(5) The Story of Sumanto



"Saya mohon maaf sebesar-besarnya
karena saya telah berbuat tidak benar.
Sumanto dahulu tidak sama dengan Sumanto sekarang.
Dahulu saya tidak tahu soal batal haram,
sekarang saya tahu. Dahulu saya makan bangkai.
Sekarang saya tahu makan bangkai itu haram.
Saya tidak akan mengulangi."

(Suaramerdeka, 10 November 2006)

....

Teks itu sedang diajarkan untuk dihafal oleh Sumanto. Yang mengajarkan tak lain adalah Supono Mustajab, seorang da'i yang secara sukarela akan membimbing Sumanto untuk kembali hidup normal, bisa diterima kembali didalam kehidupan bermasyarakat yang sewajarnya. Di dalam teks tersebut, terkandung makna permintaan maaf Sumanto atas dosa-dosa yang telah dilakukannya, dosa kepada Tuhan dan dosa terhadap sesamanya.

Seperti yang sudah kita ketahui lewat media massa dan elektronik, Sumanto, warga Desa Plumutan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga ini dikenal sebagai kanibal yang telah memakan bangkai manusia. Setelah keluar dari penjara, lewat bimbingan Supono Mustajab, Sumanto ingin berbaur kembali bersama masyarakat. Memang, sempat ditolak oleh warga yang disuarakan oleh pejabat lokal setempat. Tapi ternyata Tuhan masih berbaik hati, dengan cintaNya, ada orang bijak yang masih mau mengurusnya, bahkan ingin menjadikan Sumanto seorang da’i. Alasan kemanusiaan dan hati nuranilah yang membuat Pak Supono terketuk untuk membimbing Sumanto.

Mendadak Selebriti.

Sumanto kini mendadak jadi selebriti. Hari demi hari, kisah hidupnya diberitakan di koran maupun di televisi. Tayangan terbaru yang sempat saya lihat di televisi, Sumanto sudah dikunjungi oleh keluarganya. Dia tampak senang dan terlihat membagikan uang kepada anak-anak kecil. Mungkin, dia mendapatkan uang dari hasil tayangan eksklusif berbagai stasiun televisi yang mewawancarainya. Dan kini, sepertinya dunia baru sedang dilalui Sumanto. Dunia yang berbeda sama sekali dengan masa lalunya.

Lantas, bagaimana dengan kita..?

Dari pantau media, baik media massa, elektronik maupun internet, saya banyak mendapatkan informasi terkait dengan Sumanto dan orang-orang yang bersentuhan dengannya. Ada kru stasiun televisi X yang merasa bangga bisa mendatangkan Sumanto ke Jakarta untuk diwawancarai, tapi kemudian memaki kru stasiun televisi Y yang “menculik’ Sumanto untuk diwawancarai pula. Ada yang berniat menjadikan Sumanto sebagai penagih utang, ada yang ingin menjadi manajer Sumanto, artinya ketika ada urusan terkait dengan Sumanto harus melalui dirinya. Ada pula yang hanya sekedar menyaksikan kisah-kisahnya.

Saya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan Sumanto, hanya pernah melihatnya di layar kaca dan membaca kisahnya di koran. Dengan demikian, hanya hikmah yang bisa saya petik ketika mencermati kisah hidup Sumanto dengan lika-liku kehidupan unik yang dilaluinya. Bahwa setiap orang mempunyai massa lalu yang mungkin suram. Tapi, ketika orang tersebut ingin memperbaiki diri, tak ada kata yang pantas selain kita membuka diri untuknya agar bisa kembali hidup berbaur dengan masyarakat. Toh, kita juga belum tentu telah memberikan kontribusi yang berarti untuk masyarakat di sekitar kita. Dan Sumanto, siapa tahu dia justru akan melakukan banyak hal positif bagi masyarakat nantinya.

Selain itu, dari kisah Sumanto, kita pun patut bercermin kepada Pak Supono Mustajab. Sosok langka yang barangkali semakin susah ditemukan. Sosok yang dengan keikhlasan dan ketulusan mau bersusah payah untuk membantu orang lain (Sumanto), dikala banyak orang yang mencemooh dan tidak menerimanya. Dan saya, maupun Anda yang sempat membaca catatan kecil ini, semoga kita bisa belajar lebih banyak dari episode kehidupan semacam ini. Berlatih membuka maaf untuk orang lain. Dan kita belajar untuk menghargai orang lain yang sedang memulai kehidupan barunya, bukan justru mengasingkannya. (yon’s revolta).

~Snow Man Alone~

Purwokerto, 12 November 2006.

4 Responses to "(5) The Story of Sumanto"

siwoer mengatakan...

nice story yon

thx for visiting mine :)

Hani mengatakan...

sumanto rupanya jadi inspirasi berbagai pihak.

duh yon itu sawah hijaunya...jadi inget kampung halaman...huhuhu

Bunda Raihan mengatakan...

kadang, kita bisa bercermin dari kesalahan orang dan mengambil hikmahnya

makasih udah mampir ke rumah raihan ya

bang_hanif mengatakan...

yup..akhirnya cita cita Sumanto pun berhasil...ingin menjadi orang terkenal.
waah..jadi ada kesimpulan nih.
berrarti dengan cara perdukunan pun cita cita sumanto bisa berhasill walau dengan bersusah payah.
keep wrote..