Pagi yang Manis

Pagi yang Manis
Oleh
Yon’s Revolta


Agak romantis cerita kali ini.

Sekedar untuk menyambut datangnya sebuah pagi yang manis, maka tersenyumlah. Memang, Tak ada secangkir teh pada jam 05.30 tadi seperti biasanya. Maklum, bulan ini masih memasuki puasa. Jadwal mestilah berubah. Sedari jam 03.00 tadi saya sudah bangun, lantas menunaikan sahur, makan minum ala kadarnya. Nasi putih hangat, selembar telur ceplok dan beberapa iris adonan daging lembut. Tak ada sayur dan buah. Tak mengapa, yang penting hati damai. Apalah artinya semua kemewahan tanpa kedamaiaan hati. Ah, sok bijak kau ini.

Biasanya, setelah sholat subuh (kalau bukan bulan puasa), saya langsung mencicipi sarapan kata-kata dan menyeruput secangkir teh manis. Ya, setiap pagi begitu, rutinitas yang jalani adalah membaca rubrik opini, setidaknya, tiga media lokal (SuaraMerdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat) serta dua media nasional (Kompas dan Republika). Saya rutin membacanya setiap pagi melalui internet. Yah, sudah berlangsung kira-kira dua tahun lamanya. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam karena ditambah membuka surat elektronik (E-mail) yang masuk dan membalasnya.

Menyita keuangan memang. Tapi tak mengapa, semua itu saya lakukan untuk memantau dan mengetahui gaya tulisan dan tema opini yang dimuat dalam media. Dengan begitu saya bisa belajar kira-kira saya nanti akan mengirimkan tulisan seperti apa. Dulu, saya ingin menulis semua hal dan dikirimkan ke berbagai media. Ternyata, tak mudah. Capek juga belajar banyak hal. Sekarang, saya hanya memfokuskan diri untuk menulis soal “Kajian Media” saja, khususnya terkait dengan komunikasi politik. Jadi, belajarnya lebih fokus, lebih enak.

Di media cetak, saya khusus menulis soal itu. Belum sukses memang, masih banyak tolakan-tolakan dari redaktur. Inilah proses. Tak mengapa, nikmati saja. Kalau menulis untuk blog dan puisi, ini mah sekedar “iseng” saja, bukan prioritas utama karena tak dapat honor untuk membuat “dapur tetap mengepul”. Hanya untuk menjaga rutinitas menulis saja. Syukur-syukur ada manfaatnya bagi orang lain. Kalau tidak, ya maafkan saya. Maaf juga kalau banyak salah penulisan atau EYD yang kacau. Maklum, menulisnya langsung di warnet, harus berkejaran dengan biling harga sewa warnet.

Eh, mana sesi pagi yang manisnya….
Sebentar, sabar sajalah.
Bukankah setiap kesabaran
juga akan manis pada akhirnya…

Tadi, saya bertemu dengan seorang gadis berjilbab lebar. Gadis ini kerap menjadi buah bibir dikalangan “kita-kita”. Maklum, dia memang agak khas kharakternya. Smart dan tentunya cantik, senyumnya membuat gemas saja. Walau ada satu hal yang membuat saya agak miris. Kalau naik motor itu loh, ampun kencengnya minta ampun. Semoga nggak kenapa-napa.

Satu hal yang membuat pagi ini terasa manis…

Adalah sikapnya ketika bertemu dengan seorang laki-laki. Yah, walaupun bertemu dengan lelaki tampan kayak saya (uhuk), dia tetap menundukkan pandangannya. Wah, ini persoalan kecil dan biasa. Memang. Tapi tidak bagi saya, bagaimanapun juga, pemandangan ini berbeda. Sebuah pemandangan yang manis dan romantis. Entahlah, semoga hatinya juga terjaga. Isi hati siapa yang tahu…!

Kota Senja, 3 Oktober 2007.

3 Responses to "Pagi yang Manis"

Jufri mengatakan...

Pagi yang manis lebih enak pake di tambah Teh manis :D

VeeTa mengatakan...

gerah uyang nggih mas

nana mengatakan...

setahu ana dia lrbih terjaga, toh dia tetap berusaha, lah antum???