Episode Jalan Memutar

Episode Jalan Memutar
oleh
Yons Achmad*


"Yang paling penting dalam hidup
adalah belajar bagaimana memberi cinta
dan terbuka menerimanya”

Morrie Schwartz penulis asal Amerika Serikat


Dalam hidup, kadang jalan memutar itu ada...

Untuk sampai pada akhir yang manis. Akhir yang indah. Akhir yang membuat senyum. Masa-masa yang dulu sempat terlalui itu kadang membuat kita hampir menyerah pada hidup. Tapi, karena daya tahan yang purna, kesabaran yang terus dipegang, sampailah pada titik puncak. Kebahagiaan.

Melalui proses yang memutar itu, kita jadi sadar untuk memandang dunia dengan hati terbuka. Yang kadang memang penuh kejutan, berliku, menunggu.Yang begini tentu saja bikin seru. Pasti ceritanya beda dengan mereka yang melaluinya dengan episode jalan mulus, miskin tangis, konflik dan tragedi walau endingnya sama. Bahagia.

Dalam hidup, selalu begitu. Tentang capaian karir, bisnis, begitu juga. Aha. Cinta. Jalan mulus, tak perlu dibahas lagi karena memang tak ada cerita yang tersisa. Lalu, bagaimana dengan mereka yang dipaksa nasib mesti menempuh jalan memutar?

Tentang Karir

Bagi yang bekerja dengan orang lain atau perusahaan tertentu, jejang karir pasti satu hal yang tak bisa dilepaskan dari pikiran mereka. Kapan karir meningkat, naik jenjang dsb. Mengenai karir ini, kalau saya perhatikan, yang terpenting sejatinya bukan setia pada perusahaan atau orang lain itu. Justru, dalam sebuah karir, yang paling penting justru pada pekerjaan itu sendiri, setiap pada profesi.

Hanya dengan begitulah kita akan bisa menghasilkan karya-karya, produk maupun sumbangan ide dan pemikiran secara maksimal. Jika hanya setia pada perusahaan atau lembaga tempat bernaung, yakin saja, kelak bisa jadi akan menuai kekecewaan. Setia pada perusahaan bisa jadi akan menutup mata jika pekerjaan itu sebenarnya salah atau tidak tepat.

Nah, jika setia pada profesi atau pekerjaan, Ia akan mengatakan yang sebenarnya pada perusahaan itu jika berbuat kesalahan atau melakukan kebohongan. Jadi tak berkhianat pada integritas profesinya sendiri. Singkatnya, kalau perusahaan Anda menyuruh Anda menipu, bukankah Anda tak mau bukan? Kalau Anda hanya setia pada perusahaan, yah mungkin akan mengikutinya karena takut tak punya pekerjaan. Tapi. jika Anda setia pada profesi, dilemanya memang akan bersebarangan dengan perusahaan Anda. Resikonya dipecat.

Dan SELAMAT. Anda sekarang memasuki fase jalan memutar itu sampai Anda mendapatkan atau bisa bergabung dengan perusahaan yang punya integritas, jujur. Di tempat itulah saatnya karir perlu terus dikembangkan. Bukan pada perusahaan bobrok yang saya sebutkan diawal walau bisa jadi disitu penghasilan besar. Apalah arti penghasilan besar kalau hanya membuat was-was dan tidak nyaman?

Tentang Bisnis

Dalam dunia bisnis jalan memutar ini hampir dialami oleh mereka. Para pebisnis itu. Mereka yang mencoba meraih keuntungan dari berusaha sendiri, membuat usaha sendiri, membuat perusahaan sendiri. Kisah-kisah tentang jalan memutar banyak betul. Biasanya terjadi pada mereka yang nekad bikin usaha sendiri yang kadang belum punya pengalaman. Kecuali kalau bisnis warisan keluarga, biasanya jalan memutar itu jarang mereka kenal. Bisnis mereka mulus-mulus saja.

Jalan memutar para pebisnis itu bentuknya ya kadang babak belur, dicemooh orang, dilecehkan orang, berhutang sana sini. Berkali-kali gagal dalam baragam usaha, itulah wajah kehidupan mereka. Yang menyerah akan kembali mengabdi bekerja pada orang lain lagi. Yang lain tetap atau masih gagal. Yang lainnya, meraih kesuksesan dalam bisnis mereka setelah berproses, menunggu. Yang barangkali bertahun-tahun lamanya sampai bisnisnya stabil. Itulah jalan memutar. Hikmahnya apa? Mereka akan menghargai proses. Akan lebih peduli dengan orang lain karena mereka juga pernah mengalami betapa tidak enaknya saat hidup mengenaskan dan tertindas “di bawah”

Tentang Cinta

Bisa jadi memang benar. Seperti kata orang: kadang kita berkali-kali mencintai orang yang salah sebelum menemukan cinta sejati. Tragis ya. Tapi apa kita mesti menyesal? Tentu tidak bukan? Itulah yang dinamakan sebuah proses. Hidup yang tak selalu mulus.

Lalu, jika jalan memutar itu ada di depan mata, bagaimana? Tak lain tak bukan nikmati saja. Nikmati setiap proses yang ada. Lika-liku itu seru. Jalan memutar boleh di depan mata, tapi jalan keluar itu pasti ada. Yakin saja. []

*Penulislepas, tinggal di Jakarta

1 Response to "Episode Jalan Memutar"

V mengatakan...

saya sedang mencoba memutar jalan pekerjaan saya kawan...doakan semoga berhasil...