Jangan Jadi Penulis

Jangan Jadi Penulis
:yons achmad*

"Bisa hidup gak sih jadi penulis?"
Bisa, tapi cepat atau lambat.. kita akan mati"

(Raditya Dika)

Sebagai lelaki saya hanya bisa berkata. Seseorang: Ia, perempuan yang mau menikah dengan lelaki penulis atau yang mengaku penulis, pastilah malaikat. Ya, siapa sudi bersuamikan lelaki penulis kalau bukan malaikat. Yang kesabarannya menjulang tak terbatas semacam angin.

Kau tahulah sebabnya. Nasib para lelaki penulis di negeri ini kebanyakan gelap (Untuk tak mengatakan suram). Kecuali yang sedikit.

Beruntung perempuan yang hidup bersama penulis “yang sedikit” itu.
Selebihnya, bayangkan sendiri nasibnya.

Mereka, para lelaki yang memutuskan jadi penulis
Saya kira mereka telah memilih sesuatu yang mengerikan.


Jangankan bisa menghidupi diri perempuan pasangannya. Mungkin untuk bisa makan sehari-hari dirinya saja kepayahan. Dan jangan harap bisa membelikan sepatu perempuan itu. Yang, seperti kata Barbara Pease dalam “Why Men Lie & Women Cry” bahwa perempuan selalu perlu lebih banyak sepatu. Tentu kata sepatu ini tanda halus untuk misalnya baju, tas, mobil, rumah dst. Tidak untuk sesuatu seperti buku.

Akibatnya. Mungkin. Dan bisa saja ini terjadi. Perempuan yang hidup bersama seorang penulis selama beberapa waktu, ia akan memilih jalan yang realistis. Misalnya sudi dinikahi pria berumur bangka, berperut buncit dan bermuka tampak bodoh namun berduit setumpuk jalan layang

Saya kira ketika perempuan yang memilih jalan itu. Tepat sekali.

Dan lelaki penulis menyedihkan yang ditinggalkan itu, ia mungkin hanya bisa pergi ke danau, mengubah tragedi menjadi komedi. Untuk bahan cerita selanjutnya. Yang, mungkin lagi-lagi akan ditolak redaktur ke seratus kalinya.

Dan kau tahu setelahnya, mana ada lelaki yang waras tanpa perempuan di sampingnya?

Itu adalah penggalan percakapan dalam novel “Taj Mahal” besutan John Shors. Saya sependapat dengannya sebelum ada yang benar-benar bisa membuktikan ternyata semua itu keliru.

Sebenarnya lelaki penulis itu tidak butuh apa-apa. Ia hanya berharap seseorang terdekatnya berkata “Jalanmu keliru, seharusnya kau tempuh jalan itu”. Atau “ ah idemu tak terlalu buruk, segera selesaikan sayang”

Lalu ia akan kalap dan tenggelam dalam lautan kata-kata, kemudian benar-benar menjadi sesuatu berbentuk buku atau tulisan lain yang laku. Sayangnya, yang demikian hanya sedikit saja kisahnya di alam nyata dunia ini. Selebihnya, mengharapkan yang demikian hanya mimpi yang tak akan pernah terjadi.

Itulah sebabnya lelaki penulis sadar. Bahwa tak boleh bergantung pada siapapun untuk sebuah keyakinan. Ia sendiri yang harus memperjuangkannya. Yang kadang harus dilewati dengan keras kepala. Dan ini adalah permainan menyeramkan yang kadang berakhir cukup tragis dan mengerikan.

Tapi, ah kau tahu. Sebenarnya kisahnya tak semengerikan itu. Yang kutahu, dan saya yakin Mario Teguh pun setuju “Apapun profesinya ketika dilakukan sungguh-sunguh penuh keyakinan, pastilah kelak akan menghasilkan”

“Jangan Jadi Penulis” Yakinlah itu bisikan setan.

Percaya atau tidak. Itulah yang akan menentukan langkahmu. Dan tentu saja langkahku.[]

Halim Perdanakusuma 20/10/10: 22.38

*Yons Achmad. Penulislepas & CEO Kanetwork.net, tinggal di Jakarta

3 Responses to "Jangan Jadi Penulis"

Hilmy Nugraha mengatakan...

tapi mas,
aku ingin mengikuti bisikan setan untuk kali ini.

dan aku yakin dengan kata mario teguh.

:D

dhodie mengatakan...

Sukses, penakayu! Materi memang penting, tapi kepuasan bekerja yang didasari kesadaran pilihan hati itu jauh lebih penting. Kita lihat 10-20 taun mendatang sampean kayak gimana :-))

penakayu mengatakan...

Hilmy@ ha ha ya ya ya :-p
Om Dhodie@ sep follow passion he he ^_^