Gumam Tentang Persahabatan

Gumam Tentang Persahabatan
Oleh
Yon’s Revolta


Persahabatan sangat diperlukan dalam hidup,
Karena tanpa sahabat hidup terasa hambar
Walaupun kita memiliki kekayaan dan kemasyuran

(Aristoteles)

Lelaki tua itu bercerita….

Saya hanya manggut-manggut mendengarnya. Tak enak menyelanya. Mencoba untuk mendengar dengan seksama pelajaran dan pengalaman dari massa lalu. Seperti biasanya, massa lalu memang memunculkan romantika. Mendengarnya, merangsang pikiran untuk melayang ke dunia lampau. Seperti lelaki tua itu, begitu antusias menceritakan karir perjuangannya di massa muda. Massa dimana perjuangan fisik masih menjadi bagian dalam kehidupan kesehariannya. Berjuang mengokang senjata. Bau-membahu mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Lelaki tua itu, adalah bagian dari ratusan, bahkan ribuan pejuang yang dulu pernah merasakan peperangan demi sebuah kata, kemerdekaan.

Namun, massa itu telah berlalu. Tubuhnya kini telah renta dimakan usia, kulit telah keriput, suara tak lagi lantang, gerak tak lagi gesit. Teman-teman seperjuangan dulu banyak yang telah meninggal dunia. Lelaki tua itu, kini hidup dalam kesendirian. Tak ada teman lagi untuk berbagi. Kesepian. Sahabat-sahabat yang dulu membersamainya kini tak ada lagi. Disaat seperti itu, kehadiran seseorang untuk berbagi cerita nampaknya memang perlu teradakan untuk mengusir rasa sepi, raya sunyi sendiri. Dalam kondisi yang demikian, persahabatan adalah sebuah dunia yang indah.

Kisah lelaki tua itu, hanya sekelumit untuk mengantarkan kita membincang soal persahabatan lebih dalam lagi. Dimana, persahabatan adalah urusan sisi kemanusian, urusan jiwa, menelusup ruang-ruang personal dan psikologis manusia. Ia hadir dalam kerangka menjadikan dunia berprospek menjadi indah bagi yang bisa memaknainya. Ini asiknya. Hanya, pun bisa juga menjadi bumerang, menjadikan hidup terasa getir kalau salah langkah dalam memaknainya. Apalagi, kalau ada penghianatan.

Mengapa tiba-tiba saya ngomong soal persahabatan.

Tak ada motif spesial yang mendorong saya membincangkannya. Hanya saja, karena saya memandang soal persahabatan ini universal, umum adanya. Terasakan oleh siapa saja. Anak-anak, generasi muda, bahkan orang tua. Tidak seorang petani, tukang becak, pekerja kantor, pelajar, bahkan presiden sekalipun tentu pernah bersangkutan soal persahabatan ini. Tentu dengan kadar dan kesan yang berbeda-beda. Yang pasti persahabatan itu pasti akan hadir dalam hidup kita. Malang, orang yang hidup tanpa persahabatan.

Jujur, saya juga pernah merasakan seperti yang dirasakan lelaki tua itu. Sepi, merasa sendiri. Tak ada tempat berbagi. Kini, kembali saya serasa diingatkan tentang hakikat dari sebuah persahabatan. Kalau lelaki tua itu, mungkin wajar karena memang sudah jarang sahabatnya yang hidup. Tapi, pasti beda dengan kita. Masih banyak wajah-wajah hadir dalam hidup kita. Termasuk di dunia maya. Tengoklah, berapa jumlah kontak dalam situs friendster, blog atau multiply kita. Apakah mereka benar-benar ada. Benar-benar hadir. Ataukah, memang semata-mata hanya ada dalam kontak kita. Ada yang hakikatnya semu adanya. Ternyata, memang benar adanya, persahabatan itu bukan dihitung atas jumlah dan banyaknya kontak. Tapi, sejauhmana kualitasnya.

***

Hari ini, kita sama-sama belajar tentang persahabatan. Prinsip terbaik, tentu kita ada, kita hadir tak hanya ketika seseorang senang, bahagia, punya jabatan, atau sedang berada dalam puncak. Namun, ketika seseorang sedang jatuh, sedang terpuruk, sedang butuh tempat berbagi untuk memberikan alternatif solusi atas problem hidupnya, kita pun hadir. Begitulah, kesejatian dari persahabatan. Dari sini, kita lantas bisa belajar tentang apa yang dinamakan sosok oportunis. Yang terpikirkan melulu hanya bagaimana bisa merasakan kelebihan yang dipunya orang lain. Padahal, yang mulia, justru sejauhmana kita bisa membuat orang tersenyum dengan hadirnya kita. Tanyakan dalam setiap hati kita, tentu akan menjawab jujur, kita termasuk yang mana..?

Rumah Kelana, 19 Juli 2007 / 14.29

0 Response to "Gumam Tentang Persahabatan"