Keajaiban Bangun Pagi


Keajaiban Bangun Pagi

:yons achmad*


"Tanpa terus-menerus tumbuh dan berkembang,

kata-kata seperti kemajuan, prestasi, dan sukses tak punya arti apa-apa.”


Benjamin Franklin (1706—1790)

(Ilmuwan, filsuf, penulis)


Cium bau pagi lagi...


Saya selalu suka bau pagi. Walau tak selalu berhasil menciumnya. Kadang, hati begitu berhasrat menciumnya. Namun apa daya. Tidur begitu larut. Lebih dari jam 12 malam. Hasilnya. Kesiangan bangun. Lagi-lagi kesiangan. Dan pagi tak perawan lagi. Dicium orang lain. Terus terang, saya cemburu berat.


Jujur, saya memang agak pemalas. Sangat susah bangun pagi. Entahlah, saya barangkali insomnia akut. Jarang sekali bisa tidur sebelum jam 12 malam. Kalau bisa jam 02.00-an biasanya terbangun. Setelahnya, nggak bisa tidur lagi. Baru terasa ngantuk berat sekitar pukul 07.00. Akibatnya, tak bisalah saya bekerja, berkarya, ketemu klien dsb. Rusak beragam rencana. Hasilnya, gigit jari di akhir bulan.


Kadang saya pingin ikut terapi. Konsultasi ke dokter. Tapi, mahal kan biayanya. Makanya, saya lantas memutar otak bagaimana bisa melakukan terapi sendiri. Salah satu caranya jelas, MEMBACA. Ya, saya banyak membaca tentang keutamaan-keutamaan bangun pagi. Begitu juga, tentang “Mukjizat Sholat Subuh”. Hasilnya, lumayan tergerak untuk bangun pagi. Tapi sebatas niat saja. Prakteknya saya masih sering kesiangan bangunnya. Ampun dah !!!.


Lalu, terapi saya selanjutnya adalah MENULIS. Katanya, menurut pakar kepenulisan, ahli psikologi maupun pakar motivasi, menulis bisa menjadi terapi. Kali ini, saya mempraktekannya. Dengan menulis kolom kecil tentang bangun pagi ini. Siapa tahu kelak bangun pagi benar-benar menjadi kebiasaan.


Ketika akhirnya berhasil bangun pagi, saya mencoba mengamati diri sendiri dan lingkungan sekitar. Suasana pagi memang sunyi, anyep. Saya suka. Ia belum begitu berisik, belum begitu riuh dengan orang lalu lalang atau kendaraan yang mondar mandir. Saya benar-benar merasakan ketenangan. Disaat inilah kadang waktu saya bercengkrama dengan Tuhan.


Setelah subuh, tentu saya suka berjalan-jalan sebentar. Walau tak selamanya berhasil. Habis subuh tidur lagi pernah menjadi kebiasaan. Susah sekali mengakhiri kebiasaan ini. Lalu pelan-pelan bisa. Ya, pelan-pelan sekali.


Ketika jalan-jalan selepas subuh itu, ada beberapa orang yang sering saya dapati. Yang paling sering tentunya tukang sayur. Entah jam berapa mereka berbelanja, pagi-pagi benar sudah bergegas menjajakan dagangannya. Lalu, beberapa gelintir anak sekolah. Maklum, mungkin sekolahnya jauh, harus masuk pukul 06.30, jadi pagi-pagi benar mereka mesti berangkat. Selebihnya, para orang tua. Mungkin pensiunan. Yang melakukan jogging atau sekedar jalan santai menghirup udara segar.


Pagi. Bagi saya sensasi sendiri. Setelah mencecap secangkir teh. Langsung melongok layar monitor. Bekerja, menulis, berkarya, mengirim surat bisnis. Pagi memang benar-benar produktif. Saya menyukainya. Bagi saya ini adalah sebuah keajaiban kecil. Siangnya, baru “menjual diri” ke beberapa kantor, menawarkan jasa konsultasi media yang menjadi pekerjaan saya saat ini.


Kadang, saya iseng mikir begini :


"Hidup ini diawali dengan ciuman bau pagi, secangkir teh, kemacetan, buku, kata-kata, senja, alunan biola lalu cinta"


Mungkin, tak semua sepakat. Tapi itulah yang saya rasakan. Bagaimana denganmu?


Markaz Komunik@ta : 21 April 2010

*Penulis Lepas, tinggal di Jakarta

5 Responses to "Keajaiban Bangun Pagi"

Hilmy Nugraha mengatakan...

pagi, diawali dengan syukur akan nafas yang masih melekat di dada...

My Sky mengatakan...

HUahhh serasa tersindir :">
Aku baru bisa tidur jam 5 pagi dan bangun jam 9 ato paling siang jam 10...
tidak produktif memang hidup seperti ini. gimana caranya tu mas Yon bisa tidur sebelum jam 10 malam???

yons achmad mengatakan...

Hilmy@ iya ya. Seharusnya begitu :-)
Sky@ kl sebelum jam 10 malem biasanya aye emang gak isa tdr. Skr aye biasain pokoknya sebelum jam 12 kudu tdr. Kadang sih jam 11.30 malem br bisa he he :-)

andi mengatakan...

Akhirnya jatuh cintrong juga ente sama pagi?!

Gimana kabar senja?

andi mengatakan...

Jatuh cinta pada pagi itu anugerah.

Gimana kabar senja?