Ketika Cinta Tiba


Doakanlah aku di sholat malamu
Rembulan di langit hatiku

(Seismic)

Saat ini usia saya sudah menginjak umur 23 tahun. Sebagai seorang laki-laki, tentu saja sudah harus bersiap-siap untuk menyongsong kehidupan baru menuju mahligai pernikahan. Sebuah fase kehidupan yang menurut cerita teman-teman begitu indah dan mengasyikkan. Dan kini, “provokasi” kearah pernikahan itu begitu gencar dihembuskan oleh teman-teman saya. Saya menghargainya, tapi saya tetap punya rencana tersendiri kapan waktunya.

Jangan ditanya, apakah saya tidak ingin cepat-cepat menikah. Terus terang, saya ingin menyegerakannya karena itulah jalan untuk menggenapkan separuh dien. Dan saya yakin, para lelaki aktivis dakwah lainnya juga berpikiran begitu, tak jauh beda dengan saya. Siapa yang tidak ingin segera berjihad, berkarya dan berdakwah bersama belahan hatinya.

Kadang, ada yang meledek “Kapan kamu menikah”. Ketika mendapati pertanyaan semacam ini, saya hanya tersenyum saja. Rumusnya begitu. Tak perlu ditanggapi berlebihan, apalagi dengan rasa amarah. Tak ada gunanya. Lebih baik, pendam diam-diam dalam hati, sambil serius untuk melangkahkan kakinya menuju pernikahan itu. Kalau memang sudah siap, itulah saatnya “Ucapkan Cinta”.

Tapi, bagaimana ketika cinta itu datang tiba-tiba dan kita belum siap (ini berlaku untuk para lelaki). Kalau belum siap untuk menikah, sangat rawan kalau kita ucapkan cinta. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan kalau harus menunggu dalam penantian.

Tapi, saya pernah membaca kisah nyata. Kisahnya tentang seorang lelaki yang mengaku aktivis dakwah. Dia telah mengucapkan cinta kepada seorang perempuan yang juga aktivis dakwah. Dan berniat ingin menikahinya, tapi tidak dalam waktu dekat sebab sang lelaki harus menyelesaikan studi S2nya terlebih dahulu. Hasilnya, tersiksalah hati yang perempuan itu dalam penantian.

Nah, dalam hal ini, saya hanya ingin berbagi cerita kepada para lelaki seumuran saya. Jujur saja, saat ini saya juga menaruh cinta kepada seorang perempuan sholihah yang baik, pintar dan tak mudah marah. Tapi, untuk sementara biarlah saya mencintainya sekedarnya saja. Saya yakin, kalau memang dia jodoh, tak akan kemana. Tapi, kalau dia keduluan diperistri oleh orang lain. Yah, kalaupun ada airmata, biarlah sebentar saja, setelahnya berdoa agar Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Sobat. Yang terpenting bagi kita saat ini adalah berbuat yang terbaik untuk diri dan lingkungan sekitar kita. Jangan ucapkan cinta kalau kita belum siap. Lebih baik, menyibukkan diri dulu dengan aktivitas yang bermanfaat sekaligus menyiapkan bekal yang cukup untuk menyambut “bidadari itu”. Kalau saatnya sudah tepat, baru ucapkan cinta. Percayalah, dengan cara seperti ini, insyallah kita akan bisa meraih impian-impian kita.

Jangan terlena dengan bayangan-bayangan yang masih semu. Sekarang saatnya kita berbuat yang terbaik, dan bekerja maksimal sepanjang yang kita bisa. Insyallah, ketika kita serius dalam menjalani hidup dengan niat suci. Insyallah, Allah SWT akan memberikan yang terbaik pula kepada hambanya. Mengenai siapa jodoh kita, hal itu tak begitu penting. Yang terpenting adalah visi yang sama, karena itulah yang akan menyatukan dua insan menuju karya-karya besar dan kelanggengan hidup

Kemudian, bagi para perempuan sholehah, bersabarlah. Karena kesabaran terbukti membuahkan hasil yang tidak disangka-sangka. Kalau memang tak kuasa menahan kesabaran. Contohlah Khatijah, dengan begitu, Insyallah akan manis akhirnya. (Yon's Revolta)

11 Responses to "Ketika Cinta Tiba"

Dian Sakura mengatakan...

Subhananallah...
Semoga saya ternasuk orang yang sabar itu ya, Akh!
Terima kasih. Tulisan Anda telah menyadarkan saya bahwa kita hanya bertugas menjalani peran.
Saat ini saya berteman akrab dengan seseorang. Baru saja kami saling kenal karena terlibat dalam satu pekerjaan. Ia orang yang menarik. Astaghfirullah.
Seandainya saja ya, Akh, saya bisa atau lebih tepatnya berani mengambil peran sebagai Khadijah...
Apapun,. jazakallah ya, Akh, atas tulisannya, semoga sukses bersama ridla-Nya senantiasa bersama langkah Anda. Amin.

Dianika
dear-sakura.blogspot.com

Dian Sakura mengatakan...

Subhananallah...
Semoga saya ternasuk orang yang sabar itu ya, Akh!
Terima kasih. Tulisan Anda telah menyadarkan saya bahwa kita hanya bertugas menjalani peran.
Saat ini saya berteman akrab dengan seseorang. Baru saja kami saling kenal karena terlibat dalam satu pekerjaan. Ia orang yang menarik. Astaghfirullah.
Seandainya saja ya, Akh, saya bisa atau lebih tepatnya berani mengambil peran sebagai Khadijah...
Apapun,. jazakallah ya, Akh, atas tulisannya, semoga sukses bersama ridla-Nya senantiasa bersama langkah Anda. Amin.

Dianika
dear-sakura.blogspot.com

Yon's Revolta mengatakan...

Ya, semoga mimpimu bisa tercapai.
Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik.....

Yon's Revolta mengatakan...

Ya, semoga mimpimu bisa tercapai.
Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik.....

Yon's Revolta mengatakan...

Ya, semoga mimpimu bisa tercapai.
Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik.....

tentng_kita mengatakan...

Bismillah.. (Semoga nggak akan ada yg salah pencet)

Speechless. That's all i can said. Semoga cita & cintamu senantiasa berada dlm lingkungan yang ESA dan jangan pernah membiarkan seorang muslimah itu menunggumu terlalu lama.


Syukur amat deh, g ada yg salah pencet \('')/

wulan mengatakan...

ayo...pasang shoutbox donk...biar aku bisa teriak - teriak....hehehehe... makasih dah mampir.....makasih juga sudah kasih semangat...jadi semangat ni....AYO SEMANGAT!!!!

Yon's Revolta mengatakan...

Buat tentang_kita..wah bahasa Indonesia kamu udah lumayan bagus lho ^_^

Yon's Revolta mengatakan...

Buat Wulan, oke dech ^_^

pipitpadi mengatakan...

awalnya msuk blog ini iseng iseng aja duh ternyata bagus sekali isinya apalagi ini. jujur merasa tersindir tapi bagus... mantap.. makasih ya tulisannya menyegarkan

Anonim mengatakan...

awalnya... tau blog ini dari milis KAMMI, iseng pengen tau..ternyata..subhanallah..bikin spechless..
thanks for the inspiration


syamil_alislam@yahoo.com