Pesantren Inspirasi

Pesantren Inspirasi
Oleh
Yon’s Revolta

Di suatu siang, udara diluar cukup panas. Tapi, badanku terasa sejuk di ruangan sebuah warnet yang ber AC. Yah sesejuk hatiku saat itu. Perkakas teknologi, pesan instan lewat YM kunyalakan. Fiuh…, banyak juga yang sedang memperlihatkan wajah mayanya, warna kuning nampak, kemungkinan mereka juga sedang berbincang dengan manusia-manusia maya lainnya. Ah, teknologi memang membuat interaksi manusia semakin dekat saja.

Belum lama saya menyusuri dunia maya, seseorang yang mengaku “Zidangaksukabola” mengundang saya untuk ikut conference. Sejauh ini, saya tak tahu siapa dia sebenarnya. Waktu itu membahas tentang khilafah, wow, persoalan yang berat. Sebenarnya saya tertarik diskusi mengenai hal itu. Tapi karena lebih banyak bercandanya, saya jadi malas mengikutinya. Beberapa waktu berselang, muncul nama Gugun El-Guyani. Sepertinya, saya sering baca nama ini di media. Saya ingat-ingat sebentar. Ya, tak salah lagi, aktivis lembaga Kutub Jogjakarta yang sering menulis resensi buku. Sayangnya dia hanya nongol sebentar, selebihnya saya banyak ngobrol dengan Budi Prasetyo, aktivis Kutub juga.

Dari dialah saya banyak berbincang tentang keberadaan lembaga Kutub. Lembaga ini bernaung dibawah payung pondok pesantren Hasyim Asyari pimpinan Zaenal Arifin Toha (alm), lelaki yang dikenal sebagai salah seorang budayawan Jogjakarta. Berdiri tahun 2003. Santri yang aktif memang belum banyak, sekitar 57 orang, sebagian besar tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, UGM dan El-Rahma. Kajian-kajian keIslamannya dimulai dari jam 5 sore sampai setelah isya.

Lantas, apa yang membedakan pondok pesantren ini dengan yang lainnya. Sepanjang informasi yang saya dapat, fokus pendidikan dalam pesantren ini terutama ditekankan pada sisi kemandirian dan kepenulisan. Santri yang mondok harus bisa bertahan hidup di Jogjakarta tanpa kiriman orang tua, dengan syarat tersebut otomatis memacu mereka untuk bisa mandiri mencari uang demi kelangsungan hidupnya. Selain itu, penekanan pada tradisi menulis sepertinya juga serius digerakkan. Terbukti, karya-karya mereka banyak menghiasai media massa, baik dalam bentuk resensi buku maupun artikel-artikel lepas. Itulah sekelumit tentang keberadaan pondok pesantren Hasyim Asyari dengan lembaga Kutubnya.

Hem...

Bagi saya ini menarik.

Sebuah pilihan gerak yang tepat. Memang begitulah semestinya. Anak-anak muda sejak dini dilatih untuk bisa mandiri, bukanya terus-terusan menjadi “benalu” bagi kedua orang tuanya. Entah, kemandirian model apa yang kini sedang diterapkan disana. Hanya, barangkali menulis sendiri juga bagian dari kemandirian itu. Misal, dua atau tiga kali saja tulisan mereka dimuat di media massa, cukuplah untuk bisa hidup dalam sebulan. Memang, untuk bisa menembus media butuh sebuah proses panjang dan proses inilah yang sampai detik ini terus mereka jalani. Salut.

Entah, resep apa yang membuat karya anak-anak Kutub bertaburan dimedia massa. Hanya saya kira, kultur ikut mempengaruhi. Saya yakin mereka punya budaya baca dan diskusi yang kuat. Saling berbagi informasi dan keterampilan seputar kepenulisan. Dari pengalaman mereka, saya bertambah yakin bahwa komunitas itu penting. Hidup dalam komunitas sesuai dengan hoby dan minat kita akan bisa membantu sebuah impian karier yang ingin dikembangkan.

Lewat lembaga Kutub ini, saya belajar tentang arti kemandirian dan tradisi kepenulisan. Saya menyadari bahwa saat ini kerap masih menjadi “benalu” dan kurang prigel dalam dunia tulis menulis. Dengan tidak bermaksud menyanjung berlebihan, jujur, lembaga ini merupakan pesantren inspirasi dan bisa menjadi contoh tumbuhnya ragam pesantren yang spesifik. Dan, diam-diam, dalam hati kecil saya bergumam pelan, kapan saya bisa bertemu secara langsung dengan anak-anak muda cerdas dan mandiri pegiat lembaga Kutub ini.

4 Responses to "Pesantren Inspirasi"

pyuriko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
pyuriko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
pyur mengatakan...

main kesini yaaa :D

MnX mengatakan...

ipunk dah sembuh? ^_^

hehehe...