Bukan Nasehat Untuknya

Beberapa waktu lalu saya menengok seorang teman muslimah yang mendapatkan musibah kecelakaan. Sewaktu saya tengok di sebuah rumah sakit, saya lihat dari kejauhan lukanya lumayan parah di mukanya. Setelah beberapa lama dan ngobrol dengan kawan-kawan yang sudah duluan berada disana, saya mengetahui penyebab kecelakaan itu. Gamis panjangnya nyangkut di roda belakang motor sehingga menyebabkannya terlempar dan jatuh di aspal jalan.

Setelah saya pulang dari menengoknya, saya menulis pesan singkat ke sebuah forum yang disana banyak para muslimah. Saya menulis dan berpesan kepada para muslimah untuk berhati-hati dalam mengendarai motor, terutama dalam kasus tadi. Hati-hati dengan gamis yang panjang. Jangan sampai kejadian yang menimpa teman muslimah saya tadi terulang di kemudian hari.

Beberapa hari kemudian….

Saya bangun untuk mencari makan buat saur. Hari masih gelap. Kebetulan saya menginap di pusat komputer kampus. Untuk mendapatkan makanan untuk saur, saya berjalan mencari makan di sepanjang jalan kampus. Tiba-tiba handphone berbunyi, dan setelah saya buka, ternyata dapat bonus telpon sebesar Rp 10.000, lumayan pikirku sambil masih asik memencet-mencet tobol handphone.

Saat asik itulah tiba-tiba sebuah motor menabrakku dari arah belakang dan saya terlempar.

Saya merintih, mengerang kesakitan, tak bisa berjalan. Hampir pingsan, mata saya terasa berkunang-kunang dan perut mual hampir muntah. Hanya ada beberapa orang yang sedang berada di jalan itu. Kemudian, setelah mendapatkan sedikit pertolongan, saya diantar oleh sang pengendara motor tadi untuk pulang ke kost. Di kost saya hanya bisa menahan rasa sakit.

Setelah agak baikan saya berpikir. Kok bisa saya dengan tiba-tiba tertabrak motor dari belakang. Apa jalan saya terlalu ketengah. Atau karena waktu itu masih gelap sehingga sang pengendara motor tak melihat saya. Ah saya tak tahu. Yang saya tahu, sekarang saya terbaring tak berdaya, tidak bisa berjalan. Hanya bisa menahan rasa sakit saya. Sampai saat saya menulis catatan ini, kaki saya masih susah untuk berjalan. Pada akhirnya hanya hikmah yang bisa saya petik dari semua ini.

Ternyata itu “Bukan Nasehat Untuknya”.

Ya, kejadian yang saya ceritakan diawal. Tentang kisah kecelakaannya seorang muslimah teman saya tadi, ternyata menimpa saya juga walau dengan kasus yang berbeda. Kisah kecelakaannya seorang muslimah itu ternyata sebuah nasehat untukku. Dari sini saya kemudian merenungkan makna yang lebih luas yang bisa saya petik dari kejadian tersebut. Dalam kejadian-kejadian atau musibah yang menimpa saudara kita ternyata ada benang merahnya. Setidaknya, sebelum menunjuk ke orang lain, saya belajar untuk berkaca pada diri sendiri dulu. Menyuruh para muslimah untuk berhati-hati, eh malah saya yang kemudian tertimpa musibah.

Kawan, begitulah kisah yang bisa saya bagikan hari ini. Semoga saya dan kita semua yang mungkin sering memberikan petuah-petuah dan nasehat kebaikan kepada orang lain. Tentang nilai-nilai Islam, ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah atau kebaikan lainnya, semoga kita juga tak hanya sekedar berpetuah, tapi juga melaksanakan petuah-petuah dan nasehat-nasehat itu. Sehingga kita tak melulu menebar petuah kebaikan tetapi juga melaksanaknnya. Harapan akhirnya, agar kita semua bisa selamat. Di dunia maupun di akhirat. Semoga. (yon’s revolta)

~Snow Man Alone~
Purwokerto, Awal Oktober 2006

Untuk kawan-kawan
KAMMI, IMB dan FLP dimanapun berada,
Semoga puasa kali ini membawa perubahan atas diri dan masyarakat sekitar. Amien.

2 Responses to "Bukan Nasehat Untuknya"

MnX mengatakan...

mangkenye, ati2 di jalan..jangan bisanya nyerewetin orang di milis aja..hehehe..

ngebut2an itu asik lhooo... ^_^

Yon's Revolta mengatakan...

Iya Bu wartawan :-p

"ngebut2an itu asik lhooo... ^_^" gubrak.com