Sendiri Dalam Kesunyian

Sendiri Dalam Kesunyian
oleh
~Yon’s Revolta~

Di dalam istana sunyi
Aku memikul badai
memetik gerimis
Menggenggam impian

~istana sunyi-yr~

Dan..usia melebihi 25 tahun sudah. Tak terasa, waktu berlalu begitu saja. Bayang saat kecil, lalu beranjak remaja masih membekas dalam diri. Bercanda dengan kawan-kawan sepermainan, tanpa beban, kadang melakukan kekonyolan-kekonyolan yang berlebihan. Tahu sesuatu salah, tapi tetap saja melanggar, bukan karena apa-apa, hanya karena merayakan dunia remaja yang penuh tantangan. Resiko diterjang. Hem…benar-benar kenangan tersendiri.

Dan..keremajaan berlalu kini.

Pelan, belajar menjadi manusia dewasa. Saya baru menyadari bahwa sejarah mesti terukir. Bukan untuk dikenangkan sebagai seorang pahlawan. Tapi, hanya sekedar belajar untuk memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Dengan segenap kemampuan yang terbatas. Dengan itikad dalam hati kecil, demi sebuah perubahan menuju kepada kebaikan. Pada diri, keluarga, masyarakat sekitar atau bahkan negara. Inginnya begitu.

Ah… masih seperti air mengalir…

Rupanya, inilah yang terjadi pada diri saya. Menyusuri lorong kehidupan dengan apa adanya, berjalan begitu saja, masih mencari dan terus mencari. Proses pencarian jati diri ternyata panjang juga. Menemukan tentang siapa diri ini, untuk apa harus hidup di dunia dan apa yang bisa diberikan untuk kehidupan. Perenungan demi perenungan terlalui sudah. Menyepi sendiri ketempat yang sunyi, kadang menjadi pelarian untuk mendapatkan suasana yang dimaui hati.

Disaat demikian, pertanyaan paling yang sulit terjawab adalah “ Kapan kamu menikah ?”
Serasa mati kutu, tak berkutik. Tak mampu menjawabnya.

Ya, pertanyaan semacam ini hanya bisa saya jawab dengan senyuman,
dan ternyata inilah jurus ampuh untuk mengunci pembicaraan.
Mungkin, karena saya memang terlambat untuk memikirkan masalah itu.

Saya masih asik dalam kesendirian, sendiri dalam kesunyian…
Asyik dengan novel-novel bagus dan setumpuk buku.

Kadang, saya berkelakar dengan pertanyaan itu “ Ah, menikah itu sama halnya dengan menulis buku, hanya soal waktu”. Begitu saya menjawabnya. Yah, apa mau dikata, saya harus pandai ngeles. Walau diam-diam juga mempersiapkan diri untuk menikah. Bukan untuk mencari istri. Tapi tepatnya mencari sosok ibu yang bijaksana untuk anak-anak saya kelak.

Saya menyadari, dibelaham bumi sana, jiwa-jiwa gundah menunggu untuk disapa. Tapi apa boleh buat, rasa-rasanya semangat saja tak cukup. Kematangan dan kedewasaan secara ruhiyah, komunikasi dengan orang tua, kecukupan finasial, haruslah berjalan seiring. Untuk sementara, biarlah jalan kesabaran kulalui. Tak perlu terburu dan tergesa karena akan buruk pada akhirnya. Sambil, tetap mendekat pada Allah SWT agar diberikan cahaya terang untuk sebuah cita-cita peradaban dari sebuah keluarga yang bervisi Islami.

Biarkan saat ini saya menikmati kesendirian dulu.
Mewujudkan satu persatu obsesi dan impian
Ada saatnya kelak, menuju kesana
Saya percaya, kesabaran akan manis akhirnya…

Snow Man Alone
PWT, 13-Maret-07

4 Responses to "Sendiri Dalam Kesunyian"

pyuriko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
tentng_kita mengatakan...

Mudah2an ALLAH SWT punya rencana yg bagus utk kamu, mas. Insya-ALLAH, segala cita n cinta akan termakbul juga meski perlahan tapi pasti kok. All the best ('',)

Fa mengatakan...

Mas Yon, sebenernya udah punya buku yg diterbitin blom? klo udha punya, aku pasti deh mau beli, soalnya aku diam2 suka sama gaya tulisan Mas Yon yg mengalir begitu saja, shg aku nggak perlu mengernyitkan alis sedikitpun utk dapat memahaminya. Klo belum punya, wah, andai aku punya penerbitan pasti udah aku terbitin deh *kumat-ngayalnya*

ramon mengatakan...

Aku sendiri karna dalam hatiku mengatakan kalo sendiri itu bukan berarti lemah n hampa,begitu pula orang memandang kita.
maap teman ku semua..q tlah salah ama kalian yang begitu menjauh tanpa sebab,gak tau kenapa perasaanku ingin menyendiri.
mungkin karna aku cinta sama seseorang yang slama ini aku tunggu,tapi aku gak isa ungkapin nya.
terasa hatiku terbebani,aku gak mau semua temanku merasakan apa yang kurasakan.aku ingin merasakan sendiri,entah itu suka maupun duka.
aku mencintai dia dari dulu,tapi biarlah.semua ini aku pasrahkan padamu tuhan...waktu yang berputar sekaligus mempertemukan.
aku kan setia untukmu..sampe detik terakhir,