sekiranya bisa dimengerti oleh mereka. Dan tentunya, seperti banyak pakar kepenulisan bilang, jangan terlalu menggurui.

Mengenai ide cerita, saya mendapatkan sedikit pencerahan setelah membaca novel Perahu Kertas karya Dewi “Dee” Lestari yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Memang novel itu tidak sepesifik bercerita mengenai kepenulisan cerita anak. Namun, melalui salah satu tokohnya, kita bisa belajar mengenai hal itu.

Dalam novel itu, ada tokoh bernama Kugy, cewek yang punya mimpi menjadi juru dongeng alias penulis cerita anak. Dia bereksperimen mengunjungi salah satu sekolah alam “Sakola Alit” di pedalaman. Dan mencoba mendongengi mereka dengan kisah Teddy Bear, Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood dll. Hasilnya, murid-murid sekolah itu hanya terbengong-bengong karena tak mengerti. Cerita itu tak dipahami mereka. Sebab dunia mereka memang tidak dekat dengan tokoh-tokoh yang diceritakan Kugy.

Akhirnya, dia menciptakan tokoh-tokoh berkharakter sesuai dengan lingkungan mereka. Lantas, dia menemuka ide cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Tokoh-tokohnya Hogi Si Ayam Pelung Keramat, Palmo si Kambing Nekad, Gogog si Anjing Jago Renang, Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda Tanda dll.

Hasilnya, seperti ada kejaiban. Setelah Kugy membuat sesuatu dari dunia mereka, sesuatu yang mereka kenal, mendadak seperti ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka (anak-anak itu). Lantas, mereka kemudian sangat girang, seperti ada harapan, kebanggaan dan semangat. Itulah sebagian penggalan cerita dalam novel karya Dee yang laris manis itu. Sebuah pelajaran yang bisa kita ambil ketika akan menulis cerita anak-anak.


Memang benar adanya bahwa tokoh menjadi begitu penting dalam cerita anak. Kadang cerita sebagus apapun (dalam kacamata orang dewasa) tak begitu menarik anak-anak yang membacanya jika tokohnya tidak mereka sukai. Disinilah rasanya penting menciptakaan tokoh yang bisa menjadi kebanggaan, dapat menjadi teman, bahkan idola mereka. Dalam memunculkan tokoh itu juga ada strateginya, kalau bisa jangan menciptakan tokoh yang terlalu banyak dalam cerita sebab akan membuat bingung anak-anak. Mereka akan kesusahan dalam mengidentifikasi tokoh-tokoh yang ada.

Dalam novel tersebut, ada satu kebiasaan yang dilakukan oleh Kugy, yaitu selalu mencatat apa-apa yang dialaminya bersama anak-anak sekolah alam itu. Selain mencatat, juga membuat sketsa-sketsa. Buku itu semacam “Buku Sakti” yang kelak akan menjadi pertimbangan dan rujukan ketika akan menulis cerita anak. Seperti kebanyakan penulis, tak terkecuali penulis cerita anak, memang kebanyakan mempunyai buku kecil yang digunakan untuk mencatat kejadian, peristiwa menarik yang ditemuinya, atau mencatat ide-ide yang muncul agar tidak hilang begitu saja.

Ini sebagian rahasia bagaimana menjadi seorang penulis cerita anak dalam novel best seller ini. Menang belum sepenuhnya rahasia itu dimunculkan oleh pengarangnya. Tapi setidaknya memberikan gambaran bagaimana seorang penulis cerita anak itu perlu menyelami kehidupan sosial mereka. Agar bisa menuliskan cerita yang mudah dipahami, mudah dimengerti, dekat dengan dunia mereka. Yang akhirnya menjadi bacaan menyenangkan dan mengasyikkan bagi anak-anak.

Begitulah Dee, baik sadar atau tidak sadar telah mengajarkan kita menemukan rahasia bagaimana bisa berkarya menjadi penulis cerita anak. Setelah bisa menyelami dunia-anak-anak dan menemukan ide cerita, hanya satu agenda kita sekarang yaitu MENULISKANNYA. So, Selamat bekerja, semoga berhasil ya :-)! []

*Penulis, Publisis, Penikmat Sastra & Pengelola http://komunikata.net