Secangkir Teh Dari Tuhan

Secangkir Teh Dari Tuhan

:yons achmad*


If you are cold, tea will warm you

If you are too heated, it will cool you

If you are depressed, it will cheer you

If you are excited, it will calm you

Magic of Tea. WE Gladstone


Ada yang bilang, lelaki lebih menyukai kopi,

sedang perempuan lebih suka teh.

Apa pendapatmu?


Tak ada yang pasti. Saya kira pendapat itu tak mutlak adanya. Kalau saya sendiri, lebih menyukai secangkir teh daripada kopi. Saya tak menolak untuk meminum kopi. Tapi untuk selera lebih menyukai secangkir teh. Kenapa secangkir bukan segelas? Bagi saya cangkir berasa lebih estetis dibanding gelas. Lagi-lagi ini soal selera. Mau protes? Boleh.


Teh. Di Jawa sering dijadikan minuman suguhan untuk tamu. Saya kurang tahu kalau di luar Jawa. Tapi, sependek pengetahuan saya ada hal berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Misalnya di Banyumas (Purwokerto), tempat saya sempat numpang kuliah dulu, teh biasanya disajikan tanpa gula, dalam sajian pernikahan sekalipun. Kalau di Magelang, menyuguhkan teh ke tamu tanpa gula, rasanya kok kurang lumrah. Lagi-lagi ini sekilas penglihatan saya saja. Bisa jadi salah.


Terlepas dari itu, teh sendiri punya sejarah yang cukup unik.


Saya mendapatkan informasi dari salah satu pecinta teh di tanah air. Prawoto Indarto dalam makalah berjudul “Teh Bukan Minuman Biasa” (2007) menjelaskan:


Fase pertama, teh menjadi minuman dari dinasti ke dinasti bangsa Cina. Bagi sebagian besar masyarakat China, membicarakan teh sama artinya dengan membicarakan etika kebudayaan, karena seluruh tatanan sosial mereka sebagian besar dibangun bersamaan dengan tradisi minum teh. Sastrawan Lu Yu yang merupakan orang pertama penulis literatur teh secara lengkap dan komprehensif, dalam bukunya Cha Ching menyebut teh sebagai “embun termanis dari surga”.


Fase kedua, teh mempengaruhi peradaban dunia. Belanda melihat peluang teh bisa diperdagangkan di Eropa. Belanda kemudian tercatat sebagai bangsa pertama yang melakukan import secara komersial teh ke Eropa yang dikapalkan via pelabuhan di pulau Jawa pada tahun 1610.


Di Inggris, pernah muncul istilah Afternoon Tea. Merupakan “pemberontakan” Anna, salah satu putri Victoria pada pola makan bangsa Inggris yang hanya mengenal dua kali sehari yaitu pagi dan malam hari. Maka Tea shops telah mendorong kemunculan semangat emansipasi wanita yang memicu revolusi sosial di Inggris. Para lady ini menuntut persamaan hak untuk bisa minum teh di luar rumah dan duduk berdampingan setara dengan pria.


Fase ketiga, sebagai minuman kesehatan. Teh merupakan minuman yang sangat efektif untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Minum teh berperan meningkatkan konsentrasi dan perasaan tenang pada gelombang Alpha otak manusia karena adanya zat aktif bernama theanine dalam teh.


Sebelum membaca makalah tersebut, saya sudah menyukai teh. Setelah membacanya, bertambah rasa cinta saya pada teh. Saya merasa tenang ketika sedang meminum secangkir teh. Dan bagi saya yang demikian itu sebuah kepuasaan, kebahagiaan tersendiri walau kecil. Bisa jadi memang, saya menyecap secangkir teh di rumah, di kantor atau di pinggi jalan. Tapi, tak berlebihan kiranya jika saya anggap itu semua secangkir teh dari Tuhan. Ya, sepertinya memang benar adanya. Ia adalah “Embun termanis dari surga”.


Duren Tiga: 26 April 2010


*Penulis lepas, tinggal di pinggir Jakarta

8 Responses to "Secangkir Teh Dari Tuhan"

Hilmy Nugraha mengatakan...

saya suka teh,
tapi teh tubruk,
rasanya lebih 'teh'..

penakayu mengatakan...

hilmy@ soal selera memang tak perlu diperdebatkan. Yg penting rasakan :-)

aLie Putra mengatakan...

sungguh terhanyutku dibuatnya.....

dhodie mengatakan...

teh memang lebih estetis, kopi lebih ke fungsi.. saya suka dua-duanya. Don't ask me to chose which is better :P

penakayu mengatakan...

alie@ ya ya ya
dodhie@ ic ic :-)

oddie mengatakan...

Coffee is a style but Tea is a magic..

Ahh.. sok tau ya saya Bung Yon ;)

Nad mengatakan...

Saya suka dua2nya :D
Tapi, belakangan, kopi membuat jantung berdebar.

Anonim mengatakan...

A humankind begins sneering his wisdom teeth the earliest chance he bites off more than he can chew.