Kecil Tapi Penting

Beberapa hari yang lalu saya menjadi relawan untuk membantu korban gempa tsunami di sepanjang pantai Cilacap. Dengan menumpang mobil bak terbuka saya berangkat kesana. Berangkat dari kost kira-kira jam setengah sembilan malam, sampai ke lokasi pengungsian kira-kira jam setengah sebelas malam. Masyallah, sudah banyak sekali pengungsi disana. Mereka tidur di perbukitan Selok. Hanya beralaskan tikar seadanya, beberapa keluarga bahkan belum kebagian tenda. Mereka terpaksa lari ke perbukitan itu untuk menghindari gempa susulan yang mungkin terjadi lagi. Melihat pemandangan itu, saya baru sadar, kok saya jarang bersyukur ya ketika masih bisa enak-enakkan tidur di ranjang empuk.

Saya tertegun sebentar merasakan betapa tidak enaknya ketika harus menjadi pengungsi seperti mereka. Tapi kemudian saya sadar, kehadiran saya disana bukan untuk sekedar menjadi pengamat, tetapi datang untuk bekerja membantu korban sebisanya. Lantas, setelah berkenalan (taaruf) sebentar dengan relawan lain yang sudah lebih dulu datang, kerja relawan saya pun dimulai.

Pekerjaan pertama saya membantu memasang alat komunikasi untuk memudahkan koordinasi antar relawan, maklum jarak pengungsi dari posko memanjang sampai jauh, dari yang paling dekat sampai ke pucuk perbukitan dimana untuk sampai kesana membutuhkan waktu agak lama kalau berjalan kaki. Dalam kondisi seperti itu, alat komunikasi menjadi penting. Dan beres, alat komunikasi sudah terpasang.

Karena sudah cukup larut malam, tak ada pekerjaan lagi yang harus dikerjakan, saya dan beberapa teman lainya pun beristirahat. Tapi tiba-tiba ada komando dari dapur umum “kita butuh garam, ada yang bisa mencarikan?”. Karena saya belum sempat tidur, relawan yang bertugas di dapur umum melirik saya. “boleh lah, kita cari malam ini juga” pikirku.

Bersama seorang pegawai kecamatan, kami berkeliling mencari garam. Sesuatu yang kecil dan sering terlupa, tapi penting adanya. Apa jadinya ketika masakan tanpa dibumbui dengan garam. Walaupun masak daging, kalau tanpa garam pastilah hambar terasa. Sesuatu yang kecil itu terlupa, kalau untuk bahan makanan seperti beras, mie instan, bahan untuk sayur, lauk, semuanya mencukupi, yang kurang itu tadi, garam. Makan perburuan garam pun dimulai.

Karena kami mencarinya malam hari, tentu agak susah juga karena kita harus turun keperbukitan, pergi ke kota untuk mencarinya, malam begini mana ada warung atau toko yang masih buka. Tapi alhamdulillah, untungnya, pak Ari, pegawai kecamatan yang juga jadi relawan itu mempunyai kerabat. Kebetulan ada saudaranya yang akan melangsungkan pernikahan, tapi karena terjadi bencana tsunami kemudian ditunda. Nah, dari keluarga itulah kami memperoleh garam dan juga beberapa bahan lainya seperti tomat, merica, cabai dan sayuran. Setelah dapat, kami kembali ke pengungsian dan langsung menyerahkan barang itu ke dapur umum, beres. Jam sudah menunjukan sekitar pukul tiga seperempat, terlelap dalam mimpi.

Paginya, sehabis sholat subuh, saya dan relawan lainya bertugas untuk membungkus makanan dan mendistribusikannya ke pengungsi yang mencapai lima ribuan. Lagi-lagi saya merasakan betapa pentingnya sesuatu yang kecil tapi terlupa untuk mempelajarinya. Ya, membungkus makanan. Saya belum bisa membungkus makanan. Saya sudah berusaha mencoba, tetap belum bisa, kalau dipaksakan sih bisa tapi bentuk bungkusannya sangat jelek dan tidak rapi. Maka saya memilih untuk membantu memasukan nasi dan sayur saja, biar yang lain membungkusnya. Maklum, relawan yang akhwat (putri) hanya sedikit. Untung banyak ikhwan (laki-laki) yang bisa membungkus makanan, jadi manakan itu bisa cepat di distribusikan untuk para pengungsi.

Dari sepanggal cerita di lokasi bencana ini, saya sedikit memetik hikmah bahwa sesuatu yang kecil dan sering terlupa kadang justru menjadi penting. Dalam kehidupan keseharian kita sebenarnya juga begitu. Di perjalanan misalnya, membawa kantong plastik kresek kadang berguna kalau-kalu ada penumpang yang mabuk perjalanan, ini hanya sekedar contoh saja. Nah, bagi Anda yang membaca goresan sederhana ini, yakinlah… mempelajari dan memikirkan hal-hal yang sering dianggap sepele kadang justru bermanfaat. Untuk itulah, belajar bukan hanya untuk masalah-masalah yang besar saja. Hal-hal kecil juga perlu kita pelajari asalkan kita yakin ada manfaatnya kelak.

...

selamat belajar ya, dengan senyum tentunya dan bersemangatlah !.

1 Response to "Kecil Tapi Penting"

EPRI mengatakan...

Terimakasih sdh main ke blog saya, dan salam kenal untuk Anda.
Blabak ke atas sedikit...? Sawangan ya?
Domisili di mana...?
BTW, boleh dong saya di link :)