Success After Resign


Success After Resign

:yons achmad*


"Tak ada pemandangan yang menyedihkan

daripada seorang pemuda/pemudi yang pesimis"

(Mark Twain)



PHK alias Putus Hubungan Kerja. Kata ini sering menjadi momok para pekerja kantoran. Bagaimana tidak? Dipecat dari pekerjaan, artinya mereka harus menganggur, tidak bekerja lagi seperti biasanya. Artinya, mereka juga tidak mendapatkan penghasilan. Tentu, sebuah wajah suram ketika hal ini menimpa para pekerja kantoran. Biasanya, dibarengi pula dengan stres berat bagi mereka yang benar-benar belum siap menerima kenyataan tersebut.


Padahal kalau dari awal sudah persiapan, terutama mental yang kuat, tentu tak kan terlalu stress dan linglung. Dalam dunia bisnis kadang memang kejadian kerap tak disangka-sangka. Perusahaan besar sekalipun, tak memberikan jaminan kepada karyawannya untuk bertahan dan bekerja sampai akhir karirnya.


Sewaktu-waktu mereka bisa di rumahkan, misalnya karena perusahaan memang sedang ingin mengurangi karyawannya demi efisiensi. Beruntung mereka yang mendapat pesangon setelah di PHK, tapi jangan tanya mereka yang diputus begitu saja tanpa uang pesangon, bisa jadi kondisi keuangannya benar-benar koleps. Ditambah lagi kalau sedang benar-benar tak ada tabungan.


Menjadi pekerja kantoran mungkin ada yang menyebutnya dengan zona nyaman. Mendapatkan gaji rutin setiap bulan. Tapi sebenarnya tidak benar-benar demikian, sebab mereka sewaktu-waktu bisa di rumahkan tanpa tahu kapan waktunya. Makanya, bagi siapapun yang saat ini sedang bekerja kantoran siap-siap saja kalau sewaktu-waktu (maaf) dipecat. Yah, sekedar persiapan saya kira perlu.


Disini saya hanya sekedar menyampaikan sedikit saja langkah persiapan ketika kejadian buruk itu (PHK) terjadi. Tapi, memang alangkah baiknya kalau kita mengakhiri sendiri alias secara sadar keluar dari pekerjaan dan total membuka usaha sendiri. Memang, kita tak perlu setia pada perusahaan sebab perusahaan juga tak selalu setia. Yang lebih penting, justru kita setia kepada profesi kita. Profesi yang menjadi passion kita.


Untuk bisa sukses setelah bekerja kepada orang lain dan membuka usaha sendiri memang relatif. Namanya juga sukses, setiap orang mempunyai persepsi sendiri-sendiri, mempunyai ukuran sendiri-sendiri. Dan untuk bisa sukses setelah keluar dari pekerjaan memang tak gampang. Pengalaman saya sendiri, karena tak ada uang pesangon setelah memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran benar-benar harus bisa bertahan dengan sisa uang gajian bulan lalu.


Hasilnya, memang langsung koleps di bulan berikutnya. Namun sejak saya membuka usaha di bulan April 2009 sampai sekarang alhamdulillah masih tetap bertahan. Pelan tapi yang penting selalu ada progres. Menurut pengalaman, dalam berbisnis yang utama adalah soal jaringan kemudian skill (kecakapan spesialisasi bidang tertentu) selanjutnya kemampuan dalam berkomunikasi (bergaul) dan ditopang dengan modal yang cukup akan semakin kuat.


Dengan bekal demikian, menurut para pakar dalam bisnis sebenarnya sudah cukup dalam perjalanan usaha. Selanjutnya tinggal kerja keras (cerdas). Sementara, untuk bisa sukses saya mendapatkan rumus dari seorang rekan bisnis yang tak mau disebut namanya. Rumusnya sebagai berikut:


I= F (S+K)

I= Income

F= Frekwensi

S= Skill

K=Knowledge


Dari rumus tersebut, kita pasti tahu apa yang menjadi prioritas utama.


Paham? Yuk kita praktekkan sama-sama :-)


*Praktisi bisnis kreatif. Owner Komunikata.net

4 Responses to "Success After Resign"

Anonim mengatakan...

i= F (S+K)
Yang ini maksudnya apa ?
yuk kita mulai berwirausaha

yons achmad mengatakan...

maksudadnya, yang paling penting sebenarenya adalah F nya, alias jam terbang, alias kerja keras alias frekwensinya. Misalnya taruhlah S dan K nya 8 tapi kalau F nya nol kan hasilnya tak ada. begitu :-). itu sih rumusnya, ini aye juga lg belajar praktekin he he

dhodie mengatakan...

Ajarin dong supaya berani resign hehehehe... Rumusnya wokeh

*eitu foto udah kayak PAT dah* :-))

yons achmad mengatakan...

PAT apaan tuh he he