Kampung Yang Unik

Setelah kepak sayap melintasi pematang
Seketika serindu memelas pula
Pada lingkar hijau batin jiwaku
Mengajakku kembali pulang

..

Di dalam buku Petunjuk Jalan, Sayid Qutb-seorang pemikir muslim asal Mesir-bercerita tentang sebuah generasi Qur’ani yang unik. Sebuah generasi yang mempunyai kekhasan dalam memandang dan beinteraksi dengan Al-Quran. Mereka berinteraksi dengan Al-Quran bukan karena keindahan bahasanya, keindahan sastranya, bukan pula dengan mengkajinya untuk kepuasan intelektual semata. Mereka menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya, menerima dengan sepenuh hati dan mengamalkanya. Maka, lahirlah sebuah generasi yang unik, generasi pertama para sahabat.

Hasilnya, bisa kita baca dalam berbagai buku sejarah. Bagaimana kehidupan mereka senantiasa dipenuhi dengan kebahagiaan, walau hidup dalam kesederhanaan. Filosofi kehidupan mereka hayati dengan sebenar-benarnya. Tujuan hidup mereka jelas, visioner. Orientasi tak melulu pada dunia, tapi kecintaan pada kehidupan akhirat yang dijanjikanNya. Begitupula dalam kehidupan sosial mereka, bagaimana solidaritas, persaudaraan (ukhuwah) begitu terbangun dengan indahnya. Kaum Muhajirin dan Anshor bisa kita jadikan referensi bagaimana mereka selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Saling berbagi, saling membantu satu sama lain. Indah sekali.

Negeri bernama Indonesia, bisakah seperti itu. Ah…sepertinya butuh proses dan kerja keras. Kolaborasi yang cantik antara peran mahasiswa sebagai pelopor perubahan, kaum profesional muslim, dan tentunya aktivis partai politik yang amanah bisa menjadi solusi. Hal itu seperti sebuah tesis kebangkitan umat yang pernah digulirkan oleh Ustadz Mustafa M Thahan

Untuk mengawalinya, butuh pengalaman dam pembelajaran yang panjang. Hal ini bisa dimulai dalam lingkup yang kecil terlebih dahulu. Sebuah komunitas yang jiwa masyarakatnya adalah Al-Quran. Al-Quran menjadi spirit dan acuan dalam kehidupan masyarakat itu. Ijinkan saya menyebutnya dengan istilah “Kampung Yang Unik”

Lintasan pemikiran ini muncul ketika saya mendapati suasana lebaran tahun ini. Sudah tradisi, setiap lebaran tiba banyak orang mudik kembali ke kampung halamannya masing-masing. Para perantau di daerah saya juga begitu. Mereka yang kebanyakan bekerja di Jakarta dan beberapa di luar Jawa kembali ke kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat mereka. Tentunya juga berbagi cerita dan rizki yang didapatkannya setelah sekian lama merantau di kota. Beberapa tetangga saya yang sekian lama merantau sudah bisa menuai hasilnya, salah satunya kekayaan berupa materi. Tampak dari mereka bisa hidup cukup, bahkan ada beberapa yang terlihat gagah dengan mobil barunya. Alhamdulillah, saya cukup senang melihat keberhasilan mereka.

Tapi, ada hal yang masih menggelisahkan saya. Masjid masih seperti dulu kala.

Tak banyak yang berubah suasana masjid itu. Pun begitu dengan kehidupan keberagamaannya. Begitu-begitu saja, tak tampak ada peningkatan yang berarti, bahkan boleh dibilang ada penurunan. Rupa-rupanya, belum ada sentuhan yang berarti dari para pemudik yang berhasil itu. Saya ingat betul. Dulu, remaja masjid begitu giat melakukan serangkaiaan kegiatan keIslaman, sekarang tak ada pengurusnya walau masih banyak remaja di kampung saya. Dulu ada beberapa buku dan malah di masjid saya, bahkan sempat berlangganan koran. Sekarang tak ada lagi. Sedih sekali melihat kondisi seperti ini.

Lantas saya berpikir, apa nanti saya kembali ke kampung saja.

Berat bagi saya. Sebuah keputusan yang sulit. Dengan latar belakang pendidikan Jurnalistik, apa yang bisa saya sumbangkan untuk kemakmuran masjid dan jamaah di kampung saya. Belum lagi kalau di kampung nyari penghasilan itu sulit. Lebih mudah pergi ke Jakarta. Disana cepat mendapatkan uang, walau kadang dengan kerja “rodi” tanpa kenal waktu. Dua pilihan ini masih tersisa dibenak saya. Pulang kampung, hidup sederhana disana tapi bisa berusaha memakmurkan masjid dan bersama-sama memberdayakan masyarakat atau memilih kerja di kota besar. Bisa hidup berkecukupan, tapi belum tentu bisa mengurus masjid di kampung.

Terus terang, dalam hati kecil saya memang berniat untuk pulang kampung. Hidup sederhana disana. Dengan berwiraswasta dan sesekali menulis untuk bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Dengan begitu masih cukup waktu untuk bisa dialokasikan mengurus masjid. Tapi, kok saya masih gelisah juga ya dengan pemikiran ini. Kawan…adakah yang mempunyai kegelisahan seperti yang saya alami ini.

Fiuuuh..Insyallah, kini saya sedang berusaha untuk mencari solusi yang tepat dengan berdoa agar Allah memberikan jalan terbaik untuk semua ini. Sebuah cita-cita sederhana untuk mewujudkan “Kampung Yang Unik”. Kampung yang makmur secara ekonomi dan bernuansakan keIslaman yang kental dalam kehidupan keseharian mereka.

Semoga saja, garis nasib saya tetap tertuju kesana, walau bisa jadi saya nantinya, entah karena tuntutan pragmatisnya hidup mengharuskan saya bekerja di luar kota, tapi hati saya tetap tertambatkan untuk mewujudkan “Kampung Yang Unik” itu, sebuah kampung sejuk dan damai di Kaki Gunung Merapi Magelang. Walaupun tentu dengan cara yang lain pula. Akhir kata, saya minta doa dari siapapun yang membaca catatan kecil ini, karena saya akan lekas mengakhiri berjibaku dan bergelut dengan buku-buku di kampus yang membuat kening berkerut untuk selanjutnya menyongsong cita-cita itu. (Yon's Revolta)

4 Responses to "Kampung Yang Unik"

tentng_kita mengatakan...

Yon's, kalau hati kecil kamu sudah punya nawaitu segitu, terusin aja. Insya-ALLAH, kita2 semua pasti mendukung. Semoga nanti akan tersebar berita sampai ke Malaysia kalau di kaki gunung Merapi ada sebuah Kampung Unik (Kg yg masih menerapkan nilai-nilai Islam yg tinggi, meski lingkungan sekitar pada sibuk menjurus ke arah Borjuis) Amin .. n semoga kamu kagak bingung meski bahasa Indonesiaku kayak gado2

Yon's Revolta mengatakan...

Kadang aku bingung juga. Tapi kalau komentar kamu ini aku ngerti kok maksudnya. Bahasa Indonesia kamu sudah lumayan bagus kok :-). Tengkyu dah komentar yah

kawan mengatakan...

Yon dg niat, ilmu & kreatifitasmu, yg tentu semua itu tak lepas dr ridha & pertolongan Allah kamu bisa wujudkan semua cita2mu: kampung unik yg islami & kehidupan Yon & masyarakatnya yg makmur. Dg kapasitasmu & kerja sama byk org, kalo kampung unik itu terwujud pd waktunya akn jg bs diharapkan menjadi sumber penghidupan yg diberkahi. Memang pasti bukan kerja ringan sambil lalu & perlu waktu. maka siapkan BBM & ENERGImu

Azhar mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Problem ini tentunya banyak dialami para mantan aktivis remaja masjid, ketika masa remaja menghabiskan dan berkarya untuk masyarakat di masjid-masjidnya dengan melakukan banyak kegiatan yang positif. Pengajian2, diskusi2, bazar, donor darah dsb. Tapi dengan bertambahnya umur tentunya menyebabkan kita harus berjalan sendiri2 demi kelangsungan masa depan kita. Seringkali kaderisasi menjadi permasalahan kita, anak2 muda seiring godaan2 dari lingkungan global yang semakin kenceng dari TV, Internet, Radio, Majalah, gaya hidup yang ditawarkan hedonis, membuat mereka silau. Murid2 yang kita bina dulupun setelah lulus SD, naik ke jenjang SMP dan SMA banyak yang belok arah tidak mau lagi ke masjid. Sehingga sekarangpun masjid2 kita sepi dari kegiatan. Sudah berbagai cara diterapkan untuk menarik mereka tetapi godaan memang begitu kuat, sehingga banyak kawan2 yang akhirnya karena umur bekerja dan menikah, perjuangannya berhenti dan buyar.
Perjuangan memang berat tapi harus dilalui dan dijalankan. Semoga sukses tidak seperti kami ini, tercerai berai.
Azhar Helmi