Zikir Sebelum Cahaya

Zikir Sebelum Cahaya
Oleh
Yon’s Revolta

Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
Sebelum cahaya

L…E…T…T…O…

Ya, kata-kata itu memang sepenggal dari lagunya. Dinyanyikan oleh Noe, sang vokalis yang putra Emha Ainun Najib, budayawan Jogjakarta. Saya yakin, setiap orang mempunyai kesan tersendiri terhadap lagu itu. Saya pun begitu. Saat ini, ijinkan saya untuk memberi penafsiran atas lagunya yang berjudul “Sebelum Cahaya”. Hanya penilain pribadi saja sebagai pecinta musik yang awam.

Pertama kali mendengar lagu itu, saya tidak mudeng apa maksudnya. Pelan-pelan saya ulang mendengarnya, masih meraba-raba juga. Lagu ini membuat saya berpikir dan merenung. Apakah yang dinyanyikan Noe itu soal cinta biasa, soal cinta kebanyakan lagu-lagu pop Indonesia. Atau, tak sekedar itu, kadarnya jauh lebih dalam, sebuah ekspresi kecintaan pada Sang Khalik, pada Yang Diatas Sana.

Perhatikan. Diawal lagu, sebelum diperdendangkan syair lagunya, disuguhi sebuah instrumen yang lirih. Seperti orang Islam ketika berzikir, suara mestilah lirih, pelan, tak tergesa-gesa, apalagi dengan suara yang menghentak, meledak-ledak. Pilihan lirih saja sudah membuat orang penasaran. Kemudian, baru masuk, pendengar disuguhi dengan alunan lagu yang kontemplatif (bernuansa perenungan). Kata sebelum cahaya sendiri, bagi saya cukup puitis. Jika cahaya itu membuat terang, layaknya dalam filsafat, kebenaran juga begitu, membuat hidup terang. Sebelum cahaya adalah jeda, bisa pula proses menuju kebenaran.

Lagu ini, seolah ingin memberikan nuansa lagu yang beda dengan lagu-lagu pada band-band Indonesia yang (maaf) terlampau cengeng, dangkal, vulgar dan tidak memberikan efek apapun selain hiburan dan kesenangan. Bahkan, hanya melenakan anak-anak muda saja. Mungkin, ada yang pernah dengar sebuah band menyanyikan lagu “Ooo kamu ketahuan, pacaran lagi dengan dirinya…..”. Memang, soal selera mungkin berbeda satu orang dengan orang yang lain. Ada yang suka pada lagu ini, selera tentu bukan untuk diperdebatkan. Tapi bagi saya, lagu ini sangat dangkal sekali, naif, terus terang bikin risih mendengarnya kalau ada yang nyetel keras-keras. Yah, ini memang soal selera, dan sekali lagi, selera memang jangan diperdebatkan.

Satu hal yang pasti, musik memang bisa memberikan warna tersendiri dalam hidup kita. Kadang orang itu, hati orang itu memang lebih condong pada apa seleranya. Selera dalam menikmati musik bisa jadi begitu juga. Bagi yang suka lagu-lagu religius, biasanya cenderung mempunyai hati yang tenang atau setidaknya menyukai ketenangan jiwa atau sedang berproses untuk untuk menumbuhkan jiwa yang tenang. Tak sekedar memberikan hiburan hati semata, tapi juga menuntunnya untuk selalu ingat denganNya.

Soal lagu sebelum cahaya itu, saya kira Noe memang sedang berzikir, sedang mengingatNya. Tentu pendapat saya ini belum seratus persen kebenarannya sebab belum konfirmasi langsung dengan pencipta atau vokalisnya. Tapi harapan saya semoga saja begitu. Dia, sedang melakukan proses perenungan lewat sebuah lagu, tentang pencarian yang sesungguhnya, sehingga pada akhirnya, bisa menemukan cinta yang sesungguhnya, cinta sejati. Bukan hanya sebatas cinta antara seorang lelaki dan perempuan semata.

Hemmm..lagu ini memang sedikit menggoda saya. Entahlah, saya kok menemukan nuansa yang berbeda ketika menikmati lagu ini. Semoga saja dugaan saya benar, Noe sedang merenung dan mengingat dan kemudian berjanji setia dengan Yang Maha Cinta. Atau, ada yang mempunyai pendapat lain tentang lagu ini….?

Purwokerto, 21 September 2007.

11 Responses to "Zikir Sebelum Cahaya"

Yusuf Caesar mengatakan...

Bro, ente baru saja terpesona dengan frasa kata. Cuba renungkan secara utuh lirik lagu tersebut, dan baca berulang-ulang. Lagu "Sebelum Cahaya" hanya sebuah lagu yang berkisah cinta-cinta-an.

Jika memang itu sebuah dzikir, sangat lancang sekali Letto menulis di bait terakhir lagunya, "ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri."

Hmm, kayaknya ente emang lagi jatuh cinta... hehehe

hoek mengatakan...

met sore kawand!
orang purwokerto yah? wah, salam kenal yak !
saia juga orang purwokerto ini

sori ya OOT, soale ga ada buku tamu segh>.<

wah, saia senank sangadh ketemu blogger purwokerto, hohoho

Yon's Revolta. mengatakan...

yusuf caesar @ tepat. sedang jatuh cinta. dan ini bahaya bagiku.

hoek @ ya, sayah blogger paling tampan se purwokerto :-p ho ho ho

Anonim mengatakan...

Menurutku ada sebuah "frasa lain" yang lebih berkesan daripada "Sebelum Cahaya".

Luz

its me mengatakan...

KU tak akan pergi meninggalkanmu sendiri.

KU = siapa ? saya yakin bukan penyanyinya yang dimaksud KU.

;-)
karena ada yang janji ga akan meninggalkan manusia.

sum1 mengatakan...

lagu itu buat pacarnya noe..kata 'cinta' yg diucapkan dalam lagu itu panggilan untuk pacarnya.tapi lagi2..terserah kalian mau mengartikan apa buat kalian sendiri :D

sum1 mengatakan...

lagu itu buat pacarnya noe..kata 'cinta' yg diucapkan dalam lagu itu panggilan untuk pacarnya.tapi lagi2..terserah kalian mau mengartikan apa buat kalian sendiri :D

sum1 mengatakan...

lagu itu buat pacarnya noe..kata 'cinta' yg diucapkan dalam lagu itu panggilan untuk pacarnya.tapi lagi2..terserah kalian mau mengartikan apa buat kalian sendiri :D

pipit mengatakan...

Bismillah...nanti saya tulis sesuatu tentang lagu yang sangat 'bijaksana' ini.

Saya suka lagu cinta, tapi yang satu ini memang beda. Ada energi yang dialirkan lewat kedalaman jiwa. Seperti teman yang memandu jalan kedewasaan. wallahu'alam.

aysha mengatakan...

ni postingan gue buat nambah tafsiran versi lain...sebenare kata mas sabrang ga da yang salah dalam menafsirkan lagunya karena setiap kata yang ada dalm liriknya mempunyai sayap2 yg bisa diartikan siapa aja berdasarkan kedalaman makna orang yang menafsirkan atau ilmu yg dimiliki..bisa dicek di lettolink.com (situs letto)
dari verisqa:
Mengerti Cahaya dan Cinta
October 18, 2007 at 9:00 pm · Filed under cendikia, cinta

Ehem ehem.. sebelum mulai, mohon dimaafkan jika terdapat personifikasi terhadap Tuhan yang tidak dapat disamakan dengan makhlukNya.. ini murni interpretasi saya.. mungkin bisa dinilai secara objektif terimakasih..

———————————————————

Letto - Sebelum Cahaya

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

(*) ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkah engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

(*)

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

(*)

———————————————————

Bagus yah? apalagi kalau mendengar suara sang vokalis, yaitu Noe yang suaranya menghanyutkan dan begitu jernih *halah*

Kenapa tiba2 saya tertarik dengan lagu ini? disamping lagu ini merupakan lagu sinetron baru yang sedang gencar dipromosikan di salah satu stasiun televisi swasta yang sangat produktif dengan sinetron2 berjudul 1 kata, saya mendengar wawancara Letto di salah satu infotainment di stasiun yang sama mengenai band - band Indonesia yang meluncurkan album rohani. Kurang lebih wawancaranya seperti ini:

i (infotainment): mas Noe, kenapa Letto ga buat album rohani?

N (Noe): kenapa harus buat?

i: kan lagi happening mas, bulan puasa gitu..

N: Mas, kenapa harus dipisahkan antara lagu rohani dan lagu tidak rohani? berarti kami sekuler donk kalo begitu? bagi kami lagu itu punya penafsiran masing2, dan tidak perlu dipisah - pisahkan antara rohani dan non rohani.

i: …

–end of interview–

Nah! setelah mendengar pernyataan itu, saya jadi tergoda untuk menelisik lagu - lagunya Letto, terutama si lagu baru ini.. dan ternyata benar apa yang dikatakan mas Noe. Lagu - lagunya bisa diinterpretasikan secara luas, bisa untuk kekasih, bisa untuk Tuhan.. atau seperti kekasih yang menyanyikan atau …

Ups.. mulai sensitif nih.. habis bagaimana.. ketika mendengar dan membaca liriknya rasanya seperti sedang membaca surat Ad Dhuha.. terutama ayat 3 yang diterjemahkan

Tuhan-mu tiada meninggalkanmu dan tiada pula membencimu.

yang saya rasa tersirat dalam bait ini

ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri..

lalu bait ini

embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya

yang -walaupun memaksa- saya rasa terinspirasi dari Ad Dhuha ayat 1

Demi waktu matahari sepenggahalan naik

Dan bait lain yang tidak secara tersirat maupun tersurat menunjukkan ayat - ayat dari surat Ad Dhuha, atmosfer yang saya rasakan dari lagu ini benar - benar mengingatkan saya kepada surat ke 93 Al Quran tersebut.

Mungkin hal ini disebabkan oleh cara pandang saya tentang Tuhan yang agak romantis -idealis tetapi sulit untuk dipraktikan (nah inilah kenapa cowo dianggap tidak romantis oleh cewe hihihi), atau imaginatif dan berhasrat- yang menyebabkan saya punya kebiasaan mem-personifikasi-kan kasih sayang Tuhan seperti layaknya kasih sayang seorang kekasih, karena justru lebih terasa dan mengena di hati -menurut saya…(bisa dilihat di posting kategori cinta, yang sarat akan romantisme spiritual saya)

Jadi.. Maafkan saya yang masih perlu banyak belajar ini ya.. tidak ada maksud jahat ataupun syirik.. karena cinta itu kreatif, banyak cara untuk mengungkapkannya

*agak takut dihujat*

Comments (4)

SELAMAT IDUL FITRI 1428 H
October 12, 2007 at 6:29 pm · Filed under cinta

Waah, akhirnya kita sampai ke penguhujung Ramadhan..

Sekarang waktunya untuk menyambut kemenangan dengan hati yang ikhlas dan tekad untuk tetap memperbaiki diri..

Tiada yang sia - sia dimata Allah, jika kita berniat hanya untukNya..

Rindu ini akan makin indah, apabila diperkenankan untuk bertemu kembali, dengan bulan nan suci..

Dan kemenangan ini akan makin bermakna, jika kita saling memaafkan.. untuk kembali ke fitrah..

Maafkan aku ya

http://verisqa.wordpress.com/

atau versi tafsiran atas lagu ruang rindu berhubung yang nafsirin anak fisika jadi unik juga lho tafsirannya
Holistic view to the Equilibrium state


Ruang Rindu, Letto



Di daun yang ikut mengalir lembut, terbawa sungai ke ujung mata

Dan aku mulai takut terbawa cinta, menghirup rindu yang sesakkan dada

Jalanku hampa dan ku sentuh dia, terasa hangat di dalam hati

Kupegang erat dan kuhalangi waktu, tak urung jua ku lihatnya pergi

……

Tak pernah kuragu dan selalu kuingat, kerlingan matamu dan sentuhan hangat

Ku saat itu takut mencari makna, tumbuhkan rasa yang sesakkan dada

(*) Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya

Mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu


Apa yang saya rasakan saat pertama kali lagu ini masuk menyentuh gendang telinga saya, kemudian merambat melalui saraf dan diinterpretasi oleh otak saya?. Lantas diaduk dengan perasaan, segala kesadaran dan ketidaksadaran yang merujuk pada pengalaman? tidak ada! kesannya hanya seperti lagu-lagu pop-melo secara umum dan tidak memiliki kelebihan. Malah saya menganggap beberapa nadanya sangat mirip dengan sebuah lagu barat yang, waduh!!saya lupa judulnya ama nama penyanyinya maaf.. J


Tapi kemudian lagu itu terdengar lagi secara kebetulan dan entah kenapa (terkait dengan proses kesadaran dan ketidaksadaran yang saya sebutkan diatas) makin lama kedengaran semakin syahdu. Di lain waktu saya berusaha untuk mendengarkan lagi dan rasa nikmatnya semakin bertambah sehingga saya putuskan untuk men-download lagu ini dan memindahkannya ke komputer saya. Tidak cukup dengan itu maka saya berusaha untuk mencari lirik lagunya dengan benar dan ketika menghayati kentara sekali bahwa liriknya mirip-mirip puisi, sangat indah, detail dan berkelas (dibandingkan lirik lagu pop-pop yang lain). Lihat saja makna kias yang digunakan kata demi-kata dalam kalimatnya dan persajakannya yang dominan disetiap baris demi baris. Dan kedua unsur itu digabung secara utuh menjadi sebuah lirik lagu yang indah, merangsang imaginasi dan pikiran (hanya saja saya kecewa ketika melihat video klipnya, sangat jauh melenceng dari perkiraan saya karena tidak sinkron dengan lirik lagunya. Saya kira video klipnya bakalan seperti video klipnya Padi, mahadewi yang eksotis dan estetis, hanya saja didominasi oleh warna-warna hijau, krem dan sedikit merah kecoklat-coklatan)


Apakah saya terlalu berlebihan dalam memuji lirik lagu ini? bisa saja karena mungkin beberapa kalimat dari lirik lagu ini ada yang beririsan dengan pengalaman pribadi, bersifat emosional. Akan tetapai sewaktu berkuliah Fisika kuantum tadi pagi (14 februari 2007) ada interpretasi lain yang saya dapatkan dari judul lagu ini ruang rindu. Mungkin saya terlalu gegabah mengungkapkannya dan banyak orang yang faham akan mencak-mencak ketika membaca ini. Tapi tak apa saya anggap sebagai intermeso saja.


Dalam bahasa fisika, ruang itu lebih dinyatakan sebagai jarak dan dinyatakan sebagai metrik dalam bahasa matematika. Mungkin dalam pemikiran kita sehari-hari ruang adalah sesuatu yang bersifat 3 dimensi, memiliki volume seperti kamar kita, ruang kelas, ruang baca, dan sebagainya. Akan tetapi secara umum dalam fisika, ruang dinyatakan sebagai jarak seperti yang sudah saya katakan tadi. Bisa saja sebuah garis ataupun permukaan datar (1 dimensi dan 2 dimensi) dikatakan sebagai ruang. Jadi dalam mengartikan defenisi dari ,ruang rindu lagunya letto ini maka akan lebih tepat jika kata ruang disini diartikan sebagai jarak dan ketika ditambahkan dengan kata rindu dibelakangnya maka secara keseluruhan ia akan berarti rindu yang timbul akibat adanya jarak diantara dua orang manusia. Tentu saja ini adalah bikin-bikinan saya saja. saya akan biasa saja jika anda protes dengan kesimpulan saya ini tapi saya akan sangat senang jika anda tertawa membaca ini.


http://carokann.blogspot.com/2007/02/ruang-rindu-letto.html

Anonim mengatakan...

Sebelum ini saya tidak begitu peduli siapa letto, noe dan siapa bapaknya Noe. Tapi saya merasa memang ada yang aneh dan lain dari lagu2 Letto tsb, semacam lagu cinta tapi tidak pada unsur duniawi, yang membangkitkan kerinduan pada Sang Khaliq. Setelah saya baca ttg spiritual Jurney-nya EMHA.... oh... pantassss.. terjawab sudah keanehan selama ini, dan aku memahaminya. Thanks Letto, lanjutkan terus karya geniusmu...