Kafe, Laptop dan Buku

Kafe, Laptop dan Buku
oleh
Yons Achmad*


Selalu itu. Mungkin katamu...

Apa boleh buat: Memang inilah duniaku. Saya tahu, kamu kesal.

Di sebuah kafe dengan sejumlah buku dan laptop sebagai alat tulis saya berkarya. Saya menulis kolom untuk koran, media internal perusahaan, beberapa tulisan pesanan orang dan biografi tokoh. Kenapa selalu begitu? Ya saya merasa, saya tak punya kemampuan selain itu. Kemampuan yang bisa diandalkan.

Dan saya mencintai pekerjaan. Kamu boleh meremehkan. Saya tak akan marah. Lagi pula saya tak mau ada beban. Kalau misalnya kamu keberatan, kamu boleh tinggalkan. Saya akan menganggapmu sebagai teman. Kalau kamu kelak menikah bukan dengan saya, kalau sedang lega saya akan datang. Sekedar memberikan ucapan. Agak terlihat gombal memang.

Agar kamu tahu. Perempuan itu tak hanya kamu...

Saya sudah memutuskan, tak ada ikatan sebelum pernikahan. Saya anggap perempuan-perempuan yang saya akrabi saat ini semua teman. Walau ada yang benar-benar menjengkelkan. Tapi saya akan tetap menjadikannya semacam kebinekaan. Saya menyukai perbedaan.

Kamu kan sudah saya kasih tahu siapa saja perempuan-perempuan itu.

Lalu kenapa menjanjikan harapan? Tidak. Saya awalnya kan hanya ingin mengenalmu. Masalah perjalanan waktu, itulah proses. Kan, saya juga tak berbuat apa apa ke kamu. Tidak menciummu, apalagi merabamu. Ya, jujur memang sekali-kali mencuri, memandangmu. Dan kamu senang saya puji mulus tubuhmu.

Oh ya untuk urusan ganti pekerjaan, saya memang sudah memikirkan. Tapi, tak ada seorangpun yang bisa memaksa-maksa saya. Semakin orang itu memaksa begini, memaksa begitu saya tak mau. Saya tak nyaman. Walau sebenarnya awalnya saya ingin melakukan, tapi kalau terus-terusan memaksanakan, jujur saya bosan.

Kamu juga tahu, tak gampang mengurus perusahaan.

Saya akui kamu memang banyak uang. Saya berterimakasih atas tawaranmu memberikan modal untuk usaha di mall itu. Tapi saya belum bisa. Saya tak mau kelak justru perbincangan-perbicangan berakhir pada pertengkaran-pertengkaran bisnis yang kadang sadis. Kamu tahu ini Jakarta. Orang bisa jadi drakula.

Saya memilih bertahan dengan apa yang ada. Walau belum begitu memukau hasilnya, tapi saya akan tetap mencoba mensyukuri. Setidaknya, hari berganti selalu ada yang baru, selalu ada capaian-capaian yang berarti. Merambat pelan, tapi bisnis yang saya jalankan sekarang mulai menghasilkan.

Ya, semua itu butuh kesabaran.

Dan kita bisa tetap menjadi teman. Oh ya, maaf kalau saya tak mau ditraktir. Bukan soal gengsi. Walau hidup sederhana, saya masih bisa membayar sendiri. Lagi pula saya masih agak canggung. Biasanya, dengan perempuan-perempuan yang saya anggap sebagai teman, saya akrab bercanda, saling mengolok, bukan benci, tapi cinta. Tapi denganmu, jujur saya masih agak kaku.

Terimakasih juga atas ceramahmu tentang masa depan, pentingnya punya mobil keluarga, tempat tinggal di perumahan yang katamu “hanya” perlu mengangsur delapan juta perbulan. Jujur, mendengarnya agak bikin sesak dada. Terimakasih atas semua itu. Omong-omong saya tahu, jam tanganmu itu mahal. Saya iseng cek, harganya Rp 875 ribu.

Tapi, andai kamu tahu, saya masih akan tetap setia dengan Kafe, Laptop dan Buku. Karena itu duniaku. Dan juga, fokus dengan bisnis saya di bidang “Kata-kata dan media”.

Dan, kalau orang dalam hatinya ada kata setia, sudah pasti ada hasilnya. []



*Penulislepas. Bekerja pada Kanetwork Indonesia

7 Responses to "Kafe, Laptop dan Buku"

Hilmy Nugraha mengatakan...

saya pernah kesal juga dengan orang yang demikian mas.

Anonim mengatakan...

memang hidup tidak bisa dipaksakan, karena semakin dipaksa semakin ngeyel

yons achmad mengatakan...

hilmi@ he he
Anonim@ emang sih :-p

Linda mengatakan...

waduh siapa yg maksa2 pak, hari gini masih maksa2 :D

luvie mengatakan...

baca tulisan ini, saya jadi inget link artikel dari seorang teman yang berjudul.. "never date a writer" huehehehe.. ^_^ peace om!

good luck with all you work! *tos*

Anonim mengatakan...

kamu memang seperti itu, selalu seperti itu... dan aku termasuk perempuan yang tak mengerti kamu. Go a head...

Anonim mengatakan...

hahahah... kucian deh dia..udah biarin aja dia wkwkwk