Manusia Setengah Malaikat


Manusia Setengah Malaikat

:yons achmad


Tidak ada kebahagiaan

dalam memiliki atau mendapatkan,

kebahagiaan hanya ada dalam memberi


Henry Drummond (1851-1860)

Pujangga Kanada



Kau pernah menjumpai manusia setengah malaikat? Apa, belum? Saya pernah, bahkan berkali-kali. Mungkin, kau masih sedikit terbingung maksudnya apa. Begini. Malaikat, seperti yang kita mengerti, dia makluk yang boleh dikata serba baik. Segala ciri kebaikan melekat padanya. Jika malaikat semacam ini, makluk yang disebut iblis adalah kebalikannya. Segala keburukan dilekatkan padanya. Sementara, manusia berada di tengah-tengahnya.


Ia bisa baik, bisa buruk. Manusia setengah malaikat, ia hanya gambaran untuk memudahkan pendefinisian saja. Ia, bagi saya adalah manusia biasa, dengan beragam profesi yang dimilikinya, tapi dia, pada suatu ketika, tanpa kita sangka menjadi penolong bagi permasalahan hidup kita. Dan, diam-diam ketika kita mempunyai sesuatu yang berharga, kita akan begitu rela memberikan kepadanya.


Dia ada di mana-mana. Kau mungkin pernah menonton reality show di televisi bertajuk “Tolong”. Kira-kira gambarannya semacam itu. Di sana (walaupun mungkin ada rekayasa tayangan), kita bisa menyaksikan bagaimana orang-orang, para manusia setengah malaikat memperlihatkan ketulusan suci. Seperti salju di gunung, hatinya selalu bersih, putih. Sebuah laku kebajikan tanpa pamrih sedikitpun. Tak pernah membayangkan akan menerima imbalan setelah melakukan sebuah kebajikan tertentu.


Lantas, bagaimana nasib kita? Mungkin kita pernah ditolong oleh manusia setengah malaikat itu. Manusia yang datang pada saat yang tepat. Dikala kita dirundung sedih, ketika nasib terasa malang, dia datang. Dengan uluran hati yang tulus, dengan uluran tangan yang ringan membantu menyelesaikan permasalahan kita. Atau, sekedar mau menerima curahan hati kita yang tak semua orang mau mendengarnya. Dan, itu sudah cukup membuat kita lega setelah meluahkan segala beban yang ada.


Ketika kita mendapati makluk yang demikian, tentu kita merasa sangat senang. Seolah, dia adalah makluk yang sengaja diutus Tuhan. Makluk yang sengaja diturunkan untuk menolong kita. Meringankan beban kita, memberi jalan keluar atas beragam kesusahan dan problem yang melanda kita. Sementara, kita diam-diam menjadikannya benar-benar pahlawan dalam kehidupan kita yang hanya sepotong ini. Kita benar-benar berhutang budi kepadanya.


Manusia setengah malaikat. Tak usah jauh-jauh, kadang, ternyata ia bukan orang lain. Dia bisa jadi kedua orang tua kita, saudara-saudara kandung kita, orang-orang terdekat kita. Singkatnya dia adalah orang yang dengan susah payah mencoba menyayangi kita, tapi kita kadang melupakannya. Ya, orang-orang yang selalu menolong kita, sebegitu seringnya hingga tak kita sadari betapa begitu besar jasanya bagi kehidupan kita.


Jika mau jujur, sebenarnya manusia setengah malaikat itu nyata adanya. Dan dia itu begitu dekat dengan kita. Jangan melihat mereka dengan mata, tapi dengan hati kita. Jika kita sudah mengingat nama-nama mereka, manusia setengah malaikat itu, alangkah bijaknya kita cepat-cepat membalas kebaikannya. Jika belum sempat, setidaknya sebuah ucapan terimakasih yang paling tulus kita berikan dari lubuh terdalam hati kita.


Jika sudah, yang perlu kita pikir sama-sama, kapan kita bisa menjadi manusia setengah malaikat untuk orang lain? Ah, betapa malunya ya dengan prestasi kebaikan kita.


Rumah Kelana, 27 Oktober 2009/ 23.52.

2 Responses to "Manusia Setengah Malaikat"

Naser mengatakan...

Sebenarnya bukan manusia setengah malaikat, itu memang sudah kewajiban semua manusia untuk saling menolong. Menolong seharusnya menjadi bagian dari hidup kita.

yons achmad mengatakan...

sep.komentar yang menarik :-)