Pengamen di Malioboro

Pengamen di Malioboro
Oleh
Yon’s Revolta

Ada lagu yang indah di Malioboro
Lagu cinta tentang engkau dan aku

Ada sajak yang indah di Malioboro
Sajak cinta tentang engkau dan aku

Lagu ciptaan Doel Sumbang itu mengalun merdu...

Dinyanyikan oleh seorang pengamen. Menyejukkan dan menyenyumkan hati, sebab momennya pas. Kebetulan, saya mendengarkan lagu tersebut di ubun-ubunnya Jogjakarta. Tiada lain, Malioborolah tempatnya. Ya, disela-sela menikmati secangkir minuman di sebuah warung lesehan. Saya suka nuansa seperti ini. Setidaknya, sebagai pemenuhan gizi jiwa. Sebab, manusia selalu punya jiwa. Mendengarkan lagu itu bisa menenangkan dan mengobati jiwa yang gersang.

Ah...Malioboro memang inspiratif. Konon katanya, tempat yang letaknya 800 meter dari Keraton Jogjakarta ini dulunya selalu dipenuhi karangan bunga setiap kali keraton mengadakan sebuah perayaan dan ritual tertentu. Pemandangan ini yang menjadi dasar penamaan Malioboro. Malioboro, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Karangan Bunga”. Cukup logis juga penamaan ini dalam sudut pandang sejarah.

Malioboro, menyimpan banyak kisah. Tentang tempat berkumpul dan berkreasinya para seniman dan macam-macam komunitas, tentang hotel legendaris “Grand Hotel De Djogdja”, tentang Benteng Vredeburg (setahu saya disekitar tempat ini sering digelar pameran seni). Begitu juga, tentang kisah para wisatawan yang bisa menikmati surga cinderamata disana. Sudah umum memang.


Okelah, saya akan bercerita yang lain saja. Agar tidak bosan.

Salah satunya, saya justru tertarik untuk melanjutkan kisah tentang pengamen tadi. Ya, pengamen yang saya temui di Malioboro. Satu kesan saya pada pengamen itu, totalitas. Tidak setengah-setengah. Berbeda dengan pengamen di tempat lain. Biasanya, kalau pengamen di tempat lain, menyanyi ala kadarnya. Itupun kadang tak serius. Setelah diberi uang beberapa receh, langsung berhenti dan ngeloyor pergi ketempat lain.

Begitulah pemandangan yang sering saya temui. Tapi pengamen satu ini tidak. Satu lagu tuntas dinyanyikan. Bahkan ketika saya dan beberapa teman memesan lagu-lagu lain bertema Jogja untuk dinyanyikan, iapun siap sedia dengan senang hati. Entahlah, mungkin inilah salah satu keramahan Jogja. Keramahan dan nuansa yang khas khususnya pemandangan yang bisa ditemui disekitar Malioboro.

Saya menilai, pengamen tersebut pengamen yang berbudaya. Tak melulu mencari uang semata. Kesan yang muncul adalah kesan profesional. Jadi, saya yang orang awam dalam hal musik bisa menghargainya. Salah satunya menghargainya dengan rupiah sewajarnya. Tentu, setelah melihat dengan sepintas caranya memainkan lagu sampai selesai, penampilan, keramahan, rendah hati dan penghayataannya. Bayangkan saja pengamen di bus-bus. Kadang, sudah suaranya jelek, main musik tak serius, ujungnya memaksa pula minta uang. Tidak mengasyikkan bukan..? Bahkan bukannya kita menikmatinya, merasa terancam dan tak nyaman mungkin iya.

Dari pengamen di Malioboro tadi saya belajar lagi tentang satu sudut kehidupan. Satu hal terpenting adalah totalitas. Ya, totalitas dalam berkarya dan bekerja. Memaksimalkan kemampuan diri yang kita miliki, untuk kita berikan dan tunjukkan kepada orang lain, kepada dunia disekitar kita. Setelahnya, biarkan publik yang menilai kita. Begitulah logika yang semestinya berjalan. Kita semua punya potensi masing-masing, tinggal bagaimana mengoptimalkan saja.

Kuncinya adalah totalitas, bekerja dan berkarya tidak setengah-setengah. Totalitas akan mendatangkan hasil yang berkesan dan luar biasa. Setengah-setengah, menjadikan hidup serba tanggung. Begitulah, totalitas itu perlu untuk menuju puncak harapan kita, dengan totalitas pula harapan akan nasib baik terbentang luas menyertai kita, hadir dalam kehidupan kita. Semoga.

Purwokerto, 29 Agustus 2007

5 Responses to "Pengamen di Malioboro"

linda mengatakan...

kapan ya bisa menyambangi malioboro lagi. kangen euy

Dhona mengatakan...

Malioboro selalu bikin kangen ya.. Salut ah ama pengamen itu yang total bekerja dan berkarya.

Anonim mengatakan...

Yogyakarta...

Kota yang penuh dengan kenangan, salah satu tempat favorit jika sedang liburan. Lumayanlah, untuk wisata hati...

Lanjut ke pengamen...

Di Jkt, banyak sekali pengamen,... ada pengamen yang bersuara bagus, berpenampilan menarik, dan ada juga yang sebaliknya... Banyak juga yang memaksa pendengarnya untuk memberikan uang.. nah kalo sudah gitu namanya pengancaman, hehehe....

Jadi, sudah dapat kepastian akan menetap di Yogya???

masihmenungguoleholeh

MnX mengatakan...

punk, tentang si "dia" kok gak di posting? hehehe... *kabuuuurrr*

TAKARI mengatakan...

Assalamualaikum

Salam kenal.
Saya terkesan dengan tulisan-2 Njenengan. Menyentuh.

Terima kasih.

Salam,

Takari