Selasa, Februari 09, 2010

(Novel) Aku Panggil Dia Senja (1)

Aku Panggil Dia Senja

(Sebuah Novel)



Kisah ini fiksi belaka

hanya rekaan

sebuah kisah imajinasi

seorang pengarang :pecinta senja



Prolog

Surat untuk Muyasa

Muyasa yang baik….


Bukan saya tak peduli. Bukan saya tak sudi membalas pesan-pesanmu. Kamu tahu. Masih ada kisah terkenangkan. Saya hanya sedang ingin sendiri. Merenungi setiap kisah yang sempat tercapat dalam kehidupan. Saya tak mau tergesa, sebab saya sangat membenci perceraiaan, saya sangat membenci perpisahan. Saya ingin membangun sebuah kelanggengan. Tak perlu terburu-buru. Coba dengarkan dulu kisah saya.


Salam

Kelana

(1) Danau Kecil Itu


Disinilah pertama kali aku bertemu dengannya…

Pada sebuah danau kecil di pinggiran Jakarta. Entahlah, apakah Ia masih mengingatnya. Yang aku tahu, tempat inilah saksi bisu. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan seseorang yang selama ini hanya ada dalam bayangan saja.

Gadis ini, orang pertama yang aku hubungi saat pertamakali merantau ke Jakarta. Ia membantuku menunjukkan jalan-jalan Jakarta. Jalan yang mesti aku tempuh untuk sebuah pekerjaan pada perusahaan yang cocok denganku. Belum-belum aku memang sudah begitu merepotkannya.

Hening...

Ia tiba, aku mencuri menatap matanya. Mata yang lembut. Mata yang kelak selalu terkenangkan. Tak banyak cakap. Ia begitu pemalu. Aku jadi salah tingkah. Lebih banyak membuka pembicaraan, ngobrol sana-sini. Sementara, gadis ini lebih banyak diam.

Dan di Jakarta, Ia satu-satunya gadis yang begitu akrab. Setidaknya ini anggapanku. Aku merasa, sejak pertamakali bertemu dengannya langsung dekat. Langsung cocok, walau aku sadar Ia masih begitu tertutup.

Yang pasti, danau kecil itu selalu kuingat.

Tempat yang menjadi sejarah tersendiri dalam kehidupanku. Jika ada waktu kosong, aku masih selalu duduk disitu. Sendiri, sambil membaca buku, atau sekedar mendengarkan musik. Mataku berkaca-kaca. Tapi hatiku selalu mencoba tersenyum.

Masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi dikenangkan...


(2) Aku Panggil Dia Senja


Aku panggil dia senja...

Bukan dalam kehidupan keseharian. Tapi dalam catatan-catatan harianku.

Senja...nama yang begitu bermakna bagiku.

Sejak kecil aku memang menyukai senja. Senang menatapnya, pada sebuah sore saat matahari tenggelam. Aku merasa itulah saat magis. Aku selalu tersenyum ketika menatap senja.

Saat aku kuliah. Kebiasaan menatap senja berlanjut. Tapi aku lebih suka pergi ke pantai. Duduk di tebing. Diiringi irama gemuruh gelombang, aku menatap senja. Hingga, aku merelakannya ia dipeluk malam.

Senja, bagiku adalah kedamaian. Aku merasa damai ketika memandang senja. Senja, bagiku adalah kesunyian. Aku benci keramaian sebab itulah aku selalu menyukai senja. Begitu juga, senja adalah saat dimana keheningan menggelayut.

Saat itulah momentum tepat untuk merenung. Menghitung dan menimbang kembali apa yang telah dilakukan sepanjang hari. Saat untuk mengkoreksi diri. Apakah telah banyak membuat orang tersenyum, atau lebih banyak menyaiki hati orang.

Tapi, alasanku memanggil senja kepadanya, adalah damai. Ya, gadis itu telah memberikan kedamaian tersendiri. Aku sangat nyaman ketika bersamanya. Merasa tenang.

Aku tak menyadari, ternyata gadis itu merasa sebaliknya. Sebuah kebodohan yang tak bisa kubaca dari awal.

Namun, aku masih suka panggil dia Senja. Nekat memang.


(3) Universitas Nusantara


Di kampus ini senja bekerja...

Menjadi staf Pusat Dokumentasi dan Informasi. Aku sangat menyukai pekerjaannya. Universitas Nusantara sendiri universitas kecil ditengah kota Jakarta. Gedungnya tak terlalu luas, tapi namanya melambung di pentas nasional.

Tokoh-tokoh nasional lahir dari kampus ini. Dosen-dosen menulis di berbagai media tanah air. Mewarnai dengan pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan. Mendorong perubahan bagi perbaikan negeri.

Mahasiswa sendiri tak mau ketinggalan. Rame-rame berlomba menerbitkan buku. Mereka berusaha mengumpulkan tulisan-tulisan sesuai dengan mata kuliah yang sedang diambil.Perjuangan memang panjang, mereka harus mati-matian mencari sponsor penerbitan buku. Jika sedang sial, mereka terpaksa urusan dengan uang masing masing asalkan buku tetap terbit.

Di kampus yang punya iklim akademis tinggi inilah bertahun-tahun Senja menghabiskan waktunya. Kadang aku berpikir, wajar dia pinter begitu, setiap hari bergelut dengan buku-buku.

Aku sendiri kadang mengunjungi tempat kerjanya. Dengan alasan mencari referensi sebagai bacaan yang mendukung karirku. Padahal, kalau boleh jujur, alasan utamanya hanya ingin sekedar bertemu dengannya. Bisa menatapnya, walau sebentar.

Pikiran konyol sering terselip “Senja, kamu terlihat seksi dengan buku-buku itu”. Alamaak !!!


(4) Tachiomi


Di Jepang, tradisi Tachiomi berasal…

Sebuah tradisi mengunjungi toko buku. Membaca sambil berdiri, tanpa melulu membelinya. Keluarga-keluarga di Jepang sangat menyukai aktivitas ini, wajar kalau kemudian kita tahu, bangsa Jepang begitu maju. Mereka sangat rakus untuk mendapatkan informasi yang mendukung demi peningkatan kualitas hidup mereka.

Aku dan Senja, juga melakukannya.

Biasanya sepulang kerja. Kami berjanji bertemu di sebuah toko buku. Disitu kami menghabiskan waktu. Tak lama memang, kadang tak lebih dari satu jam. Kalau sudah ber-Tachiomi, masing-masing punya selera sendiri.

Berpisah membaca dan berburu buku...

Kadang aku menoleh, mencari kemana Senja. Kusapu ruangan, sepanjang toko buku. Tak ada. Dengan lagak sok peduli, aku mencarinya.

Sampai aku temukan Senja sedang duduk membaca dengan buku kesukaannya. Melihatnya aku tersenyum, tentu Senja tak melihatku ketika aku benar-benar sedang memperhatikannya. Tengsin tau.

Sampai aku tinggalkan Senja asyik membaca buku, sambil berdoa agar petugas penjaga toko buku tak menegurnya Senja duduk begitu. Biasanya sih hanya diperbolehkan membaca sambil berdiri.

Yang pasti, ber-Tachiomi aktivitas menyenangkan bagiku, apalagi bersamanya.


(5) Jakarta Bekasi


Apa yang menarik dari Jakarta Bekasi?

Tentu semua orang punya cerita yang berbeda.

Begitu juga aku dan Senja...

Entah, sudah berapa kali jalan Jakarta Bekasi kami lewati. Dengan canda, cerita-cerita biasa tapi kadang penuh kekonyolan. Atau kadang hanya terdiam. Membisu saja. Tau-tau sudah sampe ke rumah Senja.

Aku memandangnya. Memastikannya sudah masuh rumah. Lalu pulang.

Dalam perjalanan, aku sering beralasan perut lapar. Sengaja agar Senja mau sekedar beristirahat. Sambil makan seadanya, atau sekedar minuman hangat tak masalah. Yang penting bisa berlama-lama dengannya. Ini alasan utamanya.

Senja, tak suka Kafe. Sesekali makan di mall masih mau, selebihnya lebih banyak mampir ke warung pinggir jalan. Senja sukanya ayam goreng atau mie. Minuman seleranya juga sederhana saja. Teh botol atau sekedar teh tawar itu saja.

Aku selalu suka gaya makannya. Ketika makan mie, Senja selalu memutar-mutar mie lewat ujung garpunya. Kadang aku cuman tersenyum melihatnya tanpa protes. Selebihnya, makan seperti biasa.

Tapi, aku kadang ingat ketika perjelanan melewati warung sate, entah berapa kali senja berteriak “Uhhhhh bau kambing”. Seperti biasa, aku hanya bisa ketawa melihat ekspresinya.

Jakarta Bekasi : Jalan berkerikil dan berlubang itu kalau bisa ngomong, entah ia akan berbicara apa. Yang pasti aku selalu tersenyum ketika mengenangnya.


(6) Sebuah Karir Pilihan


“Kalau aku pindah kerja gimana?”

Begitu kata Senja suatu ketika...

Awalnya kupikir dia becanda. Yang kupikirkan saat itu sudah bener Senja bekerja di lingkungan kampus. Setidaknya, dunia itu bisa memperluas wawasan, memperluas pemikirannya. Dan ini sangat penting bagi peningkatan kualitas kehidupannya Begitu juga kampus itu penuh dengan tokoh-tokoh ternama, ditambah lagi iklim intelektual yang mendukung. Lingkungan kerja yang aku pikir mengasyikkan.

Rupanya, pikiranku meleset. Senja bukan ingin pindah kerja di tempat lain. Tapi hanya ingin pindah departemen. Aku agak menyesal sedikit melarangnya. Padahal bisa jadi itulah karir pilihannnya. Sebuah dunia baru yang ingin dicapainya. Sekarang, dengan posisi pekerjaan barunya, semoga saja Senja betah dan cocok.

Teringat secuil kisah ini aku terngiang...

Bukan soal pekerjaan, tapi soal kepedulian. Harusnya waktu itu aku dengarkan dia dulu. Pada saat dihadapatkan pada pilihan, perempuan sepertinya selalu sudah punya pilihan atas hidupnya. Seorang perempuan hanya butuh didengarkan, hanya butuh dikuatkan dengan pilihan-pilihan hidupnya.

Senja, mengajarkanku tentang itu.

Melepas egoku. Membiarkan Senja pada pilihannya. Sementara, aku dulu belum bisa menghargai pilihan hidupnya. Ada rasa sesal ketika mengigatnya.


(7) Ziarah Cinta


Di pemakaman itu…

Aku, senja dan keluarganya duduk dengan hening. Berdoa agar orang yang sudah terbaring tenang bisa diterima disisiNya. Diterima segala amal dan perbuatannya selama menjalani kehidupan di dunia.

Waktu itu lebaran hari pertama…

Inilah pertamakali lebaran tak kurayakan dikampung halaman. Pertamakalinya aku merayakan lebaran di ibu kota. Agak canggung dan aneh saja. Tapi, aku mencoba untuk beradaptasi. Jakarta begitu lengang. Sementara, aku teringat terus kedua orang tua jauh di kampung sana.

Pagi-pagi benar, aku sudah datang ke rumah Senja. Tentu agar tak terlambat sholat idul fitri. Kupacu sepeda motor bututku, menembus bau pagi dan basah embun yang masih perawan, belum dinodai hangat mentari pagi.

Sehabis sholat idul fitri itulah, aku, Senja dan keluarganya berziarah. Berdoa untuk kakak Senja yang telah meninggal dunia. Kecelakaan sepeda motor dan dipanggil disisiNya ketika dulu masih berusia 19 tahun.

Inilah pertamakali aku duduk dan berdoa dipemakaman. Merinding. Sambil membayangkan, apakah kelak ada orang yang mendoakanku ketika aku telah meninggal. Duduk, diam, terkelu…

Tapi, ada perasaan yang tersimpan diam-diam waktu itu. Perasaan yang begitu menguatkan. Senja, aku tak salah lagi memilih. Sepertinya, gadis lucu bermata lembut ini kelak yang akan mendampingiku.

Sambil berdoa khusuk kepada Tuhan...


(Bersambung)

Selasa, Februari 02, 2010

(Sajak) Anak Laut












Anak Laut
:yons achmad

aku adalah anak laut
yang dilahirkan
dari rahim badai dan gelombang
tugasku menjaga batu karang
dari tangan jahat orang kota
setelahnya...
bermain dengan senja
ditepian pasir putih

rumah kelana :29/01/10

Sabtu, Januari 30, 2010

Penebang Kayu dan Seniman Agung









Penebang Kayu dan Seniman Agung
:yons achmad*

Hutan adalah nafas. Ia selalui setia menjaga kehidupan kaum kota. Tapi, kadang, orang kota tak begitu menyadarinya. Bahkan begitu kurang ajar. Tak pernah ada dalam kamus mereka untuk menanam pohon kehidupan. Tidak pernah mengerti bahwa pohon selalu menjadi nyawa hutan. Lalu hutan akan memberikan nafas bagi keberlangsungan hidup mereka, kaum kota it. Tapi yang ada justru pembabatan liar tanpa memikirkan akibatnya.

Orang-orang berbondong untuk menjadi penebang kayu. Memikirkan berapa keuntungan setiap batang pohon ketika dijual. Menghitung, mengkalkulasi, memprediksi, berapa rupiah yang didapatkan. Lantas mengkhayalkan untuk menukarnya dengan mobil baru, rumah baru atau kekasih baru. Yang ada dalam dirinya adalah menguasai, memiliki padahal kenyataannya ia tak pernah sekalipun menanamnya.

Ada dua macam penebang kayu. Sebut saja orang dalam dan orang luar. Untuk tak mengatakan orang kampung dan orang kota. Orang dalam masih punya sedikit kepedulian. Ia menebang, tapi ia juga menanam. Orang luar lain lagi. Ia menebang, ia membabat, tapi tak menanam. Namun, motif keduanya sama. Mental penebang kayu. Mengeruk sebanyak mungkin keuntungan. Itu saja.

Lalu, bagaimana kalau seniman agung?

Ia sesekali akan masuk hutan. Duduk dan memandang pohon-pohon. Memandang sebagai sebuah keindahan. Tersenyum melihat pohon tua yang kuat, tegar, walau tersapu panas dan hujan bergantian. Tersenyum kembali ketika ada daun gugur di sebuah ranting yang letih. Ia tak marah ketika ada air menetes dari dahan mengenai keningnya. Mengusapnya pelan, lalu kembali tersenyum. Kemudian, ia akan kembali. Tanpa rasa ingin memiliki pohon-pohon dalam hutan itu.

Seniman agung. Ia begitu nyaman. Merasakan hembusan semilir angin yang datang. Mencium dengan mesra bau tanah yang basah. Bahkan, ia akan tiduran di rumput atau sebentuk akar yang menyembul ke permukaan. Ia akan membiarkan matahari mengenai wajahnya, ketika melewati ranting-ranting daun yang digoyang angin. Ia merasa begitu sunyi, merasakan keheningan yang sangat. Merasakan suasa nyaman. Pada saat itulah, ia tak menuntut sebuah kebahagiaan, sebab kebahagiaan yang akan suka rela datang menghampirinya. Setelahnya, ia akan keluar dari hutan. Kembali menjalani aktivitasnya. Tentu sebagai manusia.

Seorang penebang kayu dan seniman agung. Dua sosok yang, saya kira akan menghiasai kehidupan ini. Siapapun boleh memilih dengan kesadaran sendiri. Tak ada seorangpun yang bisa memaksakan untuk bisa menjadi yang pertama atau yang kedua. Setiap orang, setiap manusia, sesuai dengan motif masing-masing akan memutuskan kira-kira akan memilih yang mana.

Tapi rasa-rasanya pilihan kedua menarik. Seniman agung, ya ya ya. Sebuah wajah yang benar-benar paripurna. Membiarkan pohon akan damai pada duniannya. Akan membiarkannya nyaman. Belajar untuk tulus mencintai, tanpa ada harapan apapun kepadanya. Sebab kalau ada, itulah pamrih. Memang, ini sebuah tindakan konyol. Apa boleh buat, seperti seniman agung, begitulah adanya.

Lalu, menjadi sang penebang kayu. Ah rasa-rasanya menjadi semacam itu kurang menyenangkan juga. Pohon-pohon akan selalu menderita. Tapi menjadi semacam seniman agung, rasa-rasanya terlalu berat untuk bisa. Entahlah, mungkin lebih baik menjadi orang dalam saja, menjadi seperti orang kampung di pinggir hutan. Terus menanam benih cinta untuk tumbuhnya pohon kehidupan. Biarkan sang penebang kayu merobohkannya. Tapi, semoga saja sang seniman agung sempat menikmati keindahannya. []

*Penulis, tinggal di pinggir Jakarta.

Kamis, Januari 28, 2010

Suami Tanpa Istri









Suami Tanpa Istri

:yons achmad*


Saya kembali menemukan wajah ketegaran. Karena tugas saya hanya bercerita, hari ini akan saya kisahkan kepada kawan-kawan semua. Sebuah kisah yang saya dapatkan ketika berkunjung ke seorang tukang cukur rambut. Pada sebuah senja, selepas sholat ashar, saya sengaja datang ke Mas Ozan, sebut saja namanya begitu. Tukang cukur rambut yang mangkal di daerah Cikeas. Saya suka memangkas rambut di tempat itu sebab ruangan ber AC, jadi lumayan nyaman, handuk yang digunakan juga sekali pakai. Ditambah, harganya cukup murah. Cocok dijadikan langganan.


Saya meminta memangkas rambut sampai 1 centi, alias potong cepak. Sengaja, saya revolusi rambut saya. Kali ini alasan praktis saja. Saya kadang dibuat ribet ketika harus cepat-cepat bertemu klien, rambut masih berantakan sementara saya lupa membawa sisir, akhirnya penampilan kurang meyakinkan. Makanya, akhir Januari ini tampilan rambut cepak bukan untuk gaya baru, tapi sekedar alasan praktis. Yah, siapa tahu mendukung ke efektifan kerja.


Saat pelan-pelan memangkas rambut, Mas Ozan mulai bercerita.

Saya khusuk mendengarkan...


Mas Ozan, lelaki berumur 39 tahun. Asal Padang. Baru saja merasakan kesedihan. Ditinggalkan seorang istri yang begitu ia sayangi. Tak tanggung-tanggung, tanpa proses perceraian yang sah, istrinya pergi dan menikah lagi dengan lelaki lain. Episode kisah yang jarang terjadi, tapi benar-benar nyata adanya.


Mas Ozan awalnya memang ada sedikit masalah dengan istrinya. Soal keuangan. Saat bekerja di kampung halamannya, Padang, rupanya belum bisa mencukupi nafkah istrinya. Ia sudah bekerja keras berusaha menafkahi itrinya, tapi rupanya belum bisa diterima istrinya. Lantas, dengan berat hati merantau ke Jakarta, demi sebuah tanggungjawab keluarga. Namun malang, bukan uang cukup di dapatkan, justru saat bekerja di Jakarta inilah ia ditinggalkan oleh istrinya.


Setelah beberapa bulan di Jakarta, ia mendapati kabar istrinya di kampung sudah menikah lagi. Dengan seorang lelaki yang katanya bergaji Rp 3 juta/bulan. Lelaki itu sekarang membawanya ke Batam. Jelas, Mas Ozan begitu syok mendengar kabar ini. Setelah ia mencari tahu informasi selengkapnya, ternyata memang benar istrinya telah menikah dengan lelaki lain, padahal ia masih begitu menyayanginya.


Rupanya, penyebabnya adalah salah informasi. Di kampung, istrinya mendapat kabar kalau Mas Ozan di Jakarta telah menikah dengan perempuan lain. Padahal tak demikian. Entah, fitnah itu siapa yang menghembuskan. Alasan itu yang membuat istrinya memutuskan nikah saja dengan orang lain. Saya tak tahu kisah yang sebenarnya. Yang saya tahu cerita versi Mas Ozan semacam ini.


Atas kejadian itu, kini statunya adalah suami tanpa istri. Ia masih begitu sayang kepada istrinya. Ingin istrinya kembali kepadanya. Tapi, ia tak tahu harus mencari ke mana. Alamat di Batam tak diketahuinya. Sementara, komunikasi tak bisa dilakukan dengan istrinya yang telah meninggalkannya itu.


Bersama anak-anaknya, sekarang ia masih tinggal di Jakarta. Ia mengaku masih sedih, masih tak terima dengan keadaan yang menimpanya. Tapi, berkat anak-anaknya, ia mencoba tegar menjalani hidup. Ia memang mengaku salah. Belum bisa menjadi suami yang baik Tapi, tiba-tiba ditinggalkan dengan alasan yang tidak jelas, tidak benar masih membuat dia sakit hati.


Yang ia tahu, ia kini masih bertahan dengan bekerja semampunya. Demi untuk menyambung hidupnya beserta anak-anaknya. Senja itu, setelah selasai mencukur rambut saya berterimakasih kepadanya atas cerita itu. Dan, berdoa semoga ia tetap berjiawa besar. Dari Mas Ozan juga, saya belajar tentang ketegaran. Bahwa kadang hidup memang tak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi, hidup harus terus berjalan. Satu mimpi belum tercapai, masih ada ribuan mimpi lain.[]


*Penulis. Owner Komunikata.net

Jumat, Januari 22, 2010

(sajak) sajak yang ku tak ingin menulisnya














sajak yang ku tak ingin menulisnya
:yons achmad

aku tak ingin menulis sajak ini
sajak yang membuatmu kehilangan bahagia
aku hanya sekedar terkenangkan
sebuah danau kecil
pertemuan pertama kita
pada sebuah senja...

rumah kelana : 22/01/10