Filosofi Jarum Jam

Filosofi Jarum Jam
:yons achmad*

“Ada perbedaan nyata antara kecemasan
dengan kegelisahan.

Orang cemas karena menghadapi masalah,
sedangkan orang yang gelisah karena
ia ingin memecahkan masalah.”

(Harold Stephens, penulis dan petualang asal Amerika Serikat)

Coba perhatikan jam dinding itu?
”Apaan sih, nggak ada apa-apa”. Hem...
Coba lagi: lihatlah dalam-dalam. Fokus.

Mungkin biasa aja Anda merasakannya dan tak ada sesuatu yang unik atau aneh. Tapi coba renungkan kembali perputaran ketiga jarum jam itu. Ada yang cepat berjalan, ada yang biasa saja, ada yang nampak pelan tapi itulah rahasia waktu sebenarnya.

Saya, awalnya juga iseng saja.

Selepas bekerja, ketemu klien, mengkoordinir tim yang menguras waktu, tenaga pikiran, saya rehat sejenak. Tak pernah terjadi sebelumnya, saya mengamati jam dinding di ruang kantor. Pelan-pelan saya amati. Aha. Saya kembali mendapat inspirasi. Yang, sepertinya menarik bagi hidup saya. Dan mungkin bagi Anda juga.

Saya perhatikan jarum detik. Cepat sekali berjalan dia. Nampak begitu lelah kalau itu manusia Tapi saya pikir begini, coba kalau jarum detik dihilangkan. Tak berpengaruh apa-apa. Masih ada jarum menit dan jarum jam. Orang masih tetap bisa mengenali waktu dengan tepat tanpa jarum detik tersebut.

Dari ketika jarum itu, yang paling pelan jalannya adalah penunjum jaruk jam. Jalan pelan tapi lanngsung menunjuk angka. Dan, kita sebagai manusia langsung bisa membaca. Oh sekarang jam 1, sekarang jam 2 dst. Apa maknanya?

Agak sulit memang untuk menafsirkannya. Tapi kalau kita otak-atik lagi pasti akan menemukan rahasia maknanya bagi kehidupan kita menuju sesuatu yang lebih baik.

Saya kira kebanyakan manusia ya seperti jarum detik itu.

Ia bekerja dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam. Bekerja, kadang bukan untuk bekerja bagi dirinya sendiri, tapi bekerja bagi orang lain. Menjadi pekerja dan alat bagi mimpi-mimpi orang lain. Ya, mereka sebenarnya bukan pekerja tapi dipekerjakan. Agak kasar memang istilah ini. Tapi begitulah adanya. Tafsir jarum detik semacam ini, tapi kok rasanya tafsir ini kurang pas ya.

Atau mungkin begini sepertinya. Manusia “Jarum Detik” itu yang bekerja kesana kemari, serabutan, jumpalitan, terlihat sibuk sekali, urus sana urusa sini, ngerjain ini ngerjain itu. Tapi hasilnya kadang tak berbekas. Hasilnya tak besar apalagi bisa memukau dan mencengangkan. Ah, dari kedua tafsir “Jarum Detik” itu, jika benar adanya, saya tak ingin menjadi seperti. Ya saya tak ingin menjadi semacam ini.

Kalau boleh memilih, saya lebih suka model manusia penunjuk “Jarum Jam”, kadang jalannya tak kelihatan tapi bisa menunjuk waktu sebenarnya. Arti gampangnya, dalam kehidupan, kadangkala fokus pada satu bisnis, satu pekerjaan itu keharusan. Ketika bisa fokus dan setia saya yakin hasilnya akan lebih memukau dan mencengangkan.

Tapi saya pikir-pikir, “Jarum Jam” akan memutar dan terasa lengkap jika ada “Jarum Menit” dan “Jarum Detik”. Anggaplah “Jarum Menit” dan “Jarum Detik” itu sebuah tim dalam urusan bisnis atau pekerjaan.

Kini saya paham untuk bisa berjalan sekali langkah tapi bisa sampai jauh kita butuh tim, tidak bisa sendirian. Mimpi kadang tak bisa terwujudkan sendirian, kita butuh tim sebagai penggerak dan pendukung bisnis kita. Saya sangat yakin itu.

Saya dan tim, berjalan bersama dalam detakan yang harmoni. Ini yang saat ini sedang kami jalani ketika mengelola bisnis kreatif anak-anak muda. Semoga Tuhan terus memberikan pencerahan dan keajaiban. Begitu juga denganmu kawan.


*Penulislepas. CEO Kanetwork Indonesia, tinggal di Jakarta

2 Responses to "Filosofi Jarum Jam"

indobrad mengatakan...

sebuah analogi yang menarik. jadi jarum jam itu diibaratkan apa ya? seperti tidak banyak membuang energi namun bekerja efisien ya. thanks for sharing :D

Andi Wong mengatakan...

waaah ahli flisuf nih..

btw

GW dah FOLLOW gan.. ats nm WONG.. NGantian ya.. thx ;)