Filosofi Seorang Blogger










*Makalah Sebagai bahan obrolan di Kamar Buku, Kamis, 18 Januari 2007.

Filosofi Seorang Blogger

:: Yon’s Revolta

"Kekuatan ilmu terletak pada bagaimana kita berbagi"

Alkisah seorang pangeran bernama Narciscus sangat mengagumi ketampanannya. Sang pangeran suka berlama-lama di sebuah telaga. Pada suatu ketika, dia melihat bayangan wajah tampannya di telaga itu. Menangislah ia, kemudian menyadari tentang kekuatan yang maha dasyat dibalik ketampanannya.

Berawal dari kisah itulah muncul kata narcis yang kini akrab ditelinga kita, khususnya para blogger. Dalam perkembangannya, narcis diartikan terlalu membanggakan diri sendiri, terlalu percaya diri yang berlebihan. Suka menampakkan sisi yang dirasa menonjol kepada orang lain.

Padahal kalau kita mau mencermati kisah Narciscus, kita akan menyadari setiap apa yang kita kerjakan. Menyadari bahwa manusia hanyalah sebutir pasir di padang gurun. Kecil sekali. Kesombongan, apalah artinya. Bagi yang ingin atau sudah bergelut di dunia blogging.Jika kita mau berpikir dan merenung sejenak. Kita akan merasakan hal semacam ini. Kita akan selalu dihinggapi pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai aktivitas blogging kita.

Bagi saya, aktivitas blogging adalah perjalanan menemukan jiwa saya yang sebenarnya, jiwa yang pernah hilang. Dengan menuliskan perasaan-perasaan yang ada dalam hati dan pikiran saya. Kelak, akan menemukan kesejatian atas diri. Harapannya, kita benar-benar bisa menjadi seorang manusia yang sebenarnya. Bukan hanya seonggok tubuh, tapi sebenarnya jiwanya adalah binatang. Oh...

Blog, memang hanya sekedar media. Sebuah kreativitas manusia dalam masyarakat modern. Dulu, orang biasa menuliskan catatan-catatan hariannya lewat buku (diary). Sifatnya rahasia, tak boleh diketahui oleh orang lain. Bahkan kadang ada orang yang marah ketika tahu buku hariannya dibaca orang lain.

Tapi, dengan blog, catatan harian itu terbuka bagi siapa saja, setiap orang boleh membacanya, bahkan mengomentarinya. Inilah perkembangan peradaban manusia karena sentuhan teknologi. Blog menjadi media alternatif orang berbagi cerita, informasi dan pengalaman. Dilihat dari sisi ini, blog menjadi sebuah media yang perlu diapresiasi keberadaannya. Terserah orang mau menggunakannya atau tidak.

Bagi saya, blog adalah media untuk berbagi ilmu. Saya baru "serius" blogging di bulan maret 2006. Lewat blog, saya menuliskan catatan-catatan penggugah jiwa, kisah-kisah yang menyentuh hati. Rupanya, tulisan-tulisan sederhana semacam ini banyak yang suka membacanya. Setidaknya, ada beberapa yang lantas mengirim saya e-mail atau SMS mengomentarinya.

Entah, apakah ini akibat semakin kerasnya hidup sehingga banyak orang yang perlu sentuhan jiwa. Saya kurang tahu. Yang pasti sampai saat ini saya masih terus menulis kisah-kisah "Orang-Orang Terkenang". Pahlawan-pahlawan dari orang-orang biasa yang saya temui.

Cerita-cerita ini yang kemudian beberapa di antaranya terpublikasikan di rubrik "Oase Iman" dan kotasantri.com. Lewat media lain, milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com bahkan kini beberapa cerita yang ada di dalam blog saya, bersama-sama beberapa teman yang lain diterbitkan menjadi buku.

Sampai saat ini, sudah masuk proses buku yang ketiga. Yang terpikirkan ketika saya menulis di blog adalah semangat berbagi ilmu, dalam hal ini adalah ilmu tentang kemanusiaan, agar manusia kembali menemukan sisi otensitas yang barangkali telah hilang ditengah kehidupan yang serba materialistis dan hedonis ini. Di sana, di samping saya berusaha menyentuh jiwa pembaca, tak terkecuali sisi jiwa saya sendiri juga otomatis ikut berproses untuk menemukan hakikat kesejatian manusia. Hubungannya dengan alam, sesama, maupun kepada Tuhannya.

Blog, adalah rumah kita di dunia maya. Jiwa kita di dunia maya. Seperti layaknya dalam kehidupan keseharian, sudah selayaknya kita juga perlu saling berkunjung, menyapa tetangga-tetangga kita agar lebih akrab. Dan juga, kita bisa belajar tentang kehidupan bersama tetangga-tetangga kita itu. Begitulah, kehidupan di dunia blogging tak ubahnya hubungan kita, interaksi kita di dunia nyata. Di sana kejujuran dan keramahan tetap berlangsung. Jika ada yang mencoba tidak jujur, misalnya meng-copypaste tulisan orang lain kemudian dianggap karya sendiri, percayalah, kredibilitas seorang blogger dipertanyakan. Moralitasnya diragukan. Maka, alangkah lebih baik jika kita menulis atas dasar kemampuan diri sendiri. Walaupun singkat dan sederhana, itu akan lebih dihargai di dunia blogging dibanding sekedar copypaste.

Dari aktivitas blogging itu, kemudian saya menyadari ada yang kurang. Kok "hanya" kisah-kisah sederhana saja. Makanya, kemudian saya membuat blog baru. Yah, anggaplah media ini sebagai tanggungjawab intelektual karena pernah belajar Jurnalistik di Kampus. Semangatnya tetap "Berbagi Ilmu". Menulis esei-esei singkat tentang fenomena media.

Dan kini, proses terus berlangsung. Yang pasti, blog hanyalah media. Tak bijak jika terlalu mendewakannya. Blog itu gratis dan gampang membuatnya. Yang sulit adalah merawatnya.

Nah, mulai sekarang bersiaplah untuk konsinsten menulis. Kata Anis Matta

"Jangan Pikirkan Apa yang akan Kamu Tulis,

tapi Tulislah apa yang Ada dalam Pikiranmu".

9 Responses to "Filosofi Seorang Blogger"

Iman Brotoseno mengatakan...

ya..penting menulis, syukur syukur bisa memberi pecerahan pada orang lain..

Hajar mengatakan...

hhmm...setuju..

Yon's Revolta mengatakan...

Buat om Iman, bos, ajari bikin skenario dong :-)

Yon's Revolta mengatakan...

buat hajar, link blognya kok gak keliatan yah..?

pyuriko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Yon's Revolta mengatakan...

freewriting dulu, masalah edit itu belakangan :-)

Awan Diga Aristo mengatakan...

assalamu'alaikum wr wb...

salam kenal.
o iya, sekalian koreksi tentang narcissus. setau saya, kisah narcissus itu legendanya bukan "Pada suatu ketika, dia melihat bayangan wajah tampannya di telaga itu. Menangislah ia, kemudian menyadari tentang kekuatan yang maha dasyat dibalik ketampanannya."

yang saya baca, narcissus itu sangat suka melihat ke sebuah telaga, karena suka melihat bayangannya sendiri. mengagumi wajahnya sendiri. suatu ketika, saking sukanya, ia ingin mencium bayangannya sendiri itu. ia jatuh dan tenggelam di telaga itu.

mungkin beda referensi ya? :p

MANUSIASUPER mengatakan...

benar kata pak awan di atas saya, narcissus jatuh karena terlalu mengagumi pantulan dirinya di telaga.

Tapi, terlepas dari itu, filosofinya keren!

living silence mengatakan...

menulis itu obat yang menyembuhkan :)